Erotomania (1)

Erotomania (1)

Kedua netranya mengerjap, rona bahagia tampak terpancar dari pipi merah itu. Lengkung manis terlukis indah di bibir ranum yang tak pernah henti mengembang.

Layar gawai di hadapannya seolah telah menghipnotis gadis tinggi semampai berambut panjang itu. Tak mau beranjak dari tepi ranjang yang belum sempat dibereskan sejak pagi tadi.

“Yumna, ayo sarapan dulu, nasi gorengnya sudah dingin, Nak.”

Sebuah panggilan dari balik pintu kamar membuat gadis itu beranjak. Ia melangkah mendekati pintu dan membukanya. Tampak sosok perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik itu berdiri dengan senyuman lebar.

“Maaf ya, Bun, tadi aku tidak segera turun,” ucap gadis berlesung pipi itu seraya menampilkan deretan gigi putihnya.

Sang bunda hanya menjawil hidung putri satu-satunya itu, lalu memberikan kode dengan gerakan kepala untuk mengajak putrinya turun.

Yumna Azzalia, gadis dua puluh satu tahun itu segera manggandeng lengan sang bunda, dan mereka pun turun bersama untuk menikmati sarapan.

Dalam keseharian Yumna dan bunda, mereka hanya tinggal berdua. Ardi Wiguna, sang ayah, telah pergi untuk selamanya.

Bunda yang membuka usaha konveksi telah berhasil mengantarkan Yumna hingga meraih gelar sarjana. Kehidupan mereka cukup mapan, semua itu tak terlepas dari perjuangan bunda untuk bangkit dari keterpurukan sepeninggal suami.

Ardi Wiguna adalah pengusaha garmen yang sukses, akan tetapi karena hutang bank yang menumpuk, aset yang mereka miliki harus dijual satu per satu, hingga habis tak bersisa.

Bunda tak patah semangat, ia memulai semua dari awal. Membuka jasa menjahit merupakan awal usaha yang bunda tekuni, hingga ia bisa membuka konveksi sendiri.

Keberhasilan bunda tak terlepas dari peran Yumna. Anak satu-satunya itu merupakan penyemangat hidup bunda. Maka tak heran Yumna pun menjadi terpacu untuk bisa menjadi yang terbaik. Ia selalu berhasil menjadi juara di sekolah.

Kecerdasan Yumna bahkan berlanjut hingga ke jenjang kuliah. Suatu kebanggaan bagi bunda memiliki putri seperti Yumna. Cantik, cerdas, penurut dan ceria.

Meskipun bunda tak pernah tahu siapa lelaki yang dekat dengan Yumna selama ini, tapi bunda sangat berharap, putrinya itu bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang mencintai setulus hati.

“Sayang, kamu sudah dewasa sekarang. Kamu tidak tertarik untuk punya pacar, Nak?”

Yumna yang tengah bersantai di depan televisi sembari menikmati acara yang cukup membosankan itu, melirik ke arah bunda yang duduk tak jauh darinya.

Yumna hanya menanggapi dengan seulas senyum. Bunda mengernyitkan dahi, heran dengan tanggapan dari anak gadisnya itu.

“Kenapa hanya tersenyum?”

Yumna kembali menatap bunda, garis tipis itu masih terlukis di bibir merah mudanya.

“Bunda jangan khawatir, nanti pasti aku akan membawa pacarku untuk menemui Bunda,” ucap Yumna mampu membuat bunda ternganga tak percaya.

“Jadi kamu sudah punya pacar, Sayang?”

Yumna mengangguk pasti.

“Siapa namanya? Di mana kerjanya?”

Yumna mengerlingkan mata.

“Namanya Malik Afattar Ibrahim, dia anak tunggal pemilik perusahaan tempatku berkerja, Bun.”

Bunda terdiam. Ia seolah tak percaya putrinya menjalin hubungan dengan putra tunggal seorang konglomerat.

