Perjodohan (3)

PERJODOHAN (3)

Arfa masih berkutat dengan laptopnya saat Naura menyuguhkan secangkir kopi. Ia ragu mengungkapkan keinginan yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Hatinya bergemuruh tak menentu. Akankah sang suami mengabulkan permintaannya? Atau ia malah akan menolak mentah-mentah? Naura kembali ragu.

“Ada apa?” tanya Arfa memecah kegundahan Naura yang sedari tadi hanya duduk tanpa kata.

Naura terkesiap. Tatapan sang suami masih asyik dengan layar di depannya. Ia tak segera menjawab. Masih mencoba menyusun kata-kata.

“Apa ada yang ingin kau sampaikan?” Arfa bertanya lagi, seraya menoleh dan menatap lekat wajah istrinya.

Naura membalas tatapan Arfa dengan lembut. Ketegangan tampak jelas dalam wajah itu.

“Aku bosan di rumah terus seharian, Mas.” Naura menggantung kata-katanya.

“Lalu?”

“Aku ingin ada kegiatan tanpa mengganggu tugasku sebagai istri,” ucap Naura pasti.

“Sudah adakah kegiatan yang kau maksudkan itu?”

“Aku belum tahu. Keahlianku hanya mendesain pakaian, Mas.”

“Lakukan itu saja. Kau bisa mengerjakannya dari rumah.”

Benar kata Arfa, melakukan keahlian dari rumah merupakan satu-satunya cara mengusir kebosanan sekaligus menghasilkan karya. Selain itu, ia harus menyusun rencana untuk mulai melobi perusahaan-perusahaan yang mau diajak kerjasama.

“Ada yang bisa aku bantu untuk persiapannya?”

Naura menggeleng. “Tidak, terima kasih.”

Naura sedikit mungkin menggunakan fasilitas yang dimiliki sang suami untuk kepentingan sendiri. Meski tak sulit bagi Arfa memberikan semua yang dimintanya, tapi ia berusaha melakukan semampu yang ia bisa.

Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Naura mohon pamit untuk mempersiapkan makan malam mereka. Arfa hanya menanggapi dengan anggukan.

Seperti biasa, mereka menikmati makan malam dalam diam. Tak ada celoteh tentang kegiatan sepanjang pagi sampai petang. Naura menghela napas panjang.

Arfa menuju ruang keluarga setelah makan malam usai. Ia membuka laptopnya kembali, dan menggali informasi mengenai apa yang hendak dicari. Sedangkan Naura menuju dapur, membersihkan peralatan kotor. Selalu seperti itu.

**

“Nanti sore setelah pulang dari hotel, aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ujar Arfa membuka pembicaraan saat sarapan berlangsung.

Naura menoleh ke arah suaminya.

“Ke mana?” tanya Naura diliputi rasa penasaran.

“Nanti kau akan tahu sendiri.”

Naura hanya tersenyum menanggapi. Tak mungkin mendesak Arfa untuk mengatakan akan kemana mereka pergi, lelaki itu tak akan bicara.

“Nanti aku telepon agar kau sudah siap saat aku datang,” ucap Arfa seraya meminum secangkir teh manis yang telah disuguhkan.

“Aku harus pergi sekarang, ada meeting pagi ini,” lanjut Arfa sambil beranjak dari duduknya.

“Ya, Mas, biar aku bawakan tasmu.”

Naura ikut beranjak, dan segera mengambil tas kerja suaminya yang sudah ia siapkan di atas meja ruang tamu.

Naura dengan segala kesederhanaanya itu mencium tangan Arfa takzim, sementara lelaki yang diam-diam selalu memperhatikan sang istri, mencium keningnya tiba-tiba. Perempuan berkerudung itu pun begitu terkejut, mendapat perlakuan yang tak terduga.

Arfa segera menaiki mobilnya setelah mengucapkan salam. Naura menjawab, masih dengan perasaan tak karuan. Ini pertama kali sang suami mencium keningnya, dan itu membuat hati Naura bagaikan disirami bunga warna-warni. Dada yang tiba-tiba berdebar tak menentu, seperti ada yang berloncatan. Senyum itu pun akhirnya terurai. Bahagia.

**

Naura sudah bersiap hendak pergi dengan Arfa. Ia poles bedak dan lipstik natural. Ia memang termasuk perempuan yang tak suka dandan berlebihan. Hanya make up alami yang melengkapi hari-harinya selama ini.

Arfa terkesiap melihat Nuara dengan penampilan sederhananya. Cantik dan memikat. Tapi tak ada pujian, yang ada hanya senyuman sekilas menyambut sang istri memasuki mobil.

Sepanjang perjalanan, hanya hening yang tercipta. Naura menoleh sesekali ke arah suaminya. Wajah dingin itu begitu tampan, tapi sayang jarang sekali ia melihat bibir itu terkembang.

“Boleh aku memutar musik, Mas?” ucap Naura memecah kesunyian.

“Boleh,” jawab Arfa singkat.

Naura memilih lagu yang tertera di layar audio. Lagu ‘Akhirnya Ku Menemukanmu’ dari grup band Naff menjadi pilihan perempuan berlesung pipi itu.

Akhirnya ‘ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ‘ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh

Kuberharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku

Jika nanti kusanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih ‘tuk mencintaiku

Naura mengikuti alunan lagu dari band kesayangannya itu. Ia tak menyadari, Arfa memperhatikan dari awal. Tersenyum simpul melihat tingkah istrinya.

Saat lagu berakhir, Naura baru menyadari, ia tak sendiri, ada Arfa duduk di sampingnya. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela. Menahan rasa malu yang menguasai.

“Suaramu bagus,” ucap Arfa pelan, tapi jelas terdengar di telinga Naura.

Perempuan itu menoleh ke arah suaminya. Tersenyum malu.

“Mungkin jika kau mendaftar di ajang pencarian bakat, kau bisa berkesempatan menjadi juaranya.”

“Kau sedang menyindirku, Mas?”

“Tidak, aku berkata yang sebenarnya. Suaramu tak kalah bagus dengan para peserta di ajang pencarian itu.”

Naura tertawa lepas. Selama beberapa saat ia hanya memikirkan ucapan Arfa yang baginya sungguh mustahil. Bagaimana tidak, bagi Naura menyanyi memang menjadi salah satu kegemaran yang membuat hidup lebih berwarna. Tapi itu tak lebih dari sekadar kesenangan saja.

Suaranya yang bagus memang diakui pula oleh sang ayah yang hampir setiap hari mendengarkan putrinya bernyanyi. Tapi lagi-lagi, Naura hanya tersenyum menanggapi.

Naura lebih asyik menekuni hobinya mendesain pakaian. Berbagai macam model baju sudah dilahirkan dari tangan-tangan terampilnya. Betapa perusahaan sangat kehilangan fashion designer mereka yang handal, yang membuat nama perusahaan semakin terkenal di kalangan publik.

Namun Naura tak meninggalkan begitu saja pekerjaannya di perusahaan. Beberapa junior yang ia bimbing sudah cukup ahli, tak jarang mereka berkonsultasi hingga saat ini. Ia tak pelit ilmu, bermanfaat bagi sesama sudah membuat ia bahagia.

Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam dengan kemacetan di mana-mana, akhirnya sampai di tempat yang dituju. Arfa memakirkan mobilnya di depan sebuah gedung dengan pintu tertutup.

Naura masih bertanda tanya, kemana Arfa akan membawanya? Kenapa tempat ini begitu sepi? Ia hanya mengikuti langkah kaki Arfa dengan penuh rasa penasaran.

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.