Sakit itu Menguji Keikhlasanku

Sakit itu Menguji Keikhlasanku

Sakit merupakan kondisi di mana tubuh merasakan terganggu kesehatannya. Merasa nyeri di bagian tubuh tertentu adalah keadaan yang membuat kita merasa tidak nyaman.

Dalam pandangan Islam sendiri, sakit itu merupakan ujian. Di mana kesabaran dan keikhlasan adalah hal yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan pahala dari rasa sakit yang kita alami.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari No. 5660 dan Muslim No. 2571).

Betapa Allah itu begitu mulia menimpakan penyakit pada seorang hambanya berikut dengan obat dan juga pahala yang didapat.

Sakit hampir semua orang pernah mengalaminya, begitu pun denganku. Di mana kesabaran dan keikhlasan itu benar-benar diuji, bukan hanya padaku yang sudah jelas tengah merasakan sakit, tapi juga pada anggota keluarga di rumah.

Sebagai manusia biasa tentunya sakit itu terkadang membuat jengkel dan melelahkan. Rasa nyeri yang diderita akhirnya membuatku sadar, jika hanya Allah sebaik-baiknya penyembuh dan penolong.

Sakit yang pernah kuderita bermula saat aku balita. Dari cerita mama, penyakit radang paru-paru itu sampai membuatku dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.

Setelah itu, aku hampir tak pernah sakit. Hanya penyakit ringan biasa yang tak membuat khawatir.

Justru saat usiaku menginjak 20 tahun, tepatnya di tahun 2006, penyakit itu mulai mengujiku. Fibroadenoma. Sejenis tumor jinak yang tumbuh di bagian kanan payudara. Fibroadenoma ini yang paling sering dialami perempuan di usia 20-30 tahun.

Ciri-ciri tumor jinak ini berupa benjolan yang bisa digerakkan atau berpindah-pindah tempat. Apabila ditekan, benjolan pun akan terasa padat. Berbentuk oval, hampir mirip bentuknya seperti telor utuh yang direbus. Bentuk seperti itu terlihat jelas setelah berhasil dikeluarkan.

Benjolan itu saat ditekan sekali pun tak menimbulkan rasa sakit. Itulah yang membuatku tak begitu khawatir. Hanya saja, gejala awal Fibroadenoma ini merasakan sakit seperti pegal di punggung bagian belikat.

Saat melakukan pemeriksaan awal, dokter melakukan serangkaian tes laboratorium untuk memastikan langkah apa yang dilakukan untuk menghilangkan benjolan tersebut. Operasi menjadi jalan untuk mengeluarkan benjolan.

Menurut penjelasan dokter, Fibroadenoma ini tidak berkembang cepat seperti kanker dan tumor ganas, sehingga dengan dilakukan operasi, jenis tumor jinak ini tidak akan kembali tumbuh setelah dikeluarkan.

Setelah operasi Fibroadenoma itu, aku bisa kembali menjalani hidup normal sebagai seorang perempuan. Hingga menjalani hidup berumah tangga dan memiliki tiga anak yang luar biasa.

Ujian sakit tidak berhenti sampai pada operasi Fibroadenoma itu. Tahun 2015 kembali Allah memberikan nikmat yang luar biasa. Qadarallah, tiba-tiba teramat sakit di bagian perut bawah sebelah kanan. Dari hasil diagnosa dokter, aku positif radang usus buntu.

Alhamdulillah radang usus buntuku tidak sampai pecah di dalam, karena bila itu terjadi, akan terjadi infeksi dan akibatnya bisa fatal. Begitu penjelasan dokter.

Dadaku berdebar hebat saat dokter akhirnya memutuskan untuk menjalani operasi. Ketakutan akan operasi Fibroadenoma sembilan tahun lalu, kembali terekam dalam memoriku.

Radang usus buntu ini diakibatkan karena konsumsi makanan yang tidak sehat dan pola hidup yang kurang baik sehingga metabolisme tidak berjalan dengan semestinya.

Masa operasi infeksi usus buntu yang Alhamdillah berjalan lancar, semakin mendekatkanku pada Sang Pemilik Hidup. Betapa karunia-Nya begitu besar. Hikmah dari setiap ujian yang diberikan membuat kita belajar akan arti sebuah kehidupan.

Dari sakit dan dua operasi yang pernah kualami, membuatku sadar akan satu hal, ternyata rasa sakit itu adalah ujian yang begitu nikmat. Di saat sakit, kita bisa merasakan betul artinya nikmat sehat.

Di saat sakit, aku banyak belajar mengenai arti sebuah keikhlasan dan kesabaran. Betapa Allah tak akan menguji keimanan seseorang di luar batas kemampuan hambanya dan mendatangkan penyakit disertai obatnya.

Ujian sakit yang kualami semakin memperdalam rasa keikhlasanku. Allah akan selalu mendampingi setiap hamba-Nya yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Belajar ikhlas menerima rasa sakit yang menimpa kita memang tak mudah, tapi jika kita yakin Allah ada dengan segala kuasa-Nya, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Semakin mendekatkan diri pada Sang Illahi adalah jalan terbaik untuk bisa mengatasi setiap permasalahan.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqarah: 155-157).

Pada saat kondisi sakit, justru doa-doa kita akan cepat didengar dan diijabah Allah. Karena dengan rasa sakit itu, kita semakin yakin akan karunia yang Allah berikan.

Laa hawla wa laa quwwata illa billahil aliyyil azhim.

Artinya: “Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah yang Maha Luhur dan Maha Agung.”

Melangitkan doa dalam tengadahnya kedua tangan dan sedekah terbaik di hari terbaik, akan lebih memepercepat kesembuhan suatu penyakit. Lantunan istighfar, takbir, tahmid dan tahlil dalam setiap diam dan gerak yang kita lakukan, semakin menenangkan jiwa yang kalut.

Semua itu sudah kubuktikan sendiri. Bahkan pada saat tidak dalam kondisi sakit sekali pun zikir itu selalu kuyakini bisa menangkan hati. Betapa besarnya kemuliaan dan keberkahan yang Allah berikan dari setiap sakit yang kita derita.

Tanpa kita sadari kejaiban sebuah doa dan sedekah adalah jalan pencapaian tercepat dari penyelesaian setiap problematika hidup. Hal itulah yang menjadi landasan utama keberkahan hidup.

Sakit yang pernah kualami hingga jalan operasi sebagai solusinya, membuatku semakin merenung, menyadari semua dosa-dosaku dan semakin menghargai arti sebuah kesehatan.

Dengan menerapkan pola hidup sehat, makan makanan yang bergizi, menghindari makanan dan minuman yang merusak kesehatan dan olah raga teratur, merupakan cara terbaik terhindar dari penyakit.

Alhamdulillah, aku bisa mengambil hikmah dari ujian sakit yang kualami. Lagi-lagi dibutuhkan keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi sakit yang menimpa kita. Karena jika kita tak sabar dan ikhlas dengan sakit yang diderita, segala macam hal yang bertentangan dengan syariat akan semakin menjauhkan kita dari Yang Maha Kuasa.

Selalu menjaga salat, bersabar kala ujian datang dan ikhlas saat menjalaninya adalah kunci seorang muslim meraih pertolongan Allah dunia dan akhirat.
Waalahu ‘Alam Bishawab.

“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S Al-Baqarah : 153).

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.