Merindumu dalam Diam (1)

Merindumu dalam Diam (1)

Pada suatu ketika
Saat malam temaram berselimutkan sepi
Menanti di sudut-sudut kaki
Dalam semilir angin berembus
Berkawankan kabut
Menghirup aromanya, memenuhi rongga
Terhempas perlahan

Pun saat bintang gemintang menjadi candu
Mengusik kebosanan dengan secangkir kopi yang mengepul panas
Sendiri
Meretas sunyi bersama waktu yang berjalan lambat
Menghitung angka
Berharap segera berlalu

Juga kala hujan menyapa
Bau petrikor menguar, menyeruak menggelitik
Aku masih berteman hening
Memaju mundurkan ingatan tentang masa lalu yang tertinggal di belakang, yang kisahnya masih terkenang
Tentang masa depan penuh mimpi
Tetap sendiri

Aku adalah masa di mana malam datang, kerlip cahaya nun jauh di atas sana, serta waktu hujan tiba, datang menjadi satu
Jangan bertanya kenapa semua itu bisa bersama?
Karena mimpi, yang tak semua orang bisa membayangkannya

Merindukanmu adalah semu
Bayangan yang jatuh di bawah sinar bulan pun hanyalah kegelapan
Bagaimana aku bisa lupa wajah yang selama berpuluh-puluh purnama melengkapi
Pergi dengan membawa harapan tentang masa depan
Hilang tanpa kepastian

Aku sendiri, berteman kegelisahan
Apakah cinta akan menemukan jalan kembali pulang?
Ataukah ia akan menghilang bersama bias cahaya, yang kian memudar dari potret yang membingkai di hatiku?

**

Aku berjalan dalam diamnya hati, yang selama ini tertahan dari semua rasa sabar. Mencoba sekuat mungkin melihat kenyataan yang hendak kusaksikan di depan. Setelah sekian purnama kugenggam sendiri rasa. Menemuinya dalam situasi yang berbeda.

Kuhentikan langkah kala melihat wajah yang selama ini kurindu. Ingin rasanya segera menghambur dalam pelukan hangat yang telah lama tak kurasa. Akankah ia masih merasa yang sama?

Dua tahun tanpa kabar berita. Menunggu dalam ketidakpastian. Menahan rindu yang kian membuncah. Kini akhirnya masa yang dinanti tiba. Aku menemukan jejaknya di tempat yang tak pernah kusangka. Dalam kondisi yang tak lagi sama.

“Rio ada di Berlin, Jerman, Van.” Begitu yang dikatakan Bram, sahabat Rio, ketika aku mendesaknya untuk mengatakan keberadaan Rio.

Aku lega.

“Namun ada satu hal yang harus kau tahu, Van ….”

Aku tertegun. Berharap tak ada hal yang mengkhawatirkan.

“Rio mengalami kecelakaan. Kejadiannya hampir dua tahun lalu. Ia kehilangan kedua kakinya. Itulah sebabnya, Rio memilih untuk tidak memberi kabar padamu. Meninggalkanmu tanpa kepastian, agar kau bisa membenci sekaligus melupakannya.”

Aku terkejut, tak percaya. Terduduk lesu membayangkan apa yang terjadi terhadap Rio, dan aku tak ada di sana untuk mendampinginya. Tetesan air sudah menganak sungai, mengalir di pipiku.

“Kenapa dia melakukan itu? Apa dia pikir cintaku hanya sebatas melihat kesempurnaannya? Apa aku terlihat seperti kekasih yang tega meninggalkan, saat ia dalam masa tersulit?”

“Aku mohon, maafkanlah Rio, Van. Dia hanya menginginkan kebahagiaanmu. Dia ingin kau bisa melupakannya.”

“Katakan padaku, di mana aku bisa menemuinya?”

Di sinilah aku sekarang. Di tempat Rio biasa menghabiskan waktu, bersama dengan anak-anak penyandang disabilitas lainnya.

Aku berhenti tepat di belakang lelaki yang selama ini kurindu. Air mata yang sudah sejak pertama melihatnya tertahan, perlahan merembes dari kedua celah netraku. Aku tak bisa membendung rasa yang dua tahun ini kupendam dengan penuh tanya. Aku benar-benar rindu.

Anak lelaki yang tengah bicara dengan Rio melihatku. Merasa ada orang di belakang punggungnya, Rio pun memutar kursi roda, dan kini kami di hadapkan pada situasi canggung. Ia menatapku tak percaya. Dengan wajah tegang, ia masih bergeming.

Kulangkahkan kaki semakin mendekat ke arahnya. Hanya jarak tiga langkah saja, aku berhenti. Kusapu basah di pipi, menata perasaan yang tak menentu dalam hati.

“Di sana aku menunggu, berharap kau memberi kepastian. Kau pikir aku akan meninggalkan di saat tahu keadaanmu seperti ini? Tak percayakah kau dengan cintaku, yang tak memandang kesempurnaanmu?”

Rio tertunduk dalam bisu. Tak menanggapi ucapanku selama beberapa saat. Kami terdiam dalam keheningan di suasana senja yang mulai menyapa.

“Kau datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menanyakan itu?”

“Ya, aku ingin mendengar jawaban langsung dari mulutmu sendiri,” teriakku menahan emosi.

Rio tertawa.

“Sekali lagi kau lihat baik-baik kedaanku sekarang. Kau pikir akan bisa bahagia, hidup bersama lelaki yang sudah tak punya kaki sepertiku ini?”

“Kau memang sudah tak punya kaki, tapi kau tak kehilangan hati, Kak.”

“Apa yang diharapkan dari lelaki sepertiku, Vania?”

“Tak ada yang berubah dengan harapan yang pernah kita ucapkan dulu, Kak. Kau saja yang sudah pesimis dengan keadaan yang menimpamu.”

“Aku hanya ingin kau bahagia.”

“Kebahagiaanku adalah dirimu.”

“Kau bisa bahagia dengan lelaki sempurna di luar sana.”

“Kau pikir bahagia bisa dicari semudah itu, dengan mencari lelaki lain yang sempurna, apa bisa menjamin kebahagiaanku?”

“Tentu bisa, Vania.”

“Kau sudah banyak berubah sekarang, Kak.”

“Keadaan yang sudah merubahku. Itu sebabnya kau berhak bahagia dengan tidak bersamaku, karena aku khawatir, kau akan menyesal nanti.”

“Aku pikir kau masih menjadi lelakiku yang optimis, dan selalu punya semangat akan masa depan.”

“Maaf, Vania, sekarang kau sudah mendengar langsung jawaban dariku. Kau bisa pergi dan merelakan cinta kita berakhir sampai di sini.”

“Cintaku sudah kandas sejak kau memutuskan untuk melepasnya, Kak. Aku saja yang terlalu berharap menunggumu. Namun kau sudah memutuskan, aku sudah lega sekarang. Merindumu hanyalah satu alasan memantapkan hati untuk keputusan hari ini. Terima kasih telah mengajarkanku arti sebuah kesetiaan, sekaligus kekecewaan.”

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.