Ikhlas dalam Beramal

Ikhlas dalam Beramal
Oleh: Eti Nurhayati

Dalam setiap majelis yang mengkaji tentang amal perbuatan manusia, pembahasannya selalu dikaitkan dengan kata ikhlas.

Berbuat baik semata-mata hanya karena Alloh SWT, itulah yang disebut ikhlas. Sekecil apapun amal kebaikan kalau dilandasi dengan ikhlas, maka akan bernilai ibadah. Sebaliknya perbuatan baik yang nampak luar biasa di pandangan manusia bila tidak dilandasi dengan ikhlas, maka tak bernilai di hadapan-Nya. Wah...Betapa dahsyat ikhlas itu, bukan?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering meremehkan perbuatan yang nampaknya enteng di pandangan kita,contohnya senyum. Sebenarnya senyum itu bisa bernilai ibadah kalau senyumnya itu ikhlas. Di sisi lain, orang sering kagum pada donatur pembangunan mesjid atau sarana lainnya yang sumbangannya mencapai jutaan bahkan milyaran rupiah, tapi digembor-gemborkan beritanya.Muncullah pertanyaan,Apakah amalan itu bernilai ibadah? Ikhlaskah?

Allah SWT tidak menghitung seberapa banyak dan seberapa sering hambanya beramal, melainkan menilai seberapa dalam keikhlasannya.

Ikhlas sesungguhnya ada dalam hati seseorang. Kita tidak bisa menakar kadar keikhlasan amal seseorang. Apabila beramal baik hanya untuk mendapat pujian, penghargaan , atau imbalan dari sesama manusia, maka akan sia-sia amalannya itu.

Kalau kita mengkaji AlQur-an di dalamnya terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan seruan ikhlas, diantaranya sebagai berikut:

“Katakanlah, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri ( kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163).

Katakanlah,”Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula (QS. Al-A’raf:29).

Padahal mereka diperintah hanya untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam beragama secara lurus, dan juga agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (QS.Al-Bayyinah:5)

Rasullullah SAW bersabda:
“Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata”. (HR Abu Daud dan Nasa’i).

Ada beberapa keutamaan ikhlas, antara lain:
1. Perintah langsung dari Allah SWT (QS.Azzumar:2)
2. Syarat utama diterimanya amal (QS. Al Bayyinah:5)
3. Ditakuti oleh syetan (QS.Al Hijr: 40)
4. Do’a akan diijabah
5. Mendapat naungan (perlindungan) di Hari Kiamat

Untuk dapat ikhlas memang bukan hal yang mudah. Orang yang mendapat hidayah dari-Nya yang mampu melakukan ibadah dengan ikhlas. Oleh karena itu, selayaknya kita selalu mohon perlindungan kepada-Nya agar dijauhkan dari godaan syetan serta hawa nafsu duniawi yang dapat menghalangi niat ikhlas kita dalam beribadah.

Tetaplah berusaha untuk melakukan perbuatan baik, dimanapun dan kapanpun serta bagaimanapun kondisi kita.

Wallahu’alam bisshawab

Tasikmalaya,18 Juli 2020

Ket: gambar ilustrasi dari internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.