Tanggung Jawab Suami

Sumber gambar: galery rumahmediagrup.com

Tanggung Jawab Suami

Ada pertanyaan si kecil,” Mengapa papa pulang kerjanya malam terus?.” Sebuah pertanyaan sederhana, tapi cara menjawabnya kenapa tidak bisa dijelaskan dengan cara sederhana ya. Ada kebingungan yang harus diuraikan dulu ini. Bukan jawaban,” Ya,  karena papa harus kerja buat keluarga.” Nanti, muncul lagi pertanyaan,” Memang bekerjanya harus sampai malam?.”

Saya hanya terdiam beberapa saat. Lalu tersenyum. Tiba-tiba terbayang hari-hari kami setelah si kakak lahir. Mulai berubah. Cara pandang terhadap uang, tabungan, konsumsi dan lainnya. Tanggungjawab yang besar. Tanggungjawab sebagai orang tua, sebagai suami, sebagai istri, sebagai menantu, dan mungkin sebagai tetangga yang baik. Bahwa, laki-laki ganteng itu, tidak lagi butuh ganteng, tapi butuh tangguh juga. Banyak yang harus dilakukan, jadi ya harus kuat.

Namun, kami seringkali berbeda pendapat. Tentang jam pulang kantor ini. Tetapi kami sebenarnya saling tahu bahwa kami masing-masing melakukan apapun adalah hal yang terbaik buat keluarga. Dan saya tahu persis apa saja selama dia di kantor. Pekerjaan kita sejenis, tapi berbeda konteks saja. Sering saya merasa takut, cemas, khawatir, dan beberapa perasaan yang menggambarkan rasa cinta saya yang berlebihan. Dan perasaan ini membentuk pola pikir bahwa betapa besar rasa cinta kepada keluarga dan harapan terbaik ada di si suami ini ya. Karena beliau sosok ayah, teman, sahabat dan kadang rekan kerja.

Apakah menjadi orangtua bisa disambi? Tentu tidak kan. Profesi sebagai suami dan istri, dalam paket orang tua ini tak bisa digantikan sama siapa saja. Tak ada waktu istirahat juga kan. Tanggungjawabnya melekat dalam hubungan darah yang tak mungkin terputus. Karena sadar akan hal ini, seharusnya muncul pertanyaan lainnya, “Bagaimana bisa berperan, jika waktu yang dihabiskan hanya untuk pekerjaan?”

Suami adalah kekasih buat si istri. Kapan ada waktu untuk berkencan setelah menjadi orang tua? Walaupun sebenarnya tak butuh waktu lama dan mewah kan untuk berkencan. Kali ini saya juga mengkoreksi diri sendiri. Istri adalah kekasih suami. Sudah siapkah selalu merindukannya? Walaupun pekerjaan di rumah tiada habisnya.

Menjadi kekasih tidak pernah hilang peran ini, meskipun ada peran lain sebagai orang tua. Dan selayaknya sepasang kekasih ini selalu tersemat rasa sayang, cinta dan menghargai. Kerinduan dan kebutuhan bertemu ditempatkan bukan hanya sebatas doa, namun penghargaan istimewa dan luar biasa.

Lalu, “Jawabnya apa ma?” si adek mulai merajuk menginginkan jawabannya. Aku hanya bisa memeluknya dan berbisik,”Kita sama-sama merindukan papa, mendoakan agar cepat selesai urusan papa di kantor adalah hal yang terbaik untuk dilakukan.”

Tanggungjawab suami sangat berat, tapi tidak seberat rindu kami untuk papa. Love u…

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.