Televisi

TELEVISI

Televisi. Hanya kata itu yang ada dalam pikiranku saat ini. Aku belum bisa memberikan apa yang diinginkan adik semata wayangku. Sudah lama dia menginginkan sebuah televisi.

Di rumah kami memang tak pernah ada media hiburan apa pun sejak kami kecil. Ada pun radio yang pernah almarhum bapak temukan di tong sampah, hanya menghiasi meja usang yang ada di rumah kecil kami.

Namun aku bingung, bagaimana caranya agar aku bisa membelikan adikku televisi, sementara untuk makan sehari-hari saja aku harus pontang-panting mencari ke sana kemari dengan berjualan koran di pinggir jalan.

Terkadang aku pun mengamen bila koran sudah habis terjual. Semua itu aku lakukan untuk bisa  menghidupi aku dan adikku satu-satunya.

Yaa Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sangat menyayangi adikku, tak mau terjadi apa-apa padanya jika permintaan itu tak dikabulkan.

Pernah suatu ketika, adikku menginginkan mainan kuda-kudaan yang dijual di pasar, sedangkan saat itu aku tak memiliki cukup uang untuk membelikan apa yang diinginkannya. Aku pun tak membelikannya.

Dia memang berhenti merengek, tapi setelah aku pulang dari berjualan koran, bi Warsih, tetanggaku bilang kalau Lia, adikku masuk rumah sakit.

Aku terkejut setengah mati. Bi Warsih mengatakan kalau Lia meminum obat sakit kepala yang kubeli di warung, lebih dari satu tablet, sehingga dia keracunan dan harus dibawa ke rumah sakit.

Saat kulihat tubuh itu tergolek lemah tak berdaya, hatiku miris. Untung nyawa Lia bisa tertolong. Saat kutanyakaan kenapa ia meminum obat sebanyak itu, ia mengatakan ingin segera sembuh agar ia bisa mencari uang untuk membeli mainan kuda-kudaan yang diinginkannya.

Aku terharu, manangis. Hatiku begitu sakit. Ternyata tujuannya meminum obat itu hanya untuk sembuh.

Aku berjanji padanya akan membelikan mainan kuda-kudaan, asalkan ia pun mau berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

Lia hanya mengangguk, dan esoknya, dengan hasil pinjaman dari teman-temanku, aku bisa membelikan kuda-kudaan. Lia pun sangat senang. Aku bahagia melihat ia bahagia.

Mental adikku memang terbelakang. Umurnya sudah sepuluh tahun, tapi sifatnya masih seperti anak umur tiga tahun. Berbeda dengan anak-anak lain yang seusia dengannya dan sudah bisa hidup mandiri.

Segala apa yang diminta harus selalu dituruti. Bila tidak, sudah pasti dia bisa marah dan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan. Maka dari itu aku mencoba untuk memenuhi segala kebutuhannya. Aku rela berkorban demi adik semata wayangku.

Orang tuaku sudah meninggal saat aku masih berumur tujuh tahun. Bapak meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia korban tabrak lari. Nyawanya tak bisa tertolong saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

Sedangkan emak, meninggal karena sakit radang paru-paru setahun setelah kepergian bapak. Karena kendala biaya, sehingga tak bisa berobat ke rumah sakit, akhirnya emak mengembuskan napas terakhir di rumah. Saat itu usia adikku masih dua tahun.

Di usia yang masih kecil, aku harus bisa menghidupi kami berdua. Tak ada yang mau menampung kami kala itu. Rasanya aku juga ingin mati saja menyusul emak dan bapak, tapi saat kulihat Lia, hatiku luruh.

Dengan lapang dada aku mencoba menerima kenyataan. Aku harus bertahan demi Lia karena dialah keluargaku satu-satunya sekarang, dan aku sangat menyayanginya.

Ketika Lia mengungkapkan keinginannya untuk memiliki televisi sendiri di rumah, aku pun kelimpungan.

Bagaimana caranya agar aku bisa membelikan Lia televisi? Butuh berapa lama aku harus menabung untuk bisa membeli televisi?

Kadang bisa makan sehari saja aku sudah sangat bersyukur. Namun aku harus berjuang lebih keras untuk memenuhi keinginan Lia. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi padanya.

Aku bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak uang. Selain berjualan koran dan mengamen di jalan, kusempatkan waktu untuk menjadi kuli angkut di pasar.

