Saat Hatiku Ikhlas

Untuk sebuah pekerjaan, petuah tentang kesederhanaan adalah warisan dari ibu, semangat pantang menyerah adalah warisan dari ayah. Namun aku gagal mendapatkan yang kuinginkan.

Masih ada harapan tersisa di dada. Percaya bahwa Allah maha sayang, maha pemberi, maha pengasih. Aku pun mencoba lagi, berusaha lagi. Ingat sebuah quotes: kerja keras, pantang menyerah. Keinginanku untuk meraih keberhasilan penghasilan tambahan kubangun lagi. Dengan keinginan yang sama usaha yang hampir sama, bekerja yang bisa cepat mendapatkan hasil lebih banyak. Bertani melon. Namun gagal ludes. Terjadilah cemoohan luar biasa.

Tetap masih ada harapan tersisa di dada, seperti nasehat yang selalu ibu bisikkan di telingaku. Kesederhanaan jiwa untuk mampu menerima kenyataan hidup sebagai keluarga yang memiliki penghasilan secukupnya. Aku mengerti itu. Namun kebutuhan hidup tidak bisa ditoleransi. Nasehat dari ayah memotivasi hasratku untuk membangun harapan baru dengan usaha baru.

Percaya bahwa Allah maha sayang, maha pemberi, maha pengasih, aku mencoba lagi, berusaha lagi. Alhamdulillah meski sudah yang ke sekian kali gagal dalam bisnis, hati ini ikhlas dalam melepas harta yang aku percaya Allah pasti memberi dan berhak mengambilnya, jika Allah tidak menghendaki untuk diberikan kepada umat-Nya

Jika waktu itu harta yang diberikan kepadaku masih bisa kunikmati dalam 9 bulan, untuk saat ini aku hanya menikmati harapan. Yah… dalam satu minggu saja bertahan. Tinggallah harapan dan bukan hasil dari pekerjaan itu. Waktu 7 hari sangatlah singkat.

Awalnya, aku tak percaya bahwa ini akan terjadi. Seratus juta ludes semua. Usaha yang kubangun dari pinjam di bank harus raib di tangan saudara. Aku hanya bisa menangis di setiap sujud, di setiap shalat. Mataku tak berbentuk lagi. Betapa sebenarnya aku mengerti, bahwa jika Allah menghendaki habis semuanya. Namun keterkejutan ini tak bisa terelakkan disebabkan karena agunannya adalah rumah yang kutempati.

Di sisi lain Alhamdulillah, air mataku hanya mengalir kepada-Nya tidak kepada orang lain. Aku tidak mau orang lain mengetahui betapa berat bagaimana aku kehilangan seluruh hartaku termasuk sebentar lagi rumahku.

Aku masih bisa bertahan, masih bisa bekerja dengan sedikit baik. Tentu tak terlalu baik. Bahkan seringkali aku harus memperbaiki ucapan-ucapan yang sudah terlanjur menyakiti orang lain. Aku menyadari, hatiku sedang tak sehat. Namun bukan orang lain. Aku berusaha untuk tidak terlalu bersinggungan tentang suatu masalah dengan orang lain. Agar tak salah berpendapat akibat hati yang tak sehat ini.

Beberapa bekuan kemudian sedikit demi sedikit semua bisa kulalui. Mulai bisa kulupakan. Seperti biasa aku kembali menjadi seperti ketika dulu aku tidak punya apa-apa. Hidup sederhana seperti yang ibu sampaikan. Aku seperti biasa pula mampu menerima dengan ikhlas.

Aku heran juga, kondisi ekonomiku yang terpuruk ini tidak ada orang yang tahu. Aku bekerja seperti biasa, karena aku hanya kehilangan hartaku, aku tidak mengambil harta siapa pun. Justru sebaliknya melalui seseorang hartaku musnah yang kemungkinan pula, jika aku tidak bisa menyelesaikan semua ini rumahku pun akan lenyap untuk menyelesaikan hutangku.

Jika kupikir-pikir, aku heran pula dengan diriku. Yang terakhir ini sungguh sangat kecewa. Setelah kubolak-balik hati ini, bukan karena hilangnya harta yang kumiliki. Namun, karena suatu kesalahan sehingga menyebabkan aku pada posisi yang tidak benar. Keheranan ini tidak segera bisa kusadari mengapa. Hidup miskin sudah biasa, hidup wajar sudah biasa, hidup berlebihan sering pula. Aku pun mampu ikhlaskan semua kehilangan harta yang menimpa. Sedangkan ini?

Namun ada yang tak bisa kupetik dari semua keikhlasan yang sudah kulakukan.
Apa?
Aku memang bisa ikhlas sehingga aku bisa melewati segala ujian dengan tenang setelahnya. Ada yang tak beres dalam diriku. Aku tak pandai menjadikan pelajaran dari ujian yang pertama. Sehingga harus terulang kepada ujian yang ke dua, terulang kepada ujian yang ke tiga. Sedangkan aku tahu bahwa hidup di dunia bukanlah untuk mencari harta. Itu kuketahui, bahwa hidupku bukan untuk mencari harta, tetapi aku tetap membutuhkan harta. Pemikiran ini selalu mengusik hati.

Berpuluh-puluh tahun aku mendapat pelajaran ikhlas, tetapi ada yang tidak bisa kulakukan yaitu bagaimana caranya aku bisa ikhlas diperlakukan tidak nyaman oleh orang lain. Sungguh ini sakit. Kehilangan harta yang tak sedikit bagiku bisa kulupakan. Namun kehilangan kepercayaan sungguh menyakitkan. Di sini aku belajar untuk ikhlas dan betapa sulit untuk berjalan dalam kehidupan dengan ketidak ikhlasan ini.

Mendengar suara dari perilakunya saja, rasanya aku ingin tutup telinga atau pergi jauh. Aku mencoba pasang topeng bahwa aku adalah orang yang bisa menerima kenyataan yang hatiku sebenarnya tidak mampu melakukan itu. Sungguh jelek wajahku di dalam foto dalam kondisi ini. Ini menunjukkan perasaan hatiku yang tidak bisa menerima dalam kenyataan ini.

Kemudian saat kubaca sebuah hadis yang ditulis oleh seorang anak muda di status WhatsApp-nya. Hadis itu berbunyi, Hati itu berbolak balik. Sesungguhnya hati berada di tangan Allah azza wa jalla. Allah yang membolak balik- Nya. HR Achmad 3:257
Syaikh syuaib Al amauth mengatakan bahwa hadits ini kuat sesuai syarat muslim.

Kutambah sujudku, kutambah bacaan Qur’anku, kutambah istighfarku dan kutambah ibadah serta shodaqoh lebih banyak. Dengan harapan aku selalu dekat dengan Allah yang bisa menyembuhkan hatiku.Maka kudekatkan diri ini hanya kepada-Nya, tidak kepada sesama umat. Aku merasa ini adalah ujian yang paling hebat dari kesalahan besar yang telah kulakukan.

Jiwaku mulai tenang. Hatiku mulai bisa menerima semuanya. Gemuruh di dada sudah mulai reda. Tak ada air mata mengalir. Aku bisa tertawa dan entahlah sudah berapa lama sampai telah kulewati banyak hal kebahagiaan mengukir di akhir masa purna tugas. Bahkan menulis di sini juga merupakan bagian dari kedamaian di hati, karena aku bukanlah orang yang bisa menulis ketika jiwa dalam keadaan kacau.

Saat Hatiku Ikhlas dunia seperti penuh bunga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.