Perjodohan (2)

PERJODOHAN (2)

Tak pernah terbayangkan dalam benak Naura akan bersanding di pelaminan dengan lelaki yang tak ia cintai. Meski pertemuan dengan Arfa sudah ketiga kalinya terjadi, tetap saja, hanya kekaguman yang tumbuh dalam hati. Tak mudah untuk mencintai seseorang dalam waktu yang singkat.

Dengan semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri Arfa, Naura ikhlas menerima lelaki itu menjadi suaminya. Ketampanan dan kemapanan, membuat ia memiliki keyakinan, Arfa bisa membahagiakannya.

Semoga cinta akan tumbuh seiring waktu di hati keduanya. Semoga Allah meridai pernikahan yang meski dengan jalan perjodohan, tapi ada restu orang tua yang bisa mengantarkan pada sebuah kebahagiaan.

Pesta pernikahan digelar cukup meriah. Semua tamu undangan yang hadir tak henti memuji pasangan pengantin yang terlihat berbahagia. Terlihat binar itu di kedua nerta Arfa. Tampak ia begitu menikmati pesta.

Naura terkadang bertanya dalam hati, apakah lelaki itu tulus menerima dirinya sebagai istri, atau hanya sekadar mengikuti keinginan orang tua, untuk menerima perjodohan itu.

Karena bagi Naura sendiri, ia akan menerima Arfa seutuhnya. Ia akan belajar mencintai dan menerima segala kekurangan suaminya. Lalu, bagaimana dengan Arfa?

Kini tugas Naura menunaikan kewajiban sebagai seorang istri untuk berbakti pada suami. Ia berharap Arfa akan menjadi imam yang dapat menuntun hingga ke surga-Nya nanti.

Hari pertama tinggal dalam satu atap, bersama dalam satu ranjang membuat Naura merasa canggung. Namun Arfa seolah tak merasakan itu. Ia tidur tepat di sisi ranjang yang lain, di samping istrinya.

Arfa memerintahkan untuk menyimpan semua keperluan Naura dalam satu kamar yang sama. Arfa tak pernah memperlihatkan rasa tidak suka atau perlawanan akibat perjodohan itu. Ia seperti menikmati rumah tangga yang mulai dijalani.

Rumah yang cukup besar dengan gaya minimalis itu menjadi hadiah pernikahan dari Arfa untuk Naura. Rupanya Arfa telah mempersiapkan semua kebutuhan untuk rumah tangga yang hendak dibinanya.

Rumah lengkap dengan isi telah siap untuk dihuni. Dengan taman yang ditumbuhi bunga mawar kesukaan sang istri. Naura merasa tersanjung dengan hadiah-hadiah itu.

Ia tak menyangka akan diberikan keistimewaan oleh lelaki yang masih asing baginya. Meski sikap dingin membalut kebaikan yang diberikan Arfa, tapi Naura merasakan ketulusan lelaki itu.

Benar kata sang ayah, Arfa adalah lelaki yang saleh. Tak pernah tertinggal salat lima waktu. Naura bahagia bisa menjadi makmum yang dihujani dengan segenap perhatian dalam diam yang diberikan suaminya.

Sebagai seorang istri, tugasnya melayani suami dua puluh empat jam. Meski untuk satu hal belum ia jalankan, melayani Arfa di atas ranjang. Naura masih ragu. Malu untuk memulai terlebih dulu. Lagi pula, Arfa pun seperti memberi ruang untuk mereka bisa sama-sama saling menerima sepenuh hati.

Bagi Naura, Arfa adalah sosok lelaki yang ia damba selama ini. Meski sikap dingin melengkapi semua yang ada pada dirinya, tapi ia menerima itu. Ia bahkan mulai terbiasa dengan sifat itu.

Setiap pagi, Naura berusaha bangun sebelum azan subuh berkumandang. Ia membereskan rumah dan mempersiapkan semua keperluan Arfa ke kantor.

Saat waktu salat subuh tiba, ia baru membangunkan suaminya untuk menunaikan salat subuh berjamaah.

“Aku salat di masjid dekat rumah ya,” ujar Arfa sudah lengkap dengan baju koko dan sarung.

Naura mengiyakan. Setelah menjalankan salat dua rakaat, ia langsung pergi ke dapur. Secangkir kopi panas dan nasi goreng menjadi menu sarapan yang disiapkan Naura.

Mereka menikmati sarapan dalam diam. Selalu seperti itu di setiap paginya. Tak ada obrolan, seperti yang biasa dilakukan Naura bersama sang ayah. Berbagi cerita tentang apa yang akan dilakukan sepanjang hari, membuat ia semangat menjalani rutinitas.

Kegiatan yang dilakukan Naura setiap hari berkutat di seputar rumah. Menunggu dengan setia sang suami pulang, cukup membuatnya bosan. Setelah menikah, ia memutuskan untuk berhenti dari perkerjaan sebagai fashion desainer sebuah perusahaan ternama. Ia ingin fokus pada kehidupan rumah tangganya.

Namun tinggal sendiri di rumah sebesar itu ternyata tak seindah dibayangkan. Naura mulai jenuh dengan kesehariannya. Ia harus bicara dengan Arfa, mencari kegiatan tanpa harus meninggalkan tugasnya sebagai seorang istri.

**

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.