Puisi Challenge di 13 menit

Sebenarnya ketika ada pengumuman Challenge Cipta Puisi dengan tema “Jiwa”, saya dalam keadaan pusing. Melihat waktu deadline-nya pukul 9 malam. Jadi masih ada waktu untuk nanti mencipta.

Bagiku untuk pencipta adalah menyuarakan seluruh kegelisahan yang ada di dalam jiwa. Kadang tidak perlu berpanjang-panjang kalimat.

Dengan jadwal acara yang begitu padat di sore hari, sepertinya tidak sanggup untuk mengikuti challenge cipta puisi tersebut. Meski sebenarnya saya ingin mengikutinya, bukan untuk mendapatkan hadiahnya, tetapi ingin menjadi bagian dari menorehkan sejarah perpuisian di Indonesia melalui acara ini.

Setelah shalat isya’ rasa pusing ini belum juga hilang dan kepala terasa begitu berat. Saya dengan kondisi semacam ini dan melihat deadline pukul 21.00, membuat saya hanya punya sedikit harapan untuk ikut. Saya pun tidur dan terbangun pukul 20.56. Itu hari Selasa.

Teringat kembali dengan tantangan cipta puisi jiwa. Saya mencoba membuka HP dan mulai menulis. Ketika menulis pada kalimat pertama, terlintas dalam pikiran mana mungkin waktu yang hanya 4 menit bisa mencipta sebuah puisi, tapi pikiran itu segera saya halau. Saya tetap menulis dan lahirlah puisi berikut.

https://rumahmediagrup.com/2020/07/07/kembali-2/

Kubaca ulang kuperbaiki typo-typo dan segera di upload di website Rumedia, tepatnya pukul 21.09. Kemudian saya tinggal tidur lagi. Waktu upload di website sudah 9 menit melebihi deadline yang diberikan, pikir saya waktu itu. Semoga diterima itu doa yang tersisa.

Ini adalah bagian dari tanggung jawab untuk menjadi tauladan bagi anak buah saya, guru-guru yang harus di motivasi dengan sebuah contoh. Mengingat sebuah tindakan perubahan tidak cukup hanya diberi perintah, tetapi akan lebih baik jika diberikan contoh untuk diteladani. Saya sebagai pimpinan wajib memberikan contoh tersebut dalam bentuk menjadi bagian dari literasi yang menjadi program kemajuan sekolah tempat kerja saya SD Negeri jogoyudan 02 Lumajang.

Esok harinya, Rabu pukul 21.30 baru bisa buka grup lagi. Dan melihat hasil karya teman-teman peserta challenge cipta puisi jiwa. Tulisan yang bagus-bagus. Namun saya merasa heran mengapa teman-teman baru hari Rabu upload karyanya ya!? Karena penasaran saya mencoba scroll ke atas melihat pengumuman tantangan dari Mas Ilham. Saya terkejut ketika membaca bahwa deadline adalah hari Rabu pukul 21.00.

Ternyata deadline-nya bukan Selasa pukul 21.00. Namun sudah terlambat naskah sudah dicipta dan hanya itu yang muncul di pikiran saya dalam waktu 13 menit, yang bahkan saya mengira saya meng-upload sudah terlambat, karena sudah pukul 21 lebih 9 menit. Kelebihan 9 menit.

Hahaha…. Ini memang bawaan orang pusing, membaca juga tidak teliti. Biarlah puisi 13 menit ini menampilkan energi seadanya. Itulah jiwa yang sedang dirasa. Meski untuk membuat puisi sebaiknya ada jeda waktu untuk mengoreksi. Adakah kata-kata yang perlu di perbaiki atau di ganti dengan diksi yang tepat.

Pada saat pengumuman diluncurkan, Saya tidak menyangka mas Ilham Afafa memasukkan saya di 15 nominator. Subhanallah walhamdulillah, Saya bersyukur telah diberikan apresiasi yang baik terhadap puisi di 13 menit saya untuk bisa satu buku dengan beliau, pemenang challenge ini dan 15 nominator hebat yang lain.

Selamat ya teman-teman:
5 Pemenang hadiah 1 eks buku adalah:

  1. “Perjalanan Jiwa” karya Hamni Azmi, mendapatkan 1 eks buku Ketika Jiwa Lahir Kembali
  2. “Menjaga jiwa” karya Re Reynilda, mendapat 1 eks buku 50 Sajak Jiwa
  3. “Ingin Kembali” karya Sinur, mendapatkan 1 eks buku Ketika Jiwa Lahir Kembali
  4. “Jiwa yang Tangguh” karya Mae Maemunah, mendapatkan 1 eks buku 50 Sajak Jiwa
  5. “Jiwa Penuh Bunga” karya Suratmi Supriyadi, mendapatkan 1 eks buku Ketika Jiwa Lahir Kembali

Ini adalah Kenangan di 13 Menit. Ini menunjukkan bahwa angka 13 bukan angka sial, karena saya yakini dari kata-kata seorang ulama besar Imam Al Ghazali yang mengatakan, “Jika kamu bukan anak seorang raja, bukan juga anak seorang ulama besar maka menulislah” Maka, jika kita sudah tiada, yang tetap hidup dan mengisi jiwa orang lain adalah tulisan kita. Kalimat ini cukup menguatkan jiwa-jiwa yang menganggap sebelah mata terhadap manfaat dari sebuah literasi baca tulis.

Seorang guru wajib mencoba berkarya cipta tulis sebelum dia memberikan tugas baca tulis kepada siswa-siswinya. Ini adalah bagian dari tanggung jawab profesi. Maka meski dalam keadaan apapun kondisi kita, semaksimal mungkin mencoba untuk menyelesaikan tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.