Ikhlas yang Berbuah Manis

Aku bekerja di perusahaan konfeksi, sebagai karyawan. Jam kerja dimulai pukul 08.00-17.00 wib. Karena belum mempunyai kendaraan, aku memakai jasa jemputan mobil menuju tempat kerja. Setiap hari rutinitas itu kujalani. Sebelum berangkat aku pastikan untuk salat dan berdoa agar semua berjalan lancar dan dimudahkan.

Capek juga sebenarnya harus berjalan kaki tiap hari. Walaupun kuanggap olahraga pagi dan sore, dari rumah hingga jalan raya harus melewati sawah dan ilalang. Ada sih jalan untuk dilalui kendaraan roda dua jadi tak perlu melewati sawah, tapi untuk menghemat waktu dan tenaga aku melewati jalan pintas.

Sempat berpikir aku harus mempunyai kendaraan, agar lebih menghemat. Sedikit demi sedikit kusisihkan tiap bulannya, minimal untuk uang muka pembelian motor. Bersyukur kepada Allah, walaupun gaji sebagai karyawan tak seberapa, aku masih bisa menabung.

Suatu hari aku terlambat bangun, karena semalaman tak bisa tidur. Kebetulan malam hari itu mati listrik, sehingga cuaca panas dan sangat gerah. Aku tergesa-gesa bersiap diri, semua kulakukan dengan terburu-buru.

Saat melewati sawah dan ilalang, aku terpeleset karena tergesa-gesa. Seragamku kotor, kesal rasanya. Coba kalau aku mempunyai kendaraan, beberapa menit saja sudah sampai tempat kerja. Aku mengeluh dengan kejadian ini.

Aku menyalahkan orang tua, mengapa aku dilahirkan dengan kondisi miskin dan kekurangan. Rasanya hidup ini tak adil. Allah tak adil kepadaku, dari kecil aku selalu susah. Pagi itu aku marah dan menyalahkan Allah.

Selepas membersihkan seragam, aku bergegas jalan kembali untuk mengejar waktu. Aku takut tertinggal jemputan karyawan.

Sebentar-bentar kulihat jam, tak terasa aku sudah menunggu hampir lima belas menit di bawah halte oranye. Namun yang ditunggu belum juga kunjung datang. ‘Ke mana dulu mobil jemputan ini berkeliling? pikirku.

Kembali kulihat jam tangan, lalu kubuka ponsel. Ternyata waktu begitu cepat, gemuruh lalu lalang kendaraan hilir mudik depan halte oranye membuatku semakin marah. Coba aku bisa tidur semalam, tidak akan terlambat bangun.

Seandainya aku mempunyai motor, aku bisa langsung ke tempat kerja. Tanpa harus jalan kaki tiap hari. Coba kalau enggak terpeleset, tak akan lama ke tempat jemputan. Kembali aku menyalahkan yang terjadi.

karena kejadian itu, aku tidak bisa masuk kerja. Rupanya mobil jemputan sudah lewat 15 menit sebelum aku tiba di halte oranye. Semakin geram mengingat kejadian terpeleset ke sawah. Seragam kotor dan lusuh. “Kena potongan gaji deh, bulan ini,” lirihku di sela-sela suara gemuruh kendaraan yang semakin ramai.

Aku putuskan kembali ke rumah, karena percuma juga berangkat pasti terlambat sekali. Belum nanti dimarahi oleh kepala bagian di pabrik. Menyesali kejadian malam karena mati lampu, mengapa bangun terlambat.

Percuma aku menyesali yang telah terjadi, aku harus ikhlas menerima cobaan yang diberikan Allah kepadaku. Ikhlas Allah yang memberikan rezeki, semua telah diatur oleh Allah SWT.

Setengah jam kemudian, setelah tiba di rumah. Aku menghubungi kantor untuk izin bahwa hari ini tidak bisa masuk kerja. Namun pihak kantor merasa kaget mendengar informasi yang kuberikan. Mereka malah mengucapkan syukur, karena aku tidak masuk kerja hari ini.

Ternyata, mobil jemputan yang setiap hari menjemput karyawan mengalami kecelakaan lalu lintas. Semua karyawan terluka parah bahkan banyak penumpang tewas di tempat kecelakaan. Hanya aku, calon penumpang jemputan yang selamat dan tak terluka.

Gara-gara aku terlambat bangun dan terpeleset ke sawah, sehingga tidak jadi masuk kerja. Doa tidak harus dikabulkan sesuai permintaan. Namun terkadang diganti oleh Allah SWT dengan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang diminta.

Allah Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya dibandingkan diri kita. Untuk itu janganlah jemu dalam berdoa, jangan mengeluh apalagi menyalahkan Allah. Kita harus Ikhlas apapun yang telah digariskan Allah. Sesuai dengan janji Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah; 216).

Wallahu A’lam Bishowab

Foto diambil dari galeri pustaka

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Pinjem kaka, maafin ya. Pinjam terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.