Senja hari aku baru bisa sampai di rumah. Untungnya ada bi Warsih yang dengan rela hati menolong untuk ikut menjaga Lia selama aku bekerja.

Bi Warsih adalah janda tanpa anak. Suaminya meninggal dunia saat tengah mencari ikan di laut. Jasad suaminya tak pernah ditemukan. Hilang bersama gulungan ombak yang di telan luasnya lautan.

Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh cuci pakaian cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. Terkadang bila ada rezeki lebih, bi Warsih membelikan kami makanan. Bagiku bi Warsih sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.

**

“Lia makan dulu ya,” kataku sambil membujuk Lia yang mulai rewel dan tak bisa tenang.

Bi Warsih bilang seharian ini Lia tak mau makan. Dia meracau tak tentu. Terdengar jelas yang dikatakannya hanya televisi. Bi Warsih sampai kewalahan. Maka dari itu ia cepat-cepat menyusulku ke pasar sore tadi.

“Lia enggak mau makan, Lia mau dibeliin TV,” teriaknya meronta-ronta.

Tangan Lia terkepal kuat. Aku berusaha untuk menenangkan. Kubelai kepalanya dengan sayang.

“Lia Sayang, nanti Kakak akan belikan TV, kalau Lia mau makan,” bujukku mencoba meyakinkannya.

“Iya, tapi kapan Kakak belikan Lia TV? Lia mau TVnya sekarang.”

“Sabar ya, Sayang, Kakak belum cukup uang untuk membelikan Lia TV.”

“Kakak bohong sama Lia.”

“Kakak enggak bohong sama Lia. Kakak janji akan membelikan TV, tapi Lia harus sabar, karena Kakak harus mengumpulkan uang dulu. Sekarang Lia berdoa agar Kakak bisa segera mendapatkan uang yang banyak.”

“Kakak janji enggak akan lama ‘kan?”

“Akan Kakak usahakan secepatnya membelikan Lia TV, tapi Lia harus mau nurut sama Kakak.”

Setelah berkata begitu Lia mulai tenang. Sikapnya sudah mulai biasa. Bahkan ia mau disuapi makan tanpa memasang wajah sedihnya.

Aku senang dengan perubahan itu. Sikapnya yang labil mengharuskanku selalu banyak bersabar menghadapi Lia.

**

Aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Mencari uang di jalan bersama anak-anak lainnya. Sementara Lia, aku percayakan pada bi Warsih.

Aku harus lebih giat lagi mencari tambahan. Uang yang sudah aku kumpulkan masih jauh untuk membeli sebuah televisi.

Langkah kakiku gontai menuju jalan raya. Sudah terlihat dari kejauhan teman-teman di seberang sana. Mereka berebut mendapatkan pelanggan untuk membeli barang dagangannya.

Aku terharu. Nasib mereka hampir sama sepertiku. Berjuang demi mendapatkan sesuap nasi.

Bedanya, sebagian dari mereka ada yang masih memiliki orang tua. Berbeda denganku. Aku harus berjuang sendirian untuk menghidupi hidupku dan Lia.

Aku mulai menjajakkan koran yang kubawa. Beberapa teman menyambutku riang.

“Ayo Mita…,” teriak teman-temanku hampir bersamaan. Aku tersenyum menghampiri mereka.

Kami berbicara sejenak, kemudian berpisah ke arah yang berbeda untuk mulai menjajakkan dagangan kami.

Beberapa saat lamanya, saat lampu merah tiba, aku dan teman-temanku mengais rezeki di terik sinar matahari yang hanya menjadi saksi kelelahan kami.

Setelah  lampu kembali hijau, kami pun menepi. Beberapa temanku mulai menghitung hasil dagangannya, ada pula sebagian yang lain hanya termenung karena belum mendapatkan uang.

Aku ikut menghitung hasil berjualan koran yang kudapat, tepat di samping temanku, Nina, yang juga tengah menghitung hasil jualan minuman ringannya.

“Apa kau dapat banyak hari ini, Mita?” tanya Nina sembari menoleh ke arahku.

“Lumayan,” jawabku sambil memasukan uang receh kedalam kantong bekas bungkus permen, lalu memasukannya ke saku celanaku.

“Aku juga dapat lumayan pagi ini, bisa untuk membeli ayam goreng kesukaanku,” ucapnya sambil tertawa.

Nina lebih beruntung dariku. Dia anak tunggal. Sang ibu sudah lama meninggal sejak ia masih kecil, tapi ayahnya yang seorang pemulung mampu memenuhi kehidupan mereka berdua.

