Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 14 (Di Ambang Perpisahan)

Aki dan Ambu – Bagian 14 (Di Ambang Perpisahan)

Sore begitu cerah. Aki dan Ambu menikmati hangatnya suasana sore dengan duduk santai di teras rumah. Teh hangat dan pisang kukus menemani obrolan kedua suami istri itu. Tanaman peliharaan yang baru saja disiram  Aki dan Ambu pun seakan turut menikmati hangatnya sinar surya sore itu.  

Ketika Aki dan Ambu asyik mengobrol, seorang pria muda dengan wajah terlihat murung datang menghampiri.

“Assalamu’alaikum Ki, Ambu,” salamnya sambil manggut.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Aki dan Ambu nyaris bersamaan.

“Eh, Nak Rusdi! “ Sapa Ambu.

“Iya Ambu. Ada yang mau saya bicarakan dengan Aki dan Ambu,”  sahut Rusdi dengan suara seperti tertahan.

“Kalau begitu, ayo masuk! Kita mengobrolnya di dalam saja,” ajak Ambu sambil melangkah masuk rumah diikuti Aki dan Rusli.

“Silakan duduk, Nak Rusli. Sebentar, Ambu tinggal dulu ya,” Ambu meninggalkan kedua lelaki yang mulai duduk di ruang tamu. Sebentar kemudian Ambu kembali dengan secangkir teh manis panas dan pisang kukus. Dia letakkan cangkir teh di meja depan Rusdi. “Silakan dicicipi pisang kukus dan tehnya, Nak Rusdi,”  sambil meletakkan piring berisi pisang kukus di atas meja.

“Terima kasih, Ambu. Maaf, jadi merepotkan,” jawab Rusdi.

“Sama sekali tidak merepotkan, kok. Malah senang ada yang bisa menemani Aki menikmati pisang kukusnya. Ini pisang hasil dari kebun belakang. Aki yang menanamnya dulu,” papar Ambu.

“Oh, begitu Ambu? Aki rajin berkebun rupanya?” Tanya Rusdi. “Ditampi, Ambu,” lanjutnya sambil mengambil satu pisang kukus. Dikupasnya pisang itu lalu disantapnya. “Mmmm …  enak sekali. Pisang apa ini, Ki?” Tanyanya lagi.

“Itu pisang saba,” jawab Aki sambil menerima cangkir tehnya yang disodorkan Ambu. “Oh ya, kata Nak Rusdi tadi, ada yang ingin dibicarakan dengan Aki dan Ambu. Tentang apa ya, Nak? “

Aki membuka obrolan.

“Iya, aki. Tapi, sebelumnya saya mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu kenyamanan Aki dan Ambu,” Rusdi membenahi duduknya. Dia terlihat agak gugup.

“Aki malah senang, Nak,” jawab Aki.

“Nak Rusdi tidak usah sungkan-sungkan. Jika ada yang ingin disampaikan, silakan sampaikan saja. Kami siap mendengarkan,” timpal Ambu.

“Ini Ki, emmm … mengenai istri saya,” Rusli terlihat ragu-ragu.

“Bagaimana kabar istrimu itu, Nak?” Ambu terlihat penasaran.

“Arni …. Arni menggugat cerai Ambu,” suara Rusdi seperti tercekat. Matanya mulai membasah.

“Ya Allah!” Pekik Ambu. “Sabar ya, Nak!” Lanjutnya.

“Coba ceritakan dulu bagaimana hal itu sampai terjadi,” pinta Aki.

“Saya sudah melakukan semua upaya seperti yang kita obrolkan dulu. Tapi, bukannya sadar. Arni malah semakin menjadi-jadi. Dia semakin sering pergi meninggalkan rumah. Bahkan kadang tidak pulang berhari-hari. Jika saya nasihati, bukannya menerima, Arni malah marah-marah dan mengata-ngatai saya. Dia juga semakin sering menghinakan saya, Ki. Dikatakan suami tak berguna lah, suami tak becus membahagiakan istri lah. Pokoknya, dia semakin kasar. Kata-katanya itu semakin menyakitkan.”  Rusdi diam sejenak. Dia ambil cangkir tehnya. Diseruputnya teh manis itu perlahan.

