Merindumu dalam Diam (2)

Merindumu dalam Diam (2)

Aku tak perlu mendengar lagi tanggapannya. Segera berbalik arah, melangkahkan kaki menjauh darinya adalah sebuah keputusan yang tepat. Untuk apa mempertahankan hubungan yang sudah tak bisa diperjuangkan lagi.

Cinta saja takkan cukup melandasi suatu ikatan, jika di dalamnya hanya ada onak dan duri yang diciptakan sendiri. Keyakinan bukan hanya tentang arti saling setia dan pengertian, akan tetapi bagaimana kita percaya jika cinta itu memang patut diperjuangkan, apa pun kondisi yang menimpa, cinta milik semua orang.

Apa jadinya jika cinta tak memiliki landasan pada umumnya, rasa saling percaya? Hal itu dimulai dengan mempercayai diri sendiri. Karena dengan begitu, akan bisa menyelami rasa sebuah jalinan, meski rintangan menghadang, cobaan menerpa bak badai memporak-porandakan jiwa.

Menjelma laksana raga, tertutup kabut gelap di tengah hujan. Mengungsi dari kenestapaan yang melanda. Ingin lari, tapi tak mampu melangkah. Meninggalkan sama dengan merelakan. Ikhlaskah hati menerima? Ataukah justru kembali berjuang? Bukan semata mempertahankan harga diri, tapi demi sebuah jalinan kasih yang telah pergi.

Betapa pun tangguhnya tak ingin meluluhkan hati, tapi cinta akan menemukan jalannya pulang. Selalu ada cara untuk kembali. Meski takkan mudah meraih yang tengah tercabik duri. Tak ada kata lelah berusaha. Mendapatkan cintanya lagi.

**

Aku terhenyak melihat sosok di depanku yang tengah saat ini. Lelaki yang bayangannya ingin kuenyahkan dari pikiran, yang nama dan semua kenangan tentangnya, ingin terkikis perlahan, agar luka tak begitu kurasa.

“Boleh aku masuk?”

Aku memberi jalan, ia masuk perlahan dengan kursi rodanya. Aku mengikuti dengan penuh tanya. Apa yang membuat lelaki itu datang ke rumahku?

Rio menuju halaman belakang yang ditumbuhi berbagai bunga anggrek dan aster, bunga kesukaanku. Ia tampak menghirup napas panjang, lalu membuang perlahan. Aku hanya menunggunya bicara.

“Taman ini masih sama seperti dua tahun lalu ya?” gumamnya menerawang.

“Tak ada yang berubah di sini,” ucapku tersenyum sinis.

“Termasuk hatimu?”

Aku terdiam.

“Aku telah begitu dalam menyakitimu, maaf,” sesal Rio seraya menatapku.

“Sudah lama aku memaafkanmu, Kak.”

“Maaf untuk semua yang telah terjadi, Van.”

“Apa maksud semua ini?”

“Aku berharap masih punya kesempatan untuk bisa bersahabat denganmu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin kita masih tetap bisa berhubungan baik, Van. Meski kita sudah tak bisa lagi bersama.”

“Apa yang kau cari dari hubungan kita nantinya?”

Rio terdiam.

“Jika hubungan kita hanya akan menciptakan luka, lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing saja,” lanjutku tegas.

“Berikan aku kesempatan berada di sisimu, dan mencipta kenangan manis bersamamu,” ujar Rio lirih.

“Untuk apa?”

“Karena aku ingin di sisa hidupku bisa menikmati bahagia bersamamu.”

“Kau bicara seperti itu, seperti akan pergi selamanya.”

Rio tersenyum.

“Anggap saja seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Lupakan, sekarang maukah kau menjadi sahabatku, Vania?”

Rio menjulurkan tangannya. Aku tak punya alasan untuk menolak. Bagaimana pun ia pernah menjadi lelaki istimewa dalam hidupku. Tak mungkin aku menghancurkan harapan untuk menjalin kembali hubungan, meski hanya sebatas persahabatan. Aku menerima tawarannya.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.