Lelaki Surga


Lelaki Surga

Sering kita lupa, warna kehidupan bukan hanya milik hitam dan putih saja. Terkadang merah, jingga, ungu, dan biru terlukis dalam bianglala kisah insan manusia. Bahkan, abu-abu pun hadir saat hitam dan putih menyatu.

Begitu juga dengan garis kehidupan Miranda. Bukan tentang hitam dan putih saja. Selalu ada pelangi setelah gelap menyapanya. Baginya hitam dan putih bukan sekedar hak serta kewajiban antara suami-istri tetapi ini tentang rasa nyaman dan juga saling menghargai. Sebuah cinta yang tulus tanpa syarat.

Bagi Miranda pula, memiliki Dewa adalah sebuah kebahagiaan yang nyata walaupun laki-laki itu tidak memiliki posisi penting dalam sebuah perusahaan. Dewa hanyalah seorang laki-laki dengan profesi sebagai pelukis. Sementara Miranda merupakan salah satu karyawati sebuah perusahan dengan posisi yang cukup tinggi.

“Mir, apa kamu tidak merasa jengah dengan kondisi Dewa?” tanya Tania suatu saat ketika mereka bertemu di rumah Ayah.

“Maksudnya, Mbak?” Miranda balik bertanya. Tepatnya pura-pura. Dia sudah meraba kemana arah pembicaraan Tania.

“Ya, Maksudku kalian cukup berbeda. Kalian seperti bumi dan langit. Kamu dengan jabatan tinggi dalam perusahaan sementara Dewa hanyalah seorang pelukis yang kerja dan penghasilannya tidak jelas.”

“Siapa bilang? Dewa punya penghasilan kok! Memang sih tidak sebesar aku. Tidak masalah. Toh selama ini juga kami berdua saling membantu membiayai hidup,” sanggah perempuan bertubuh langsing itu tidak nyaman.

“Coba dipikirkan kembali keadaan rumah tanggamu itu, Mir! Tidak ada kebanggaan yang bisa kamu perlihatkan dengan keadaan Dewa seperti itu.” Omongan Tania cukup menohok jantung Miranda.

“Sudahlah, Mbak! Aku yang tahu kondisi rumah tanggaku. Malahan, aku merasa tidak berharga jika bukan Dewa yang jadi suamiku. Dia … orang yang paling paham hatiku.” Sorot sendu Miranda menatap Dewa yang sedang berada di tepi kolam renang dikelilingi anak dan keponakannya.

Tania hanya mengangkat bahunya dan sedikit mencibir. Miranda tahu, Dewa hingga saat ini belum mendapat tempat di hati keluarga besarnya. Padahal sudah tujuh tahun mereka menikah dan kini ada Anaya serta Hanum buah hatinya.

Merasa ada yang sedang menatapnya, Dewa menoleh ke arah perempuan berhijab itu. Sebuah senyuman terukir di wajah teduhnya. Lengan Dewa digelayuti manja oleh Safira dan Anggun, keponakan Miranda.

Saat itu Miranda dan keluarganya datang ke acara ulang tahun Papa. Di sana hanya Dewa, suaminya yang tidak disambut hangat oleh Papa dan Mama dibanding Mas Dito dan Mas Iwan. Suami Tania dan Risa, kakak Miranda.


Sebuah tepukan hangat dan halus menyentuh pipi mulus Miranda. Terdengar suara perlahan di telinga kirinya. Wangi aroma khas tubuh yang sangat dia kenal menguar hingga rongga hidung. Miranda membuka kedua netranya. Dewa dengan koko putihnya tengah tersenyum menatap.

“Sudah subuh, Sayang! Salat berjamaah yuk!”

Tangan Dewa membelai lengan Miranda yang tengah memeluk guling. Getaran halus terasa menyentuh ruang kalbu perempuan itu. Dingin yang menenangkan. Terdengar suara azan subuh di masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Miranda bangun perlahan. Disibaknya rambut panjang yang terurai menutupi bagian depan wajahnya.

“Mas enggak ke masjid?”

“Hari ini enggak dulu. Mas cuma ingin berjamaah dengan istri Mas yang cantik. Kangen denger suara kamu baca Alquran,” jawab Dewa sambil menarik tangan Miranda.

Miranda mengangguk. “Aku ke kamar mandi dulu. Tolong siapkan mukenaku ya, Mas!”

Miranda berjalan menuju water closet. Dewa kemudian membuka jendela kamar. Hawa dingin subuh menyeruak memasuki kamar dengan cepatnya. Mengganti uap yang tersisa dari ruang yang menjadi saksi sebuah cinta dalam kehidupan. Dewa menggelar sejadah cokelat berbulu halus dengan bordiran membentuk Kabah. Satu set mukena putih disimpan di atasnya. Miranda keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.

