Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 15 (Mitos)

Aki dan Ambu – Bagian 15 (Mitos)

Masih pagi buta saat terdengar sayup-sayup pengumuman melalui toa masjid.  Pengumuman dengan intonasi khas yang begitu familier di telinga warga. Disusul kemudian dengan bunyi kentongan yang dipukul berirama lima kali lima kali.

”Siapa lagi yang meninggal, Ki?” tanya Ambu sambil menggantung mukenanya yang  baru saja dia lepas.

“Kalau Aki tidak salah dengar, yang meninggal itu Pak Haji Idris. Yang tinggal di dusun satu, Ambu,” jawab Aki.

“Kita takjiyah sekarang, Ki?” tanya Ambu lagi.

“Nunggu agak siangan dikit, Ambu. Kira-kira jenazahnya sudah dimandikan. Biar Aki bisa sekalian menyolati,” jawab Aki sambil memindahkan chanel televisi mencari siaran siraman rohani.

Ambu beranjak menuju dapur. Dia mulai sibuk menyiapkan sarapan.

Kira-kira setengah jam kemudian, Ambu membawakan Aki teh jahe dengan sepiring pisang goreng. “Nih, minumnya, Ki,” katanya sambil meletakkan gelas di depan Aki Rahmat.

“Terima kasih, Ambu. Tahu saja kalau Aki mau yang panas-panas,” canda Aki.

Ambu hanya menjawab dengan senyuman. Dia  duduk di kursi seberang Aki. “Oh ya, Ki. Ambu pernah dengar orang sini bilang,  jika ada orang meninggal hari Sabtu, maka akan banyak juga yang mati setelahnya,” papar Ambu.

“Maksudnya gimana, Ambu?” Aki mengernyitkan dahi.

“Di sini ada mitos, jika pada hari Sabtu ada yang meninggal, maka dia akan mengajak yang lain untuk meninggal juga,” jawab Ambu.

‘Ah, ngawur itu,” tukas Aki.

“Makanya …. Ambu menyebutnya mitos. Tapi, masyarakat sini sangat mempercayainya lho, Ki. Banyak terjadi, setelah ada yang meninggal hari Sabtu, selalu saja ada yang meninggal setelahnya. Ya seperti sekarang ini. Sabtu lalu, Mang Jalil meninggal. Eh, besoknya Bu Maryam menyusul.  Selang beberapa hari kemudian, ada lagi yang meninggal. Nah, hari ini, giliran Pak Haji Idris yang meninggal. Aki dengar sendiri kan, hampir setiap hari ada saja kabar orang meninggal,” Ambu menjelaskan panjang lebar.

“Ambu percaya bahwa yang meninggal hari Sabtu mengajak yang lain untuk meninggal juga?” Tanya Aki.

“Ya engga juga,” jawab Ambu pendek.

“Kok jawabnya seperti ragu-ragu begitu? Lagian, ngajak tuh kalau mau jalan-jalan atau shoping. Meninggal kok ngajak-ngajak. Ga masuk akal  pisan,” gerutu Aki. “Memangnya Malaikat Izroil itu seperti manusia yang berprinsif sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Huh, ada-ada saja,” Aki geleng-geleng kepala. “Yang namanya ajal itu, sudah ditentukan sejak kita ada di alam ruh. Tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan sedetik pun. Malaikat Izroil itu, hanya akan mencabut nyawa orang yang memang sudah habis rezekinya di dunia ini. Begitu kan, Ambu?” Kembali bertanya pada Ambu.

“Iya, Ki. Ambu juga paham. Di pengajian juga sering diingatkan oleh Pak Ustadz tentang kematian itu,” jawab Ambu. “Oh ya, Ki. Masih ada mitos lainnya lho,” katanya lagi seperti sengaja membuat Aki penasaran.

“Mitos tentang apa lagi, Ambu?” betul saja, Aki terlihat begitu penasaran.

“Jika sudah melayat yang meninggal, kita tidak boleh langsung menengok orang yang sakit, soalnya …,” sampai di situ Ambu sengaja tidak melanjutkan kata-katanya. Dia ingin tahu reaksi Aki. “Aki penasaran kan?” kata Ambu diakhiri tawa renyahnya melihat Aki mengernyitkan dahi.

“Ah, tidak juga,” Aki mengelak. “Itu sih mungkin buat jaga-jaga saja agar kita tidak menulari si sakit,” Aki berargumen.

“Mungkin itu betul, Ki. Tapi masyarakat di sini justru beranggapan bahwa jika kita menengok yang sakit seletah melayat yang meninggal, si sakit yang kita tengok pun akan segera meninggal,” papar Ambu.

“Wah, ga bener itu Ambu. Takhayul,” Aki geleng-geleng kepala.

“Itu fakta yang terjadi di masyarakat kita, Ki,” tukas Ambu.

“Iya, Aki paham. Seharusnya dibahas juga tuh dalam pengajian-pengajian. Biar masyarakat tercerahkan. Kita kan harus percaya pada qodo dan qadar. Jika mempercayai mitos, jatuhnya bisa musyrik kan?” Aki tampak kesal.

“Iya, Ki. Mudah-mudahan masyarakat di sini segera mendapat pencerahan. Kita takjiah sekarang yu, Ki!” ajak Ambu sambil melangkah ke luar rumah. Aki Rahmat mengikutinya tanpa berkata-kata.

#WCR_tetap_cerbungsinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.