Ikhlas Kumenyayangimu, Ikhlas Kumelepaskanmu

Ikhlas Kumenyayangimu, Ikhlas Kumelepaskanmu

Hujan baru saja reda dengan meninggalkan genangan di mana-mana. Sang surya kembali memancar. Sisa-sisa hujan menguap, putih mengepul seolah berlomba menuju sang empunya terik.

Sepasang kaki kecil bergerak lincah. Keciprak air genangan dipermainkan tapak kaki mungil itu. Sesekali terdengar celoteh diselingi tawa riangnya. Suasana seperti itu begitu dinikmatinya. Lengking teriakan dan tawa lepasnya tanpa beban, mengalir begitu saja.

“Ade. Sini Nak!” panggilku dari teras rumah. “Sudah dulu mainnya ya,” lanjutku.

 “Sebentar lagi, Bunda,” sahutnya sambil berlari-lari-lari kecil mengitari halaman.

Air yang menggenang di beberapa bagian halaman mulai surut, seolah ada magnet yang menariknya ke dalam tanah.

“Ade …. Ayo mandi dulu!” teriakku lagi.

“Siap, Bunda,” sahunya sambil berlari mendekat.

“Sini, Bunda basuh dulu kakimu!” ajakku.

Kubasuh kaki mungilnya dengan air keran di dekat teras. Sekalian kubuka bajunya yang basah dan kotor terkena cipratan  air genangan. Tinggallah celana dalamnya. Sengaja tak kulepas celananya itu untuk menjaga rasa malunya.

“Ayo bersihkan dulu badanmu!”  suruhku.

Dengan riang, kaki-kaki mungil itu berlari kecil menuju kamar mandi. Aku segera menyusulnya setelah mengambil handuk.

“Keramas juga ya, Bunda,” pintanya.

Aku hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. Aku mulai membasuh tubuh mulusnya itu dengan air.

“Hiiiiiii brrrrrr … dingin Bunda,” celotehnya diakhiri tawa renyahnya.

Selesai mandi, kubalut  tubuhnya dengan handuk. Lalu, kugendong dia menuju kamar.

Mulut mungilnya tak henti berceloteh. Sesekali dia mencium pipiku. Terasa sekali betapa sayangnya dia padaku.

Saat-saat seperti itu sangat kunikmati. Kupeluk erat tubuhnya dalam balutan handuk.  Hangatnya terasa sampai ke dalam dada.

**

“Bunda …,” suar lirihnya membuyarkan lamunanku.

“Iya, Sayang. Ada apa?” tanyaku sambil membelai rambutnya.  Terasa panas suhu tubuhnya.

“Ade haus, Bunda,” katanya lagi.

Segera kuambil gelas minumnya. “Bismillah …,” gumamku diikutinya. Dia minum dengan nikmatnya. Kelihatan sekali jika dia benar-benar haus.

“Sudah, Bunda,” katanya sambil menjauhkan gelas dari mulutnya.

“Alhamdulillah,” ucapku diikutinya.

“Terima kasih, Bunda. Bundaku memang tebaik  di dunia. Ade saaayang Bunda,” pujinya sambil mengacungkan kedua jempolna.

“Terima kasih, Sayang. Ade memang anak yang paling baaaaik sedunia. Bunda juga saaayang Ade,” balasku memujinya.

Dia hanya terkekeh mendengar pujianku itu. Kukecup keningnya. Panas menjalar dari bibir hingga hatiku. Aku tersentak. “Ya Allah, Ya Tuhan! Panasmu naik lagi, De!” teriakku. Aku begitu panik. Tapi dia malah menyunggingkan senyum di bibir mungilnya.

“Ade tidak apa-apa, Bunda. Ade baik-baik saja, kok,” kilahnya.

Aku segera memijit bel untuk memanggil perawat jaga. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu. Perawat pun datang.

“Ada apa, Bu?” tanyanya. Dari papan nama yang dikenakannya, aku tahu dia bernama Anita.

“Panasnya tinggi lagi,” ujarku sambil meletakkan telapak tangan di kening anakku.

