Bukan Kumenolak tetapi Tanggungjawabnya Besar

Bukan Kumenolak tetapi Tanggungjawabnya Besar

“Bu Zahra, ini Saiful, dia menolak mengajar di sini. Saya minta dia dari minggu lalu tapi dia diam saja,’ kata pak Imam. Beliau mengadu kepada bu Zahra di hadapanku. Pak Imam adalah Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di kampusku.

“Begini saja, Pak Imam. Saya mau ke Aceh selama dua minggu. Saiful menggantikan saya,” kata bu Zahra, sambil tersenyum. Kulihat pak Imam ikut tersenyum.

“Good idea. Saya setuju. Sebenarnya saya sudah tawarkan dia mengajar dua mata kuliah di semester satu dan tiga,” lanjut pak Imam, “Biarlah, Saiful menggantikan Bu Zahra dulu,” tambahnya.

“Saiful, ini jadwal mata kuliah yang saya ajar di semester tujuh, lima, dan tiga. Semuanya tiga mata kuliah. Kamu menggantikannya selama dua minggu,” kata bu Zahra kepadaku.

“Iya, Bu,” jawabku kepada bu Zahra, “Maaf, Pak,” kataku kepada pak Imam.

Tanganku refleks menerima selembar kertas berisi jadwal mengajar dari Dr. Zahra Zuraida. Mulutku seperti terkunci. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya mampu menjawab “Iya.” Aku menerima saja tanpa berani menolak. Aku pun meminta maaf kepada pak Imam. Hanya ucapan “Maaf,” yang mampu ke luar namun aku tak mampu menjelaskan alasannya mengapa aku diam saat beliau memintaku mengajar di kampusku.

Sebenarnya, aku bukan menolak permintaan pak Imam minggu sebelumnya. Beliau memintaku menjadi dosen di kampusku. Permintaan itu di luar dugaanku. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku pantas mengajar di kampusku. Itulah mengapa aku terdiam saat itu karena aku syok apakah aku mampu dan pantas menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Tanggungjawab pekerjaan yang ditawarkan sangat besar menurutku.

Saat itu, minggu terakhir aku menyelesaikan skripsiku. Aku berusaha agar fokus pada skripsi. Setelah itu, aku akan melamar pacarku. Kupikir, tidak ada rencana lain setelah skripsi kecuali menikah. Aku sudah bekerja sambil kuliah sehingga target berikutnya adalah menikah. Sehingga tidak terbersit sama sekali target lain apalagi mengajar di kampus.

Jika kusadari, banyak pertimbangan mengapa pak Imam memintaku menjadi dosen di kampusku. Aku mampu menyelesaikan studi kurang dari empat tahun. Saat kuliah, aku mengambil beberapa mata kuliah di semester yang lebih tinggi dari seharusnya. Pertimbangan lainnya juga, aku memperoleh nilai tertinggi dengan predikat cum laude. Aku juga mampu menyelesaikan skripsi tercepat. Itu semua karena aku fokus pada suatu tujuan.

Hari itu seharusnya menjadi hari terakhir aku melepaskan beban setelah kuliah dan menyusun skripsi. Kupikir, hanya tinggal menunggu jadwal sidang saja. Ternyata hari itu menjadi hari pertamaku belajar menjadi dosen. Aku harus membaca buku wajib dan beberapa buku referensi untuk mata kuliah yang akan kuberikan. Ibu Dr. Zahra Zuraida meminjamkan buku-bukunya kepadaku. Beliau terkenal sebagai dosen yang sangat baik sekali.

Aku segera pamit dan pulang. Sebuah angkot menghampiriku. Dalam perjalanan pulang, aku melamun tentang rezeki yang hadir tak terduga. Aku seorang guru honorer di sebuah SD, di benakku, tidak mungkin menjadi seorang dosen. Masih kuingat beberapa tahun lalu saat aku lulus SMP. Kemudian, aku melanjutkan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Sekolah tersebut setingkat dengan SMA. Para lulusan SPG dipersiapkan menjadi guru SD atau TK sesuai jurusan yang diambil saat pendidikan. Di sekolah ini, kutempuh selama tiga tahun. Aku mengambil jurusan SD MIPA. Terdapat beberapa jurusan di sekolah ini di antaranya; SD MIPA, SD Bahasa, SD Seni, dan TK.

Selepas lulus SPG, aku mendaftar ke salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Jakarta. Sudah kubayangkan bahwa aku akan kuliah di kampus itu. Kubayangkan bagaimana aktivitasku menjadi salah satu mahasiswa di kampus tersebut. Pasti menyenangkan membayangkan mulai berangkat dari rumah, bertemu dosen dan teman-teman di kampus, hingga pulang dari kampus.

Saat pengumuman tiba, mataku tertuju pada deretan nomor tes. kuamati satu persatu, namun tidak ada nomor yang cocok dengan nomor tesku. Aku gagal. Harapan terasa pupus. Segala angan menjadi buyar. Aku bingung apa yang selanjutnya kulakukan. Apakah aku akan cari kampus swasta atau mencari kerja.

Kuputuskan untuk mencari kerja dan melanjutkan ke universitas swasta yang terdekat. Kampus tersebut sekitar satu jam perjalanan. Aku mendaftar kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di kampus tersebut. Saat itu tahun 1992, belum ada mata pelajaran Bahasa Inggris di SD tetapi aku sangat menyenangi bahasa Inggris. Nilai mata pelajaran Bahasa Inggris selalu tertinggi bahkan pada hasil UN (Ujian Negara) saat aku di SPG.

Kita harus yakin bahwa Allah Swt memberikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Rezeki yang kita terima dari-Nya adalah takdir yang telah digariskan. Apa yang kita inginkan belum tentu baik di mata Allah Swt. Jangan menyesali kegagalan yang kita alami karena itu lebih baik agar kita terus berikhtiar dan berdoa dalam rangka lebih mendekatkan diri kepada-Nya.***

Rumahmediagrup/ saifulamri

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.