“Aki turut prihatin dengan kejadian yang menimpa rumah tanggamu, Nak. Ini adalah ujian. Nak Rusdi harus kuat,” Aki mencoba menyemangati.

“Iya, Ki. Saya juga mencoba untuk tetap kuat. Tapi saya terlalu rapuh, Ki. Saya tidak bisa lagi mengendalikan Arni. Dia semakin liar dan semakin kurang ajar. Dia mulai membanding-bandingkan saya dengan seseorang,” menarik nafas berat.

“Seseorang? Maksud Nak Rusdi?” Ambu menyela. Dia mulai menduga-duga.

“Iya, Ambu. Dia punya selingkuhan,” tangis Rusdi pecah. Dia terlihat begitu terpukul.

Aki dan Ambu saling berpandangan. Aki geleng-geleng kepala sambil istighfar berkali-kali. Sementara Ambu tak bisa berkata-kata. Matanya membasah. Dia tidak tega melihat kondisi Rusdi seperti itu.

Di mata Ambu, laki-laki adalah sosok yang tegar, jauh dari air mata. Makanya, ketika melihat Rusdi menangis seperti itu, Ambu bisa menebak betapa hancurnya perasaan Rusdi. Dalam pandangan Ambu, perselingkuhan merupakan pengkhianatan terbesar dalam sebuah rumah tangga. Ambu bisa merasakan betapa terhinanya Rusdi. Kehormatan dan harga dirinya  sebagai suami telah benar-benar dilecehkan istrinya sendiri.

“Tadi Nak Rusdi katakan jika Arni menggugat cerai, betul itu Nak?” tanya Aki ketika tangis Rusdi mulai reda.

“Iya, Ki. Dia memilih untuk hidup dengan laki-laki itu. Dia minta saya untuk menceraikan dia,” jawab Rusdi sambil tersedu.

“Nak Rusdi sendiri bagaimana? Apa siap menceraikan dia?” Tanya Aki.

“Saya benar-benar bingung, Ki. Makanya saya datang ke sini untuk meminta pendapat Aki dan Ambu,” jawab Rusdi penuh harap.

“Kalau Ambu boleh tahu, apa yang membuat Nak Rusdi bingung untuk mengambil keputusan?” tanya Ambu.

“Saya tidak tega melihat anak-anak, Ki, Ambu. Jika kami bercerai, saya khawatir anak-anak akan jadi korban,” jawab Rusli.

“Maaf nih, apakah Nak Rusli sudah mengadukan ini pada Allah?” Ambu bertanya lagi. Dia ingin menggali lebih jauh apa yang sudah dilakukan Rusdi dalam menghadapi problem keluarganya itu.

“Sudah Ambu. Sepulang dari pertemuan syukuran Nisa lulus itu, saya bertaubat. Saya mulai salat lagi. Bahkan, tahajud juga saya kerjakan. Saya memohon agar Arni kembali ke jalan yang benar. Saya ingin Arni segera menyadari kekeliruannya dan kembali pada kami. Tapi … semakin hari, dia semakin parah. Ujung-ujungnya, dia minta cerai,”  Rusdi menjelaskan panjang lebar. “Apa yang harus saya lakukan sekarang Ki, Ambu?” Tanyanya kemudian.

“Bagaimana menurut Ambu?” Aki Rahmat memberi kesempatan pada Ambu untuk berpendapat.