Mereka pun kemudian salat berjamaah. Syahdu mengalun dari bibir Dewa melantunkan ayat-ayat Allah. Mereka berdua menunduk penuh kepasrahan mengikuti ajaran Baginda Nabi.

Selesai salat Miranda mencium punggung tangan Dewa. Laki-laki itu kemudian memberikan Alquran pada Miranda. Suara Miranda membaca alquran memecahkan kesunyian pagi itu. Dewa tersenyum. Miranda yang sekarang berbeda dengan Miranda tujuh tahun yang lalu. Dulu Alquran adalah hal asing buatnya walaupun dalam KTP bertuliskan muslim.


Selesai salat subuh tadi, Dewa seperti biasa langsung turun ke dapur. Apa saja dia kerjakan. Membuat sarapan, membuka semua jendela yang ada di lantai satu, menyiram tanaman, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai. Terakhir, membangunkan Anaya dan Hanum. Kemudian memandikan dan menyiapkan keperluan mereka. Di mana Miranda saat itu? Biasanya perempuan cantik berhidung mancung itu sibuk mempersiapkan diri untuk ke kantor. Namun kali ini mengekor di belakang Dewa.

“Hari ini mau sarapan apa, Sayang?” tanya Dewa sambil menyiapkan peralatan memasak.

Miranda diam dan berpikir. Lalu dia mendekati Dewa.” Apa aja deh, Mas. Aku hari ini enggak ngantor kok. Minta cuti seminggu.”

Dewa menoleh kaget. “Tumben? Dadakan banget.”

“Aku pengen sama Mas di rumah aja. Udah lama kita enggak family time berempat. Satu lagi, aku enggak mau Anaya dan Hanum lupa kalau aku ini ibunya.”

Dewa tertawa. Lalu diacak-acaknya rambut Miranda. Netra laki-laki itu mengembun. Lalu dia menarik Miranda ke dada bidangnya. Miranda memejamkan netranya sekejap. Harum tubuh Dewa menenangkan. Rangkulan mesra itu membuatnya nyaman.

“Mas, aku ini cemburu padamu. Anak-anak begitu dekat sama ayahnya. Setiap mereka bangun yang dicarinya kamu, Mas. Bahkan, Hanum kalau nangis baru mau berhenti kalau kamu yang gendong. Aku cuma jadi tempat melahirkan mereka saja. Bukan tempat mereka memeluk.” Sebuah gundah terucap dari bibir Miranda.

“Maafkan Mas, Sayang! Seharusnya Mas yang berada di posisimu mencari nafkah. Justru Mas merasa berdosa sekali. Pantas saja kalau Papa, Mama, dan kakakmu kurang menerima Mas. Tapi … ada berita baru untukmu.” Dewa membingkai wajah Miranda dengan kedua tangannya.

Miranda menatap Dewa. Ada pertanyaan lewat netranya.

“Mulai bulan depan, Mas akan mengisi posisi ilustrator di sebuah perusahaan. Dan, kerjanya tidak harus masuk kantor. Jadi masih bisa jaga anak-anak. Tentunya ada penghasilan yang rutin.” Dewa tersenyum.

Miranda tertawa. “Aku juga punya satu kejutan untukmu, Mas. Aku mau resign dari kantor dan membuka usaha kuliner bareng Nasya. Mas bisa masuk bantu kami. Suami Nasya juga siap mendukung. Waktunya juga longgar. Jadi aku bisa ngurus Mas sama anak-anak. Gimana menurutmu, Mas?”

Kini giliran Dewa yang terkejut. Sebenarnya ini yang dia inginkan. Dewa ingin Miranda tidak kelelahan mencari nafkah. Cukup dia saja. Hanya saja nasib berkata lain. Namun sekarang, di saat dia diuji dengan cemoohan justru Allah beri hadiah yang bertubi-tubi.

“Baiklah, Sayang! Kalau itu yang terbaik menurutmu. Mas ngikut aja,” kata Dewa kembali memeluk Miranda.

Inilah yang membuat Miranda luluh oleh cinta Dewa. Laki-laki yang telah menyelamatkan jiwa dan menegakkan harga dirinya agar tetap ada dalam kehormatan hidup di hadapan orang lain dan keluarganya. Laki-laki surga yang telah membawanya kembali ke dekapan Allah. Ayah yang sangat dicintai putri-putrinya.

Tidak ada yang tahu, Dewa-lah yang menolongnya ketika dia hendak bunuh diri melompat dari sebuah jembatan dengan air yang deras di bawahnya. Setelah Miranda diperkosa oleh Arnold, mantan kekasihnya sewaktu kuliah dulu.


Pict by Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.