Ikhlas Bekerja, Bonus Datang

Ikhlas Bekerja, Bonus Datang

(Saiful Amri)

Pagi itu, aku berangkat dengan penuh semangat. Tidak lupa kubawa oleh-oleh dari Tanah Suci. Air zam-zam menjadi oleh-oleh utama yang dinanti-nanti. 

       “Assalamualaikum,” salamku kepada rekan-rekan kerja di sebuah sekolah, di mana aku bekerja di pagi hari. Di siang sampai sore hari, aku bekerja di sebuah universitas.

“Alaikum salam,” sambut teman-teman serempak, “Wah, sudah balik ke Indonesia,” sapa bu Ruri, salah seorang teman kerja di sekolah tersebut.

“Alhamdulillah, Bu Ruri,” jawabku.

“Sepertinya bawa banyak oleh-oleh, ni,” kata ibu Togar, yang juga teman kerja di sekolah yang sama.

“Iya, ini oleh-oleh untuk Ibu-ibu dan Bapak-bapak,” kataku kepada semua teman kerja yang kebetulan sudah tiba pagi itu di ruang guru.

“Pak Saiful, ayo berbagi pengalaman ke Tanah Suci agar kami juga bisa berangkat ke sana,” pinta pak Maman, seorang guru yang selalu memakai peci walaupun dia bukan guru Agama Islam.

“Saya juga tidak menyangka bisa berangkat ke Tanah Suci, Pak Maman. Baiklah saya ceritakan,” kataku kepada pak Maman.

Sepulang mengajar di sekolah, aku lanjut kerja di salah satu universitas di Jakarta Timur. Aku sudah bekerja sejak lulus strata satu, hingga saat itu sudah sekitar lima belas tahun mengabdi.

Saat itu, aku dan teman-teman dosen sedang dihadapkan pada persiapan akreditasi program studi. Tim kerja dibentuk agar akreditasi memperoleh kesuksesan. Pembagian tugas pun dilakukan. Pekerjaan berakhir saat asesor BAN PT selesai melakukan asesmen.

Beberapa bulan berlalu, hari yang ditunggu pun datang. Nilai akreditasi sungguh memuaskan. Apa yang aku dan teman-teman lakukan adalah didasari tanggungjawab dan keikhllasan. Sesuatu yang tak diduga, bonus datang. Pimpinanku memberikan bonus perjalanan umroh untuk semua tim kerja akreditasi. Biaya umroh ini hanya untuk satu orang tidak termasuk pasangan (isteri atau suami).

Semua urusan yang berhubungan dengan perjalanan umroh, dilakukan oleh biro perjalanan umroh yang terdaftar resmi. Aku dan teman-teman menyiapkan dokumen yang dibutuhkan. Beberapa teman mengajak isteri, begitu juga aku. Kebetulan aku memiliki tabungan yang cukup untuk itu.

Aku mengurus paspor sendiri. Hal tersebut menghemat biaya daripada meminta pertolongan calo. Lumayan dana yang aku hemat dapat digunakan untuk keperluan lain. Aku juga membeli beberapa kebutuhan pribadi seperti pakaian dan obat-obatan yang diperlukan. 

Pihak biro perjalanan umroh menyampaikan jadwal kegiatan mulai dari manasik hingga jadwal keberangkatan. Sebenarnya, aku ingin tiba di Kota Madinah terlebih dahulu agar lebih leluasa dan santai beribadah di Masjid Nabawi termasuk berziarah ke Makam Nabi Muhammad Saw setelah perjalanan jauh dari Indonesia. Namun kenyataannya berbeda, jadwal perjalanan dimulai dari Kota Jeddah. Apa pun yang kuterima, kucoba memahami bahwa itu adalah takdir.

Setiba di Jeddah, aku dan rombongan menyucikan diri. Ini adalah miqot, di mana menjadi awal dimulainya ibadah umroh. Rombongan adalah gabungan dari beberapa daerah dengan jumlah sekitar empat puluh orang. Aku dan teman-teman mencoba berbaur saling mengenal dengan rombongan sejak kegiatan manasik di Indonesia. Selanjutnya, di tempat ini, kami mengenakan pakaian ihram. Sebagian jamaah melakukannya di pesawat sejak melintasi miqot yang diinformasikan oleh kru dalam pesawat terbang.

Saat bersuci, aku dan isteri hampir terlena. Kami berdua hampir terlambat naik bus. Tak kusangka, sebagian besar rombongan hanya berwudu saja sedangkan aku dan isteri mandi di tempat ini. Kupikir ini menjadi pelajaran di lain waktu agar menyegerakan diri bersuci dan masuk ke bus. Berwudu adalah cara bersuci sedangkan mandi lebih baik tetapi perlu diperhatikan jika dalam rombongan maka lakukan hal yang wajib saja seperti berwudu saja. Jika ingin mandi, lakukan secukupnya saja.

  Selama di dalam bus, aku dan rombongan menjaga pikiran dan perilaku dari hal-hal yang membatalkan. Setiba di hotel, kami hanya diizinkan meletakkan koper tanpa berhenti untuk tujuan lain kecuali darurat. Selanjutnya menuju Masjidil Haram. Ketua rombongan memberitahukan agar mengingat nama hotel, arah jalan, dan tanda-tanda jalan untuk menghindari tersesat. Beliau juga memberitahukan agar mengingat nomor pintu masuk Masjidil Haram yang tertulis di bagian atas setiap pintu.