Ambu menarik napas. “Bismillah …. Semoga yang akan Ambu sampaikan bisa sedikit isa membantu Nak Rusdi menemukan jalan keluarnya.” Menarik napas lagi. “Sebetulnya, hak penuh untuk menentukan keputusan ada pada Nak Rusdi sendiri. Jika Nak Rusdi siap bersabar menghadapi Arni dan mau memberi Arni kesempatan, silakan untuk bertahan. Tetapi apabila menurut Nak Rusdi, Arni tidak akan kembali pada kalian, Ambu kira lebih baik Nak Rusdi lepaskan dia. Sebentar, Ambu ingin bertanya dulu. Nak Rusdi kan sudah tahu jika istrimu itu berselingkuh. Jujur ya, hati kecil Nak Rusdi masih mau menerima dia seperti dulu atau  tidak?” tanyanya pada Rusdi.

“Berat, Ambu. Setiap melihat Arni, saya melihat juga bayangan laki-laki itu. Sebetulnya, saya jijik melihatnya. Tapi, saat melihat kedua anak kami, hati saya luluh Ambu. Saya tidak bisa membayangkan jika mereka harus hidup tanpa ibunya.” Air mata mulai meleleh lagi membasahi pipinya. Segera ia seka dengan punggung tangannya.

“Ini sih menurut Ambu ya, Nak. Ceraikan dia,” kata Ambu mantap. Aki dan Rusdi terperanjat mendengar kata Ambu tadi.

“Ceraikan Ambu?” Rusdi seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.

“Iya, ceraikan!” jawab Ambu menegaskan. “Perceraian itu sebagai jalan terakhir yang bisa Nak Rusdi Ambil. Memang sih, perceraian itu mengguncangkan Arsy. Tapi, jika tetap bersama dengan suasana seperti neraka, lebih baik kalian memilih jalan masing-masing saja. Menata kembali hidup tanpa kebersamaan satu sama lain, ” nasihat Ambu.

“Anak-anak kami?” gumam Rusdi.

“Nak Rusdi, anak-anak akan tumbuh berkembang dengan sehat dalam keluarga yang kondisinya sehat. Rumah tangga kalian sudah tidak sehat. Kehilangan ibu, memang akan menjadi hal buruk bagi anak-anak kalian. Akan tetapi, hidup dengan ibu seperti Arni, itu justru akan berakibat lebih buruk bagi jiwa anak-anak kalian. Kelakuan Arni akan menjadi racun bagi jiwa Bagas dan Mira. Kedua anakmu  itu ada pada masa goldenage. Masa keemasan bagi perkembanga jiwa mereka. Apa pun yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasa, akan masuk pada memori jangka panjangnya. Apa lagi jika hal itu terjadi berulang-ulang. Hal buruk mengenai ibu mereka, pertengkaran-pertengkaran kalian di depan mereka, itu akan berakibat fatal bagi perkembangan jiwa keduanya.” Ambu terdiam sebentar. Diseruputnya teh hangatnya.

Rusdi Nampak tidak sabar menunggu kelanjutan dari apa yang Ambu katakan.

“Memang sangat tidak mudah memisahkan anak dengan ibunya. Tapi anak-anakmu perlu kondisi yang sehat dan mendukung agar mereka mencapai perkembangan optmal. Anak-anakmu bukan hanya perlu kehadiran ibunya secara fisik. Mereka memerlukan perhatian dan kasih sayang juga.”

Hening.

“Coba Nak Rusdi ingat-ingat. Bagaimana sikap Arni terhadap anak kalian?” Tanya Ambu tiba-tiba pada Rusdi yang sedang serius menyimak apa yang dikatakannya.

“Arni selalu marah-marah pada anak kami,” jawab Rusdi pelan.

“Lalu, bagaimana sikap anak-anakmu terhadap Arni?”

“Mereka sepertinya sangat merindukan ibunya. Tetapi, saat Arni membentak atau memarahi, mereka langsung menangis atau menggigil ketakutan” jawab Rusdi lagi. Terlihat dia seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Menurutmu, apakah itu baik bagi perkembangan kedua anakmu?” tanya Ambu kemudian.

“Tidak, Ambu,” jawab Rusdi singkat.

“Tuh, Nak Rusdi tahu sendiri jawabannya. Haaahhh ….,” Ambu menarik napas. Dia juga turut merasakan sesaknya dada Rusdi. 

