Tentang Kita Kemarin (3)

Tentang Kita Kemarin (3)

Baru kemarin Aura menikmati kebersamaan dengan Aulia. Melintasi waktu dengan bersukacita berdua. Makan di cafe tempat biasa Aura menghabiskan waktu di saat pulang sekolah bersama teman-temannya. Pergi ke perpustakaan umum dan meminjam buku di sana. Menunggu senja dan merasakan hangatnya lembayung sore hari, dan mencoba membeli jajanan pinggir jalan yang tak pernah Aulia tahu.

Rasanya baru kemarin Aulia tertawa lepas tanpa beban di samping Aura. Berceloteh riang menceritakan banyak hal. Terkadang menitikkan air mata kala bercerita tentang kesedihan. Aura melihat gurat bahagia di wajah yang sama persis dengannya itu.

Hari ini, tepat di hari ulang tahun mereka, Aulia jatuh pingsan dan mengalami koma. Belum sempat lilin itu ditiup bersama, belum sempat kue black forest kesukaan Aulia itu terpotong, belum sempat ucapan selama ulang tahun terucap. Aulia harus dilarikan ke rumah sakit.

Kepanikan mami dan papi begitu terlihat. Aku yang dulu tak pernah peduli keadaan Aulia, kini berbanding terbalik. Rasa sesak mengisi seluruh rongga dadaku. Rembesan dari kedua netraku telah basah di pipi, tanganku pun bergetar kala menyentuh tubuh dingin itu, Aulia.

Dalam diam Aura menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama, untuk saudara kembarnya itu. Rasa sesal kenapa baru seminggu ini ia merasakan kebahagiaan bersama Aulia. Kenapa ia tak menyadarinya sejak dulu.

“Aulia mengidap kanker paru-paru.”

Begitu jawaban mami saat Aura menanyakan kenapa Aulia bisa sampai koma. Aura terempas ke dalam jurang penyesalan yang tak bertepi. Mengapa baru sekarang ia tahu kalau Aulia menderita sakit separah itu? Ia begitu asyik dengan dunianya sendiri yang penuh dengan rasa marah dan benci.

Tanpa pernah tahu keadaan Aulia yang sebenarnya. Tanpa pernah tahu penderitaan saudara kembarnya itu. Aura kini membenci dirinya sendiri.

“Maafkan Mami, Aura. Mami dan Papi menyembunyikan tentang penyakit Aulia selama ini. Sekarang kamu tahu kenapa Mami dan Papi lebih memperhatikan Aulia dibanding kamu, Nak. Itu karena Aulia tidak sepertimu. Dia tidak sehat, dia lemah.”

Mami menyapu basah di pipi dengan punggung tangannya. Papi yang berdiri di samping mami hanya tertunduk dalam diam.

“Mami sayang pada kalian berdua, tapi Mami harus lebih memperhatikan Aulia, karena ia diprediksi takkan berumur panjang sejak dokter mendiagnosanya menderita kanker paru-paru 11 tahun yang lalu.”

Aura tersedu. Tiba-tiba rasa sakit itu menyergap, mengiris-iria hatinya yang penuh sesal.

“Ini juga salah kami yang tak bisa berterus terang padamu, Sayang. Seharusnya kamu tahu keadaan Aulia sejak lama, agar kami tak salah paham. Maaafkan Papi dan Mami, Nak.”

Ucapan papi membuat Aura menatap kedua wajah orang tua yang selama ini nyaris tak pernah diturutinya itu. Ia merasa bersalah pada mereka, selalu membantah apa yang mereka katakan.

Perlahan Aura menghampiri kedua orang tuanya itu. Bersimpuh di hadapan mereka, meraih kedua tangan itu dan menciuminya penuh takzim.

“Maafin Aura, Pih, Mih. Selama ini Aura sudah salah paham, hingga menganggap Papi dan Mami pilih kasih. Aura marah pada Papi, Mami dan juga Aulia. Karena Aura pikir kalian sudah tak sayang lagi sama Aura.”

Papi dan mami pun segera memeluk putri bungsunya itu penuh kerinduan.

“Kami sudah memaafkanmu, Nak. Begitu pun Mami dan Papi, maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di antara kita selama ini.”

Aura memeluk maminya dengan erat. Mereka larut dalam pelukan penuh haru, di tengah kondisi Aulia yang tengah kritis.

“Keluarga Aulia ….”

Sebuah panggilan membuyarkan Aura, mami dan papi. Mereka bersamaan melepas pelukan dan menoleh ke arah datangnya suara.

Tampak seorang suster berdiri memandangi kami dengan seulas senyum.

“Demgan keluarga Aulia?” tanya suster itu meyakinkan.

Papi, mami dan Aura pun berjalan mendekat.

“Kami orang tuanya, Sus. Apa yang terjadi dengan putri kami?” tanya papi khawatir.

“Dokter ingin bicara dengan Bapak dan Ibu di ruangannya. Mari saya antar,” ujar suster seraya mempersilakan papi dan mami untuk mengikutinya.

Setelah menyuruhku untuk menunggu, papi dan mami pun segera berlalu bersama suster menuju ruangan dokter.

**
“Aku hanya ingin kamu bahagia, Aura.”

Ucapan Aulia sebelum mengembuskan napas terakhirnya membuat Aura kembali tergugu di samping pusara yang telah mengubur jasad Aulia.

Taburan bunga menghiasi tempat peristirahatan terakhir Aulia. Ia tak bisa bertahan melawan penyakit yang telah menggerogotinya selama 11 tahun. Ia telah menyerah dan pasrah. Allah telah memanggil untuk pulang ke haribaan-Nya.

Aulia telah berjuang di tengah kesakitan yang diderita. Menyembunyikan dari selain papi dan mami. Juga menyembunyikannya dari Aura, saudara kembarnya.

Aulia tak mau semakin dikasihani di tengah kelumpuhan yang ia derita. Ia tak ingin dianggap lemah dan tak berdaya. Itulah kenapa ia mencoba menampilkan apa yang terbaik yang dimiliki. Selalu menjadi juara kelas.

Ia ingin ada kebanggaan dalam dirinya setelah ia pergi nanti. Juga ingin menampilkan sisi yang menarik di hadapan Aura. Walaupun dalam kondisi lumpuh, tapi ia memiliki jiwa lain yang tak hanya menyusahkan orang.

Tepat di usianya yang ke-17 tahun, Aulia pergi untuk selamanya. Meninggalkan sejumput kenangan yang sempat diuntai selama seminggu kemarin. Menghilangkan jarak dan kesalahpahaman yang terjadi.

SELESAI

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.