Erotomania (2)

EROTOMANIA (2)

Yumna tampak duduk tenang di sudut cafe. Pemandangan outdoor sedikit mengurai sesak di dada. Beberapa kali kedua netra itu tak henti melihat ke layar gawai, seakan menunggu seseorang menghubunginya.

Orange juice yang sudah dipesannya sejak lima belas menit yang lalu, sudah tandas tak bersisa. Ia terlihat gusar. Semilir angin yang menerpa wajah hanya menjadi angin lalu yang sejenak menenangkan jiwa. Ia tetap dalam kegundahan.

Layar ponselnya terlihat menyala. Sejenak ia memperhatikan siapa pengirim pesan lewat akun WhatsApp. Senyuman lebar terlukis di bibir, menghiasi wajah yang berubah riang.

Tak berapa lama, seorang lelaki dengan setelan jas warna biru tua lengkap dengan dasi senada, berjalan menghampiri Yumna yang seketika terkejut mendapati lelaki yang baru saja membuat hatinya berbunga-bunga.

“Maaf ya, menunggu lama,” ucap lelaki itu seraya mengukir senyum termanis untuk perempuan yang kini duduk di hadapannya itu.

Yumna hanya menanggapi dengan senyum yang menggoda. Mengerlingkan kedua bola mata seakan berbicara tentang perasaannya.

“Kamu tidak marah?” tanya lelaki itu menatap lekat Yumna.

Perempuan yang ditanya menggeleng pelan.

“Ya sudah, ayo kita pesan makan!” ajak si lelaki seraya memanggil waitress.

Setelah memesan beberapa menu, lelaki itu kembali membuka suara.

“Kita sudah 2 bulan pacaran. Akankah terus menyembunyikan hubungan kita ini?”

Yumna tak segera menjawab. Diedarkannya pandangan ke luar ruangan.

“Kamu ini seorang direktur perusahaan, sementara aku hanya seorang karyawan biasa. Rasanya aku belum siap mendapat reaksi dari orang-orang tentang hubungan kita. Tak akan mudah bagi kita untuk menjalani jika hal itu terjadi.”

“Aku akan siap menanggung segala risiko jika hal yang kamu khawatirkan itu terjadi nanti. Sudah berapa kali aku yakinkan hal ini padamu, Sayang.”

Yumna mengembuskan napasnya pelan. Menatap wajah lelaki yang sudah 2 bulan ini mengisi hati.

“Aku mencintaimu, jadi izinkan aku melindungiku dengan caraku. Jika kamu takut, peganglah tanganku, kita akan lalui setiap rintangan bersama.”

Ucapan sang kekasih bagai siraman air di Padang gersang, sangat menenangkan jiwa. Sejenak ia lupa tentang kekhawatirannya selama ini.

“Percayalah padaku, Sayang, aku tak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi.”

“Jika orang tuamu tak setuju dengan hubungan kita, bagaimana?”

“Aku akan tetap mencoba untuk bisa menerima hubungan ini, tapi jika mereka tetap tak mau, aku akan memilih meninggalkan semua yang kumiliki.”

“Aku takut.”

“Takut kenapa? Kamu tidak percaya padaku?”

“Bukan itu yang kutakutkan. Justru aku takut tak bisa bertahan untuk tetap menggenggam tanganmu, Mas.”

“Maksudmu?”

“Mencintai itu memang mudah, tapi menjalaninya yang sulit. Jika tak ada restu orang tuamu dengan hubunga kita, aku mungkin tak akan bisa untuk mempertahankanmu di sisiku.”

“Kenapa?”

“Aku tak mau dianggap perusak hubungan antara orang tua dengan anaknya.”

“Aku sudah dewasa, sudah bisa menentukan jalan hidupku sendiri.”

“Kamu tidak bisa seegois itu, Mas. Orang tua tetaplah orang tua, meski kita sudah bisa hidup mandiri sekali pun, peran mereka takkan pernah berubah. Bagiku, mereka tetap di atas segalanya.”

“Jadi maksudmu, tak akan meneruskan hungan kita jika tak ada restu orang tuaku?”

“Maafkan aku, Mas.”

Sejenak obrolan mereka terhenti saat waitress datang dan menghidangkan menu yang dipesan. Setelah selesai dengan tugasnya, sang waitress pun segera beranjak pergi.

“Jika itu pendirianmu, lalu untuk apa kita bertahan sejauh ini, dan untuk apa pula aku masih tetap di sini sekarang.”

Dengan menahan marah, lelaki itu pun bangkit, kemudian berlalu pergi meninggalkan Yumna sendiri.

**

Jika cinta saja cukup untuk mengikatkan sebuah hubungan, maka yang lainnya tak akan berarti apa pun. Namun Yumna tak hanya memikirkan cinta yang tengah menggebu di dada. Penyatuan dua hati harus diiringi dengan berbagai penyatuan lainnya, termasuk penyatuan dua keluarga.

Bagaimana bisa dua keluarga bersatu jika salah satunya tak menginginkan itu. Meski kekhawatiran itu belum terjadi, tapi Yumna sudah takut hanya untuk membayangkannya saja. Lalu, bagaimana denga nasib cintanya?

Yumna tampak gelisah dalam tidurnya. Sejak ditinggalkan begitu saja oleh sang kekasih di cafe tadi, Yumna tak bergairah melakukan apa pun. Sang bunda yang khawatir dengan keadaan putrinya, hanya bisa mengelus punggung saat Yumna mencari ketenangan dalam pelukan bunda.

Yumna tak bercerita apa pun saat bunda menanyakan tentang apa yang terjadi. Air mata yang berderai hanya mewakili perasaan yang ada di hati, tak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Bunda pun bingung.

Penjelasan dokter tentang kondisi putrinya pasti ada kaitannya dengan kesedihan yang tengah Yumna hadapi saat ini. Namun bunda tak bisa memaksa untuk Yumna bercerita, ia memberi ruang untuk sang putri bisa menenangkan diri sejenak dari masalahnya. Lalu setelah mereda, bunda akan membahas hal itu.

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.