Rusdi terlihat manggut-manggut.

“Anak-anakmu telah kehilangan ibunya sejak Arni mengabaikan mereka. Tentunya itu membekaskan luka di hati mereka. Apa lagi jika ditambah dengan luka-luka lainnya  akibat kemarahan dan bentakan-bentakan Arni, juga pertengkaran kalian. Jika ini terus berlanjut, jangan heran ketika mereka besar nanti akan muncul dendam. Jiwa mereka akan sakit. Setidaknya mereka akan merasakan trauma berkepanjangan.” Ambu sengaja berhenti dulu berbicara. Dia ingin tahu bagaimana respon Rusdi. Dia masih Nampak kebingungan.

Rusdi hanya manggut-manggut.

“Ceraikan Arni! Bebaskan dia dari hubungan yang sudah tidak sehat ini! Setelah itu, fokuslah untuk memulihkan kondisi jiwa kedua anakmu. Limpahi mereka dengan kasih sayang!” jawab Ambu lebih tegas dari sebelumnya.

“Tapi, saya kan bekerja, Ambu. Bagaimana saya bisa mengurus mereka?” Jelas sekali, dari pertanyaan yang diajukannya, terlihat keraguan Rusdi.

“Titipkan mereka pada kakek neneknya! Ambu lihat Mang Kardin dan Bi Minah begitu menyayangi anak-anakmu. Di sini juga ada Nisa. Ambu juga melihat kalau Nisa itu baik. Dia akan bisa mengasuh ponakan-ponakannya juga. Bagaimana?” Ambu menatap tajam Rusdi seolah ingin menyelami bagaimana isi hati Rusdi.

“Iya Ambu,’ jawabnya singkat. Meski bernada masih ragu, tetapi Rusdi bisa menerima usulan Ambu.

“Oh ya, jika  suatu saat nanti Nak Rusdi berniat mencarikan ibu baru bagi anak-anakmu. Hati-hati memilihnya ya! Akan lebih baik jika melibatkan orang tuamu dalam mencarinya.”

Rusdi Nampak terkejut mendengar kata-kata Ambu itu. Dia masih memikirkan tentang permohonan cerai Arni, tapi Ambu sudah membicarakan ibu baru bagi anak-anaknya.

“Maaf loh Nak, omongan Ambu tadi membuatmu terkejut, ya? Tapi itu harus kau pikirkan juga,” kata Ambu dengan santai.

“I … iya Ambu,” jawab Rusdi agak tergagap. “Kalau begitu, saya pamit pulang dulu Ambu, Aki. Terima kasih atas nasihatnya. Tapi, saya mohon Aki dan Ambu jangan bosan jika saya sering datang untuk meminta pendapat,” Rusdi berpamitan.

“Iya Nak. Insya Allah kami akan membantu sebisa kami. Tapi, jika yang kami bicarakan tidak berkenan di hati Nak Rusdi, kami mohon maaf. Semoga masalah yang Nak Rusdi hadapi ini, segera mendapatkan penyelesaian,” jawab Ambu.

“Oh ya, jikapun kalian nantinya bercerai, mohon tetap jaga hubungan baik kalian. Bagaimana pun, Arni adalah ibu kandung kedua anakmu. Jadi tanamkan dalam hati mereka hal-hal yang baik saja tentang ibunya. Jangan sampai hubungan ibu dan anak menjadi putus. Karena bagaimanapun, anak tetap berkewajiban menghormati dan berbakti pada ibunya,” Aki yang sejak tadi menyimak, akhirnya angkat bicara.

“Iya Ki, Insya Allah akan saya ingat nasihat Aki, juga Ambu. Terima kasih Aki, Ambu. Mohon tetap doakan agar masalah kami bisa terselesaikan dengan baik. Saya pamit Aki, Ambu. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” Jawab Aki dan Ambu bersamaan. ***

#WCR_tetap_cerbungsinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.