Sesendok Rempah Di Masakan Umi

Senyap seketika mengayak duka di mata umi

Ebankan keluh yang terfermentasi

Semangkok riang yang ku tutup kain berusaha mengembang, walau dengan adukan pelan

Entah, berapa lama kan mengenyahkan hampa ini

Namun, kurasakan  seiris aroma bahagia menyisiri air liur yang kian berjebah

Dabak, tangan umi berderak bak spatula berantuk dengan belanga

Oregano kian menguar aroma bersiung

Kabus terpandang tak menyusutkan hasrat terlipat

Raba-rubu ribosom asmaradahana mulai bercelepik

Enigma ayakan duka mulai pupus

Mata, bukan yang buta, tapi penglihatan yang menghilang

Pendengaran tak lagi berfungsi, bukan telinga yang tuli

Akal, bukan mati tapi hati yang tak memahami

Hiruplah Al A’raf, yang tertinggi ini

Daksa umi kian gesit

Ibarat iridescent kian menghablur

“Mi, ijinkan aku membantu”, desisku

Adagium surga di bawah telapak kakinya kuyakini

Saudade mengerumuniku

Aku lelap dalam suwiran rindu yang membuncah

Kalabendu menggayuti garnish rinduku

Abtar harus di larung

Nun, merindukan masakan umi

Uap rempah cinta menyeruput nuraniku

Meletang rasa galat

Insyaflah aduhai atma! Rempah di masakan Umi kian hablur, nun untuk kita

Cirebon, 18 Juli 2020

rumahmediagrup/nurfitriagustin

sumber gambar: pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.