Berani Berbuat Berani Bertanggung Jawab

Bel masuk kelas sudah berbunyi.  Anak-anak harus masuk kelas.  Namun di toilet wanita ada beberapa siswi yang masih berbincang-bincang. Mereka adalah Renata dan Tanti. Mereka sedang berbincang-bincang entah apa yang dibicarakannya. Setelah selesai mereka pun buru-buru masuk kelas. Mereka segera duduk di tempat masing-masing seolah tak terjadi apa-apa. Tanti duduk di depan Renata. Tak berapa lama kemudian Dio masuk dan duduk di belakang mereka berdua.

“Assalamualaikum,  selamat pagi anak-anak!” Sapa Bu Anita guru Bahasa Indonesia yang mengajar di jam pertama.

“Waalaikumsalam…pagi juga Bu…”. Jawab para siswa serempak.

“Ayo kita mulai pelajaran hari ini dengan berdo’a dulu!” Kata Bu Anita.

Sejenak para siswa menundukkan kepalanya.

“Selesai,  ayo siapkan kertas untuk ulangan hari ini”. Kata Bu Anita setelah para siswa selesai berdo’a.

Suasana tampak hening. Para siswa hanyut dalam pekerjaan masing-masing. Tanti yang duduk di depan Renata juga tampak khusu mengerjakan soal. Sedangkan Renata tampak gelisah. Dio yang duduk di belakang mereka, sesekali memperhatikan kedua perempuan itu. Sesekali terdengar bisikan Renata.

“Ssst…Tan…Tan…” Renata memanggil Tanti setengah berbisik.

Tanti menengok ke belakang sebentar kemudian kembali mengerjakan soal. Bu Anita yang duduk di depan terlihat memandang ke seluruh ruangan kelas. Ketika Bu Anita terlihat lengah, Tanti pura-pura membaca hasil pekerjaannya sambil mengangkat lembar jawabannya sehingga terlihat oleh Renata yang duduk di belakang. Segera Renata menyalinnya. Mereka tak sadar bahwa ada seseorang yang memperhatikan perbuatannya dari belakang. 

Dua jam pelajaran pun berlalu. Bu Anita yang mengajar di jam pertama segera ke luar. Dan kelas pun akan berganti pelajaran yang lain.

Dua hari kemudian saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Anita membagikan hasil ulangan yang telah dilaksanakan di kelas itu. Tiba-tiba Bu Anita memanggil Tanti dan Renata. Bu Anita curiga atas hasil kerja kedua anak itu.

“Tanti, Renata! Coba kalian maju ke sini!”Panggil Bu Anita

“Ya Bu..” Tanti dan Renata menjawab serempak. Mereka deg degan mendapat panggilan seperti itu.

“Ibu sudah periksa hasil ulangan kalian, dua-duanya bagus. Tapi ibu rasa ini ada yang aneh ya”. Kata Bu Anita kepada Tanti dan Renata. Siswa yang lain tampak hening mendengarkan persidangan yang dihadapi oleh kedua temannya. Tanti dan Renata hanya diam saja tak menjawab. 

“Coba berikan alasan kalian mengapa jawaban yang kalian tulis sama persis dari kalimat dan kata-katanya. Ibu curiga kalian kerjasama atau salah seorang diantara kalian ada yang nyontek”. Bu Anita menjelaskan.

“Engga Bu, itu benar-benar hasil pekerjaan saya, kami tidak kerja sama. Mungkin itu kebetulan saja Bu”. Renata membela diri.

“ Oh ya ? tapi ini jawabannya semua persis. Karena soalnya essay jadi ga mungkin kata demi kata akan sama jawabannya meski tujuannya sama. Siapa yang berani mengaku?” Bu Anita kembali memberikan alasan atas tudingannya.

“ Ayo Tanti, kamu jawab!” Bu Anita menyuruh Tanti untuk menjawab

“S sa ..sa..saya…” Tanti tak melanjutkan jawabannya. Ia takut untuk menjawab jujur.

“Benar Bu, kami tidak  saling contek kok”. Renata tetap dengan jawabannya meski hatinya sudah mulai ketakutan.

“Baik, kalau di antara kalian tidak ada yang mau bicara yang sebenarnya, kalian saya hukum untuk membersihkan WC sekarang juga”. Kata Bu Anita setengah mengancam.

“Tapi Bu….” Renata masih mengelak. Sedangkan Tanti hanya diam saja.

Lama mereka tak ada yang mengaku. Tiba-tiba Dio mengacungkan tangannya.

“Maaf Bu, boleh saya bicara?” Kata Dio.

“Iya Dio, ada apa ?” Bu Anita memberi kesempatan kepada Dio.

“Sebenarnya saya kemarin melihat perbuatan mereka Bu, Renatalah pelakunya”. Kata Dio.

“Ah engga kok Bu, Dio bohong”. Renata masih tak mau mengaku.

“Benar Bu..”. Dio akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Dimulai ketika pagi-pagi sebelum ulangan Dio tanpa sengaja mendengar percakapan antara Renata dan Tanti di toilet. Renata mengancam Tanti jika dia tidak memberi contekan kepada Renata, dia akan mempermalukan Tanti di hadapan semua teman-temannya bahwa Tanti adalah anak haram. Tentu saja Tanti tak mau semua temannya ikut menjauhinya karena Tanti anak miskin dan tak punya ayah. Akhirnya pada saat ulangan, Renata menyalin semua pekerjaan Tanti. Dan perbuatan itu dilihat sendiri oleh Dio saat ulangan kemarin. 

Renata tertunduk malu atas perbuatannya itu. Kali ini dia tak bisa menjawab apa-apa.

“Ibu tak menyangka ya Renata, kamu tega sama Tanti”. Bu Anita menyalahkan Renata.

“ Baik, sebagai hukumannya kamu harus membersihkan wc sendirian”. Bu Anita menghukum Renata.

“Tapi Bu…”. 

“Udah ga usah tapi-tapian, siapa yang berbuat salah harus berani bertanggung jawab” Kata Bu Anita kepada Renata.

“Dan sekarang kamu harus minta maaf kepada Tanti dan jangan mengulang lagi perbuatan kamu itu”.Kata Bu Anita kepada Renata.

“Iya Bu. Maafkan saya ya Tan…” Kata Renata sambil mengulurkan tangannya kepada Tanti.

“Iya Re, saya juga minta maaf”. Jawab Tanti.

Akhirnya Renata harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendirian dan berjanji tak akan mengulangi. Tanti mau membantunya, tapi Bu Anita melarang Tanti. Bu Anita bilang bahwa itu sebagai konsekuensi atas perbuatan Renata. Bu Anita bilang kepada semua siswa bahwa setiap perbuatan ada tanggungjawabnya. Orang yang berbuat salah harus berani mempertanggungjawabkan atas kesalahannya. 

Sumber foto : koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.