“Sebentar ya, Bu. Saya periksa dulu,” katanya sambil memeriksa kondisi Ade.

Saat diperiksa, tubuh Ade tiba-tiba kejang. Perawat yang memeriksanya terlihat panik. Dia langsung memijit bel untuk memanggil perawat lainnya. Sebentar kemudian, perawat lainnya pun datang.

“Telepon Dokter Antoni!” perintah suster Anita pada rekannya.

Yang disuruh pun segera menelepon Dokter Antoni. “Sebentar lagi Dokter ke sini,” ujarnya sambil membantu mengupayakan agar Ade tidak kejang lagi.

Ade terkulai bersamaan dengan munculnya Dokter Antoni  di ambang pintu. Dokter itu pun segera memeriksa kondisi Ade yang terkulai dengan mata setengah terpejam.

Kutatap wajah anakku dengan perasaan galau. Wajahnya pucat, tetapi nampak begitu damai.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Dokter Antoni pada kedua perawat itu.

“Kami juga bingung Dok. Hasil labnya belum keluar. Kita belum tahu apa penyakit yang sebenarnya Ade derita. Sejam yang lalu, saat kita periksa, kondisinya membaik kan, Dok,” ujar Suster Anita.

“Iya. Tadi kondisinya telah membaik,” Dokter Antoni menegaskan. “Tapi mengapa jadi begini?” tanyanya lagi.

Aku menyimak perbincangan mereka dengan perasaan yang tidak karu-karuan. Tubuhku tiba-tiba terasa begitu dingin. Aku menggigil saat membayangkan hal terburuk terjadi pada anak lelakiku itu. Dia baru saja masuk Sekolah Dasar tahun ini. Dia terlalu muda untuk kembali.

Ada yang perih di dalam dadaku. Mataku membasah. Bulir-bulir di kedua sudut mataku mulai meleleh. Makin lama makin deras. Tangisku pun pecah saat Dokter Antonio berkata, “Maaf, Bu. Kami telah berusaha. Tapi kami tidak bisa menolak takdir. Tuhan sangat merindukan Ade. Hingga Dia memanggilnya secepat ini.”

Kutepiskan tangan Suster Anita saat mau menutupkan selimut pada seluruh tubuh anakku. “Sebentar, Suster. Saya ingin puas dulu menatap wajahnya,” kataku padanya. Kuciumi wajah pucat anak kesayanganku itu. kupeluk erat tubuhnya yang berangsur mendingin. Dalam isak tangis, kutelepon suamiku. Dia histeris saat kukabari anak semata wayang kami telah mendahului menghadap Sang Pencipta.

Aku ingin menghujat, mengapa Dia memanggil kembali anakku dalam usia begitu belia. Untunglah kesadaranku segera kembali. Ade adalah amanah bagi kami. Kami sangat bersyukur saat Tuhan menganugerahkannya setelah lebih dari sepuluh tahun kami menanti.  

Kini, Dia mengambil kembali Ade dari kami. Apa dayaku. Aku tak bisa menolak takdir. Maut adalah rahasia-Nya. Kini dia lebih dahulu datang pada anakku.  Aku hanya bisa berkata lirih di sela sedanku, “Tuhanku, terima kasih engkau telah menganugerahkan Ade pada kami. Meskipun sekejap, dia adalah anugerah terindah untuk kami. Ampuni aku dan suamiku jika Kaunilai kami lalai menjaganya.”

Aku terus memeluk tubuh mungil buah hatiku. Diiringi gemercik rincik hujan, kuberbisik di telinganya, “ Hujan pun akan kehilanganmu, Nak. Tak akan ada lagi yang bermain di halaman rumah kita yang basah setelah ia reda.”  Kuhela napas untuk megurangi rasa sesak di dada. “Bunda sayang Ade, ikhlas karena Allah. Kini, Bunda pun ikhlas melepas Ade untuk kembali pada-Nya. Selamat jalan, Sayang. Tunggulah ayah dan bundamu di surga.”  ***

WCR_ditentukan_cerpensinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.