Bahkan di rumah Nina pun ada televisi, meski bukan baru dan ukurannya hanya 21 inchi, tapi gambar dan suara masih bisa terlihat jelas. Adikku terkadang menonton televisi di rumah Nina saat kami tidak sedang bekerja.

Namun beberapa hari terakhir ini, kesibukanku mencari lebih banyak uang, membuat Lia hampir tak pernah lagi menonton televisi di sana.

Sesekali bila bi Warsih tidak sedang bekerja, ia bisa mengantarkan Lia untuk menonton di sana. Itulah kenapa Lia merengek minta dibelikan televisi. Karena ia tidak bisa leluasa menonton acara televisi kesukaannya.

Saat aku dan Nina tengah asyik bercanda sambil menunggu lampu merah menyala, tiba-tiba pandanganku dikejutkan oleh seorang anak laki-laki yang menyeberang jalan, tapi tak jauh dari arah yang berlawanan sebuah mobil kijang melaju dengan kecepatan tinggi.

Dengan refleks aku berdiri dan berlari menuju ke arah anak laki-laki itu. Aku mencoba untuk bisa menyelamatkannya.

Sempat kudengar teriakan teman-teman memanggil namaku dengan lantang, tapi aku tak menghiraukannya.

Aku terus berlari, meraih bocah laki-laki itu. Aku coba melindungi dan mendorongnya menepi. Namun aku tak bisa menghindar saat mobil kijang itu berhasil menyambar sebagian tubuhku.

Tubuhku terpental cukup jauh dari arah anak laki-laki yang sudah tergeletak di pinggir jalan. Kurasakan sakit di sebelah tubuh.

Kepalaku limbung, badan serasa lemah tak berdaya. Pandangan pun gelap seketika. Aku ambruk dan tak ingat apa-apa lagi.

**

Lia begitu riang mendapatkan televisi yang selama ini diinginkan. Wajahnya tampak berseri-seri, rona pipi bersemu merah, tawa riang pun menggema. Bola mata itu tampak berbinar-binar.

Aku tak bisa menjelaskan kebahagiaan yang tengah Lia reguk, tidak hanya sendiri. Kini ia sudah bersama dengan keluarga barunya.

Keluarga yang anak laki-lakinya sudah kutolong dari sebuah kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya.

Aku hanya bisa menyaksikan Lia bahagia. Rasa haru biru setelah sekian lama tak pernah kurasakan kini membuncah memenuhi jiwa. Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya.

Kewajibanku telah tuntas. Sudah terbayarkan lunas. Keinginan Lia untuk memiliki televisi sendiri sudah terkabulkan. Berkat keluarga Aryasena, ayah dari anak laki-laki yang telah kuselamatkan nyawanya.  Rama, bocah laki-laki itu.

Keinginan terakhirku adalah bisa memenuhi apa yang Lia mau. Hal itu aku sampaikan pada orang tua Rama, sebelum aku mengembuskan napas yang terakhir.

Mereka berjanji akan memberikan sebuah televisi untuk Lia. Aku lega mendengarnya. Aku pun bisa pergi dengan tenang.

Aku percaya, Lia akan hidup bahagia bersama keluarga Aryasena yang telah mengangkatnya sebagai anak mereka. Aku tak akan lagi cemas memikirkan kehidupan Lia.

Aku tak akan lagi khawatir dengan keadaan Lia, karena kini ia sudah mendapatkan sebuah keluarga yang mampu memberikan kehidupan layak, yang mampu memberikan pengobatan terbaik, dan mampu membuatnya bahagia.

Aku percaya, setiap pengorbanan akan ada hasil yang didapat. Begitu pun halnya seperti apa yang telah kulakukan. Aku tidak marah pada takdir yang telah membawaku ke dalam dunia baru.

Aku percaya, Tuhan punya rencana indah untuk kehidupan setiap hamba-Nya. Karena sejatinya hidup adalah rencana Tuhan yang sudah digariskan pada setiap manusia.

Aku menerima takdirku dengan ikhlas. Seikhlas hatiku melepas Lia untuk hidup bahagia bersama dengan keluarga barunya.

Aku hanya berharap, Lia akan bisa menerima kenyataan ketika ia menyadari kalau aku sudah tak bisa lagi berada di sisinya.

Sudah tak bisa lagi menemaninya, karena kini dunia kami sudah berbeda. Aku dengan duniaku yang baru, dan Lia bersama keluarga barunya.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.