Ikhlas Terima Takdir

Sore itu Mirna tiba-tiba merasa pusing saat dia sedang memasak di dapur. Tapi ia mencoba menahan rasa sakitnya itu dengan duduk sejenak. Ia merasa khawatir, jangan-jangan tensinya lagi kambuh. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur, segera ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Niatnya untuk mandi sore, jadi urung. Tubuhnya serasa letih dan lesu. Tak terasa air matanya menetes. Entah apa yang dipikirkannya.
“Neng, mama ke mana?” terdengar suaminya yang baru datang bertanya kepada anak bungsunya.
“Ada Pak, di kamar”. Jawab anak perempuannya.
“Kenapa mama, sakit?” tanya suaminya lagi.
“Ga tau Pak, katanya tadi pusing”.
Segera suaminya masuk ke kamar.
“Kenapa Mah?” Tanya suaminya
Mirna hanya diam saja. Tanpa sepengetahuan suaminya air matanya malah menetes. Pikirannya kacau.
“Udah minum obat belum?” Suaminya bertanya lagi. Sambil memijat kaki dan tangan Mirna. Mirna tak menjawab ia hanya menjerit-jerit kesakitan saat suaminya memijatnya. Badanya serasa remuk.
“Oooh ini kayanya masuk angin”. Kata suaminya lagi sambil terus memijat tubuh istrinya beberapa saat.
Mirna merasa sedih, setelah pembantunya tak lagi bekerja di rumahnya, beban kerjanya semakin bertambah. Namun suaminya tak pernah membantu pekerjaan rumahnya. Padahal selama ini Mirna yang selalu memenuhi segala keperluan hidup keluarga.
Hampir dua tahun suaminya tak pernah memberinya uang belanja. Ia tenang-tenang saja seolah tak peduli karena mungkin merasa istrinya punya penghasilan.

Pernah suatu hari Mirna pulang kerja sangat kecewa dan dongkol. Dua jolang besar rendaman cucian masih utuh. Padahal pagi-pagi suaminya berjanji akan mengerjakannya.
“Ini gimana katanya tadi mau mencuci satu jolang, tapi dua-duanya masih utuh”. Gerutu Mirna sambil memaki-maki sendirian
Belum lagi ketika melihat piring-piring kotor berserakan di dapur dan di tempat cuci piring, semakin dongkol saja hatinya. Nasi belum ada. Perutnya yang mulai keroncongan terpaksa harus ditahan. Mulutnya tambah meracau saja. Betapa repotnya ia tanpa pembantu. Belum lagi pakaian yang belum disetrika semakin menumpuk. Akhirnya meski masih cape ia kerjakan semua itu.
Ia tak pernah mengerti jalan pikiran suaminya. Sejak menikah hampir 20 tahun, Ia merasa diperbudak. Kenapa istri yang kerja banting tulang di rumah dan di luar rumah, sedangkan laki-laki yang harusnya bertanggung jawab atas semua pekerjaan itu santai-santai saja. Meskipun dulu ia punya pembantu tapi Mirnalah yang menggajinya. Bila ingat semua itu Mirna hanya mencoba untuk ikhlas menerima. “Ini sudah taqdirku, Punya suami seperti itu”. Ia mencoba menghibur diri sendiri. Meskipun lelaki itu bukan atas pilihannya sendiri.

Dulu ia dipertemukan oleh tetangganya bisa bertemu lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Ya, karena tak mau mengecewakan orangtuanya ia mau menerima lelaki itu. Karena dulu wanita seusia dia kalau belum menikah sudah jadi bahan cemoohan.
“Sudahlah Neng, kalau menurut Bapak, kamu mau nyari yang gimana lagi”Kata ayahnya saat Mirna dipertemukan dengan laki-laki itu. Mirna hanya diam. Belum pernah ayah memberikan pandangan seperti itu. Sepertinya ayah tak mau Mirna terus menerus menolak setiap lelaki yang bermaksud meminangnya. Bagi Mirna ayahnya adalah orang yang paling bijak. Ga mungkin ayah bicara seperti itu kalau ayah tak setuju.
“Iya Pak”. Mirna hanya menjawab seperlunya

Saat menikah Mirna sudah menjadi PNS. Beruntungnya laki-laki yang menjadi suami Mirna, punya istri sudah punya penghasilan yang tetap.
Namun bagaimanapun perempuan seperti Mirna yang sudah punya penghasilan, tentu saja ia pun masih ingin diberikan hak-haknya dari suami. Karena yang harus bertanggung jawab menafkahi itu adalah kewajiban seorang suami. Tapi terkadang ia hanya bisa berlinang air mata menerima takdirnya. Karena sang suami punya penghasilan yang tidak tetap. Usaha yang digelutinya hanyalah usaha kecil-kecilan.
Bebannya bertambah berat. Karena selain anak-anaknya, ia pun punya kewajiban mengurus dua anak yatim. Anak dari adiknya yang sudah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta.
Sebenarnya Mirna harus menjaga kondisi badannya. Karena sejak ia melahirkan anak kedua ia punya penyakit darah tinggi yang kadang kambuh jika ia kecapean atau kurang tidur. Sekarang ia gampang cape dan cepat lelah. Tapi suaminya seperti tak pernah mempedulikan meskipun ia tahu kondisi istrinya itu. Mirna harus ikhlas menerima takdirnya seperti ini. Ia hanya mencoba menerima kenyataan akan sifaf suaminya. Ia berharap suatu saat akan ada perubahan dalam diri suaminya agar lebih peduli kepada keluarga terutama kepada dirinya.

Sumber foto: Pinterest

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.