Air mata menetes ketika melihat Ka’bah, sebagai arah kiblat salat. Tawaf dan sa’i dilakukan hingga tuntas ibadah umroh. Rasa pegal tak dihiraukan, kaki terasa membengkak karena berjam-jam duduk di pesawat. Kuatkan niat dan ihktiar karena Allah Swt. Ritual umroh berakhir hingga pagi dini hari. Tahan rasa kantuk hingga salat Subuh terlaksana. Semua jamaah wanita diminta berada pada saf belakang tetapi isteriku masih berada di sampingku. Saat kusadari hanya tinggal ia yang berada di tengah jamaah lelaki maka kuantar ia ke saf belakang dan memintanya jangan berpindah saf hingga aku menjemputnya selesai salat Subuh.

Beberapa hari di Kota Makkah merupakan saat yang berharga. Hilangkan rasa malas karena kaki dan tubuh pasti merasakan pegal setelah berjam-jam perjalanan dari Indonesia. Pergunakan kesempatan untuk beribadah di Masjidil Haram, di mana Ka’bah begitu dekat dengan kita. Jaga stamina dengan makan dan minum secara teratur. Konsumsi air zam-zam yang banyak tersedia di sekitar Masjidil Haram secara gratis. Air zam-zam menjadi obat dari segala obat. Niatkan bahwa meminumnya sebagai ibadah.

Suatu kejadian aneh. Hari itu baru saja pukul sepuluh pagi. Aku dan isteri sudah berada di Masjidil Haram. Setelah salat sunnah, aku baru menyadari bahwa aku berdekatan dengan tempat meletakkan sandal. Aku pindah agak ke tengah, tapi ternyata terasa panas. Kemudian aku mundur agak ke belakang, ternyata berdampingan dengan seseorang yang berbau badan sangat menyengat. Aku pun pindah lagi ke tempat lain. Tak terasa azan berkumandang, salat Zuhur saatnya dilaksanakan. Saat salat, aku berada di dekat sandal-sandal, dengan sinar matahari terasa panas, dan berdampingan dengan seseorang yang berbau badan sangat menyengat. Kejadian ini membuat aku berpikir bahwa kita tidak boleh mengeluh tentang apa yang kita alami termasuk tidak membeda-bedakan orang lain.

Selesai melakukan ritual ibadah umroh, kami melanjutkan ziarah ke Kota Madinah. Waktu sudah tengah malam, kami menginap di salah satu hotel terdekat. Pukul 2 dini hari, aku terbangun. Ini sesuai arahan ketua rombongan. Rencana, kami akan ke Masjid Nabawi bersama namun hingga beberapa waktu hanya ada satu orang yang juga sudah siap berangkat.

Aku dan teman mencari info arah menuju Masjid Nabawi. Pihak recepsionis menyarankan agar kami bertanya kepada pengelola restoran Indonesia yang berada di samping hotel. Alhamdulillah pemilik restoran sangat membantu. Ia memberitahu arah jalan menuju Masjid Nabawi. Ia juga menyarankan agar kami mengingat nomor pintu yang tertulis di atasnya.

Masjid Nabawi sangat besar. Aku melakukan salat sunah Tahiyat Masjid. Setelah itu, aku berjalan ke depan hingga sampai di Raudhoh. Aku sama sekali belum menyadari jika itu adalah Raudhoh. Aku melaksanakan salat Tahajud. Kemudian mataku tertuju kepada seorang merbot yang berperawakan seperti orang Indonesia. Aku menemuinya dan ternyata ia berasal dari Banten, Indonesia. Kemudian, aku bertanya di mana makam Nabi Muhammad Saw. Ia memberitahukan bahwa makam Nabi Muhammad Saw hanya beberapa meter dari tempatku berdiri.

Kakiku mulai kulangkahkan menuju makam Nabi Muhammad Saw untuk berziarah. Namun, merbot tersebut melarangnya karena sesaat akan azan Subuh. Aku tak menghiraukan larangannya. Antrian para penziarah cukup panjang. Tertulis larangan berhenti saat melewati makam Nabi Muhammad Saw agar antrian tak terhenti.

Setelah berziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, azan Subuh berkumandang. Aku berencana melaksanakan salat sunah Subuh. Namun alangkah kagetnya karena tak ada celah untukku. Semua saf rapat, aku bingung sekali. Di masjid yang sangat luas itu, aku berada di depan dengan posisi berdiri seorang diri. Alhamdulillah sesuatu tak terduga, seseorang yang tak kukenal, bangun dari salah satu saf, kemudian berjalan ke belakang. Aku segera menempati saf tersebut, seraya mengucap syukur dan melaksanakan salat sunah.   

Selesai berziarah di Kota Madinah, rombongan kembali ke Kota Jeddah. Dari kota ini, kami bersiap meninggalkan Tanah Suci. Kami menuju ke Tanah Air, Indonesia.***

Profil Penulis:

Saiful Amri, lahir di Bekasi pada 11 Juni 1969. Anak kelima dari sembilan bersaudara, ia sangat mengagumi ayahnya (Alm) H. Dulamin dan ibunya, Hj. Tiharoh. Pendidikan terakhirnya, Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Uhamka Jakarta. Saat ini berkerja sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Cimahi Kuningan. Beliau juga bertugas sebagai Tutor Online UT Jakarta. Aktif dalam kegiatan literasi sebagai narasumber, penanggungjawab event, dan anggota di beberapa komunitas literasi. Saat ini telah menerbitkan sekitar lima puluh judul buku yang sebagian besar nulis bersama. Pemilik akun fb: Sam Saiful Amri dan Ig: Saiful Amri ini dapat dihubungi melalui WA 081388935209.

Sumber foto: Dokumen Pribadi.

Rumahmediagrup/saifulamri

2 comments

  1. Pengalaman yang mengharukan, jadi ingin kembalibke tanah suci membawa semua anak yang telah kulahirkan, sujud bersama di depan ka,bah, kiblat orang muslim sedunis, ya Allah kabulkanlah, Aamiin.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.