Baru sebulan yang lalu putrinya bekerja di perusahaan Ibrahim Textile Corporation, akankah secepat itu ia dan sang putra tunggal pemilik perusahaan saling jatuh cinta dan menjalin hubungan?

Bunda tampak berpikir keras. Mungkin saja hal itu terjadi, jodoh tak ada yang tahu. Ia harus meyakinkan diri sendiri dan melihat kebenarannya nanti.

“Sudah ya, Bun, Yumna mau masuk kamar dulu,” ucap Yumna tak melanjutkan lagi pembicaraan yang begitu banyak pertanyaan yang ingin bunda tanyakan pada putri semata wayangnya itu.

Tanpa menunggu jawaban bunda, Yumna segera berlalu menuju kamarnya. Meninggalkan bunda yang masih termenung sendiri.

Sejak Yumna mendapatkan pekerjaan sebagai fashion designer di salah satu perusahaan ternama, kesehariannya mulai berubah. Ia lebih bersemangat bekerja, terlihat lebih bahagia dan lebih banyak menghabiskan sebagian waktu di kamar selepas pulang dari kantor.

Wajar memang, melihat pekerjaan Yumna sebagai perancang pakaian untuk sebuah perusahaan besar, tentu merupakan cita-cita yang selama ini diinginkannya. Sang bunda memahami keadaan itu.

Namun jika perubahannya itu karena ia sudah menjalin hubungan dengan seseorang, bunda harus mengetahui lebih jauh. Benarkah putra tunggal pemilik perusahaan tempat Yumna bekerja itu telah jatuh cinta pada putrinya?

**

“Yumna menderita Erotomania, yaitu salah satu gangguan delusi di mana ia merasa yakin dicintai oleh orang lain.”

Penjelasan dokter Azhar telah mampu meruntuhkan pertahanan bunda, yang selama ini begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam dada tentang siapa lelaki yang tengah dekat dengan putrinya itu.

“Maksud dokter, anak saya berhalusinasi?”

“Mudah diartikan begitu, Bu. Namun halusinasi ini lebih spesifik lagi.”

“Bagaimana hal itu bisa terjadi pada putri saya, Dok?”

“Belum diketahui penyebab pasti bagaimana Erotomania ini bisa terjadi pada seseorang. Bisa karena faktor psikologis, lingkungan atau obsesi berlebihan terhadap impian memiliki pasangan hidup.”

“Pantas saja, selama ini Yumna selalu bercerita banyak tentang pacarnya itu. Ia meyakinkan saya bahwa ia begitu dicintai lelaki itu, bahkan mereka berencana akan menikah. Namun setiap saya ingin bertemu dengan pacarnya itu, Yumna selalu saja menghindar. Hingga akhirnya saya curiga dan menanyakan langsung pada salah satu karyawan yang berkerja di perusahaannya. Dan ternyata, lelaki yang sering diceritakan Yumna itu tidak ada.”

Bunda menangis tersedu seraya menelungkupkan kedua tangan di wajahnya.

“Ibu harus bersabar menghadapi masalah ini. Dengan jalan terapi, saya yakin Yumna bisa disembuhkan.”

“Bagaimana caranya saya mengajak Yumna untuk melakukan terapi, Dok?”

“Ajak Yumna berkomunikasi. Biarkan ia tahu kalau selama ini ia hanya berhalusinasi tentang pacarnya itu, jika ia tak terima itu wajar. Respon dari para penderita Erotomania pasti akan menolak kebenaran yang terjadi. Ibu harus bisa meyakinkan Yumna untuk mau melakukan psikioterapi.”

Bunda mengembuskan napas kasar. Begitu berat rasanya beban yang harus ia terima, melihat kenyataan sang putri harus menderita gangguan psikologi seperti itu. Namun ia tak boleh putus asa. Yumna harus mendapatkan pengobatan dari ahlinya.

rumahmediagrup/bungamonintja

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.