Perjodohan (1)

PERJODOHAN (1)

“Ayah ingin kau menikah dengan Arfa.”

Naura terdiam. Hal itu sudah berkali-kali ayahnya sampaikan, tetapi gadis itu enggan menanggapi.

“Kali ini Ayah serius, Nak. Ayah dan orang tuanya Arfa sudah menyetujui perjodohan kalian.”

“Maaf, Ayah, aku tidak setuju. Aku tidak bisa hidup berumah tangga dengan seseorang yang tidak kukenal,” elak Naura kesal.

“Bagaimana bisa kau mengenalnya jika kau tidak memberikan kesempatan untuk menemuinya. Dengan begitu, kalian bisa saling mengenal satu sama lain,” ujar Ayah meyakinkan.

“Bagaimana bisa Ayah dan orang tua lelaki itu menyetujui perjodohan kami, sementara kami belum tentu mau dijodohkan?”

“Arfa sudah mau dijodohkan denganmu, bahkan dia siap datang kemari untuk menemuimu.”

Naura cukup terkejut dengan pernyataan ayah. Bagaimana bisa lelaki itu menerima perjodohan ini?

“Temuilah dulu sebelum kau memutuskannya, Nak.”

“Jika aku tetap tidak suka?”

“Ayah yakin, kau pasti akan menyukainya.”

“Tapi itu terlalu cepat, Ayah,” sanggah Naura tak mau kalah.

“Bukankah lebih cepat lebih baik. Lagi pula, Arfa lelaki yang saleh, baik dan mapan. Apa kurangnya dia bagimu, Nak?”

“Aku tidak mencintainya, Ayah.”

“Seiring waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Kalian hanya perlu saling mengenal saja.”

Tak ada pilihan lain bagi Naura untuk menerima tawaran sang ayah. Ia pun pasrah dengan perjodohan yang tiba-tiba ditawarkan. Di usia dua puluh lima tahun, memang telah cukup baginya untuk menikah dan menjalani hidup berumah tangga.

Namun ia tak pernah membayangkan jika harus menikah karena dijodohkan. Bagaimana bisa dua orang asing yang tak saling mengenal, tiba-tiba harus dipertemukan dan dipaksa untuk menjalani sebuah pernikahan, karena komitmen yang sudah disepakati orang tua kedua belah pihak?

Bagaimana rasanya hidup seatap, berstatus suami istri, tanpa rasa saling mencintai dan hidup bersama bagai dua orang yang saling tak mengenal? Akankah hubungan pernikahan itu akan berhasil?

Membayangkannya saja membuat Naura sudah pusing tujuh keliling. Penat yang tiba-tiba menumpuk menjadi sebuah beban berat. Seperti sebuah mimpi buruk jika akhirnya harus bersanding dengan lelaki itu di pelaminan.

Naura tak bisa lagi mengelak saat ayah mengatakan jika lelaki yang dijodohkan dengannya itu akan datang besok lusa. Ia hanya bisa berpasrah dengan keadaan. Menerima takdir kalau pun ia harus menerima perjodohan itu. Demi membahagiakan sang ayah yang selama ini sudah banyak berkorban untuknya.

**

Lelaki itu ternyata di luar dugaan Naura. Wajah tampan rupawan memberi kesan pertama yang menggoda. Tubuh tinggi tegap dengan otot terbentuk yang terlihat samar dari balik kemeja panjangnya, membuat gadis itu yakin, jika Arfa sering melakukan olahraga di pusat kebugaran.

Namun satu hal yang tak bisa ditutupi, ia sedingin es. Keacuhannya memberikan kesan tersendiri yang membekas di hati. Naura semakin tertarik dengan sikap cuek yang ditampilkan sejak awal ia datang.

Sepanjang waktu yang terlalui, hanya beberapa kata saja yang mampu terlontar dari mulut lelaki itu. Naura yang begitu menjaga harga diri, tak begitu antusias menanggapi Arfa. Ia tak ingin memberikan kesan jika ia dengan senang hati menerima perjodohan itu.

Hanya ayah dan Arfa yang saling bicara. Sedangkan Naura lebih banyak diam, meski dalam hati ingin sekali tahu banyak tentang lelaki itu. Tapi ia harus bersabar. Akan ia gali tentang lelaki itu dari ayah, agar bisa memantapkan hati untuk melangkah lebih jauh.

Sekilas yang ia dengar, Arfa adalah seorang pemilik hotel ternama. Di usia mudanya, lelaki itu sudah berhasil meneruskan usaha sang ayah yang dirintis dari bawah.

Arfa bercerita pada ayah, bagaimana ketika ia dengan berbagai rintangan mengembangkan usaha yang diwariskan itu agar tetap menjadi bisnis turun temurun keluarganya. Naura hanya bisa menguping dari balik dinding saat ia membuatkan teh untuk ayah dan Arfa.

Namun, yang membuat Naura heran, bagaimana bisa lelaki tampan dan mapan seperti Arfa mau menerima perjodohan dengan perempuan sederhana seperti dirinya? Tuluskah ia menerima perjodohan itu? Bisakah mereka saling mencintai nantinya? Ataukah justru akan saling membenci?

Naura segera menepis pikiran buruk yang hendak menguasai pikirannya. Bagaimana pun juga pilihan ayah untuk memilihkan jodoh dengan Arfa, pasti sudah melalui pertimbangan dan keputusan yang terbaik. Ayah tak akan mungkin menjerumuskan putri satu-satunya dalam sebuah penderitaan.

Hingga waktu menjelang makan siang, Arfa pamit pulang. Ia tak bisa berlama-lama karena harus melanjutkan pekerjaannya di kantor. Padahal Naura sudah menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga, tapi dengan sopan lelaki itu menolak.

Ia akan datang lagi di hari lain untuk menikmati makan siang. Begitu katanya.

Arfa pergi meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak Naura. Sementara dalam hatinya mulai ragu, akankah ia menerima perjodohan itu? Melihat lelaki itu begitu sopan, tampan dan mapan.

Naura tidak menampik, jika ia menyukai Arfa dan semua yang ada pada dirinya. Termasuk sikap cueknya yang membuat semakin penasaran. Ia harus memantapkan hati, jika Arfa adalah jodoh yang dikirimkan Allah.

**

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.