Merindumu dalam Diam (3)

Merindumu dalam Diam (3)

“Rio menderita back injuries atau cedera punggung akibat kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu.” Bram menjelaskan keadaan Rio yang saat itu tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.

“Apa itu berbahaya baginya?” tanyaku mulai khawatir.

“Kondisi cederanya sudah parah saat kecelakaan itu terjadi. Rio beruntung, masih diberi kesempatan hidup lebih lama, meski dengan kondisi yang sudah tidak memungkinkan untuk hanya sekadar melakukan aktivitas.”

“Jadi separah itukah sakitnya?”

“Lebih parah dari yang kau duga, Vania. Hanya keajaiban yang membuatnya masih bertahan hingga saat ini. Kasus yang terjadi pada Rio termasuk langka, yang mampu bertahan hidup lebih lama, disaat vonis Dokter sudah memastikan jika kondisinya memang sudah parah.”

Penjelasan Bram yang juga seorang dokter spesialis dalam, berhasil membuat hatiku remuk. Jadi sudah separah itu sakit yang diderita Rio selama ini? Bagaimana bisa, aku tak merasakan penderitaan lelaki yang kini menjadi sahabatku itu?

Tiga bulan aku dan Rio menjalin hubungan persahabatan kami. Tiga kali dalam seminggu, di saat aku pulang kerja, Rio sudah menunggu di depan kantor dengan diantar sopir. Biasanya kami sekadar berkeliling mencari makan atau bersantai.

Aku tak merasa keberatan. Tak bisa kupungkiri, kerinduanku selama ini padanya pun terobati dengan kehadirannya hampir di setiap hari. Pada akhir pekan, sebagian waktu kuhabisakan bersama Rio. Entah itu menikmati suasana pantai atau hanya berkeliling perpustakaan, menyalurkan hobi kami yang sama, membaca.

Aku tak pernah melihat Rio mengeluh dengan sakit yang dideritanya. Ia tampak menikmati hari-hari yang kami lewati dengan penuh canda tawa. Tak bisa mengelak, masih ada perasaan cintaku untuknya, tapi Rio sepertinya lebih merasa nyaman dengan hubungan persahabatan kami.

Aku menahan sendiri rasa ini, sampai mungkin ada saat di mana aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Meski kini Rio hidup dalam keterbatasan fisik, tapi tak menghilangkan kharisma yang selalu terpancar dari sosok yang kukenal dulu.

Dengan kedua kaki palsunya, ia menyembunyikan luka dariku. Mencoba berjalan normal seakan tak pernah merasakan sakit yang diderita. Meski hanya beberapa langkah ia berjalan, telah cukup membuktikan jika ia baik-baik saja.

Namun semua itu hanya kamuflase. Rio sengaja hadir kembali dalam kehidupanku, hanya untuk menikmati sisa waktu yang tinggal menghitung hari. Rasa cinta yang masih tersimpan di hatinya untukku, yang menjadi alasan ia kembali. Ingin mencipta kenangan indah sebelum ia pergi.

Aku tak menyesal telah menerima uluran tangannya untuk menjalin ikatan yang sempat terputus. Meski tak lebih dari sebatas sahabat, tapi telah membuat cukup banyak kisah bermakna.

**

Singgasana siang membelai terik, dalam dersik berembus lirih
Mendamaikan hati yang tak lagi riuh urusan duniawi
Menenangkan diri yang kini berkawan sunyi
Mengikhlaskan segala risau akan bahagia yang pasti

Dalam kenangan terindah meski hanya sesaat lalu
Tak ada sesal mengeja bahagia yang tinggal menghitung waktu
Mengizinkan menjadi bagian dari rangkaian kisah
Telah memberi arti sebuah cinta yang menggugah

Aku menyentuh lembut tangannya yang mulai dingin. Mendekatkan telinga ke wajah yang memucat. Siap mendengarkan apa yang akan dibisikkan, di sisa akhir embusan napas, yang tinggal terhitung satu-satu.

“Terima kasih, untuk semua waktumu, yang membuatku bahagia.” Rio mengucapkan itu dengan terbata-bata.

Aku mengangguk pelan seraya mengukir senyum yang dipaksakan.

Aku masih menggenggam tangannya yang sudah semakin dingin. Membisikan kalimat syahadat sebagai pertanda ikhlas melepas pergi. Dengan terbata dan perlahan, Rio bisa menyelesaikan kalimat itu.

Bibirnya tak bergerak lagi. Tak kurasakan pula embusan napas yang menerpa pipiku. Air mataku pun jatuh. Melepas kepergiannya yang begitu menenangkan.

**

Gerimis menyapa di seantero pemakaman. Mengiringi kepergian Rio menuju liang lahat. Rintik dari kedua netraku pun belum bisa berhenti mengalir. Bagaimana pun, Rio adalah lelaki yang cintanya masih selalu tersimpan di hati.

Untaian kisah terjalin menjadi satu. Betapa rindu itu masih tersimpan untuknya. Setelah sekian lama, hanya sejumput waktu kueja bahagia, merenda canda dan tawa bersama, lepas tanpa beban.

Dalam setiap hela, kusebutkan nama yang takkan pernah terbuang dari sejarah hidupku. Di saat kutemukan cinta, sesungguhnyalah jatuh pada lelaki yang di akhir hayatnya justru menyimpan duka.

‘Semoga kau tenang di sisi-Nya, Kak,’ lirihku seraya menabur bunga di atas pusaranya.

SELESAI…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.