SURAT UNTUK BAPAK

SURAT UNTUK BAPAK

Ciamis, Maret 2012

Dear Bapak,
Sebuah nama yang telah kausematkan untukku dua puluh tahun yang lalu ternyata sebuah doa yang indah dan melangit dalam malam-malam panjangmu. Sekarang aku selalu menjaga nama pemberianmu. Terima kasih, Pak!

Dulu waktu berusia tujuh tahun, Bapak ingat enggak? Aku pernah bertanya. “Apa arti namaku?” Lalu Bapak bilang sambil melihat langit, “Rana Aqila Humaira, arti namamu yaitu perempuan cantik yang mengagumkan dan cerdas. Kamu harus sekolah yang tinggi ya, Nak!” Saat itu aku tersenyum dan Bapak memelukku.

Ah, Bapak, matamu selalu berbinar, bibirmu pun tersenyum saat aku mengajakmu berkeliling naik sepeda dan membuat istana pasir di tepi pantai.

Bapak,
Kalau bicara tentang pantai, aku jadi teringat rumah kita dekat laut. Rumah kenangan kalau Ibu bilang. Setiap sore jika sedang tidak melaut, kita boncengan naik sepeda. Saat aku bilang lelah, Bapak mengajak duduk di pasir sambil melihat laut lepas dengan ombaknya yang indah. “Pak, apakah laut itu selalu cantik seperti ini? tanyaku saat itu. Bapak hanya tersenyum.

Dear, Bapak,
Laut memang menyimpan banyak kenangan untuk kita. Aku sering disebut anak pantai sama teman-teman sekolah di SMP. Kenapa coba? Hanya aku anak di kelas yang tinggal di dekat laut dan memiliki orang tua sebagai nelayan. Aku bangga sama Bapak. Rana-mu ini selalu bilang sama mereka, Bapakku hebat! Bisa menaklukkan laut hanya dengan sampan kecil dan jala saja. Teman-temanku berdecak kagum.

Dear Bapak,
Bersamamu aku bisa mencintai laut dengan aromanya yang khas. Bau garam dalam semilir angin pantai yang menyejukkan. Swastamita! Ini yang paling kita tunggu. Saat matahari terbenam di kaki langit barat, senja mulai datang membawa semburat warna jingga yang indah. Senja di pantai juga adalah waktu favorit Ibu juga Dek Bira.

Dear Bapak,
Masih ingatkah waktu kutanya, “Kenapa mau menjadi nelayan?” Lalu Bapak bilang, “Laut itu rumah kedua bagi keluarga kita, Rana! Dari laut pula kita punya lauk dan uang buat sekolah kalian. Bapak bisa membawa ikan dan menjualnya di tempat pelelangan.” Baiklah Bapak! aku akan mencintai laut seperti apa katamu.

Bapak,
Suatu saat aku melihat gelombang yang besar dan cuaca yang buruk. Namun, Bapak bilang itu tidak menjadi masalah. Padahal Ibu sudah melarang jangan pergi melaut. Diam-diam kuikuti dari belakang ketika Bapak membawa Ibu ke belakang. “Fatimah, aku harus melaut sekarang, kalau tidak, kita tidak punya sangu untuk kalian. Aku tidak tega melihat Rana dan Bira hanya berbekal ubi dan singkong ke sekolahnya.”

Bapak,
Semenjak Bapak pergi malam itu, aku merasa tidak tenang. Apalagi petir terdengar kencang dan menyambar pohon kelapa di pinggir pantai. Angin tidak lagi halus menerpa kulitku. Mata ini tidak bisa terpejam. Di sepertiga malam, Ibu melarungkan doa untuk Bapak dalam sujudnya. Beliau menangis lirih. Rana-mu ini juga ikut menangis. Rasanya ada yang sakit dalam dada ini.

Bapak,
Setelah malam itu, aku selalu menunggumu. Hari-hari sunyi tanpa kabar. Berharap cemas akan kedatangan laki-laki cinta pertama dalam hidup. Kutatap langit dan kutanya laut, kapan mereka akan mengantarkan dirimu kembali. Tenyata mereka hanya diam dan tidak membantuku. Aku benci laut! Dia telah membuatmu tidak pulang.

Dear Bapak,
Hati ini teramat rindu. Tiga tahun sudah kita tidak bersua. Padahal aku, Ibu, dan Dek Bira selalu menunggumu. Kalau boleh meminta kepada Allah, aku ingin sekali memelukmu sekali saja. Setiap selesai salat aku memohon agar bisa melihatmu kembali bersama kami. Aku percaya, keajaiban itu pasti ada.

****

Rivan menutup buku harian milik Rana, perempuan yang dinikahinya lima tahun yang lalu. Buku itu tersimpan di bawah lemari kamar. Berdebu. Keharuan menyelimuti kalbunya. Ada kehilangan yang teramat sangat. Sebuah cinta yang tulus telah pergi tercerabut oleh garis takdir. Hampa dan sunyi seolah-olah menjadi bagian hidup terpisah dari orang tercinta.

Rivan masih ingat kejadian delapan tahun yang lalu, ketika ada berita di sebuah televisi tiga orang nelayan yang tengah mencari ikan di kawasan Pangandaran hilang. Diduga ketiga korban terseret arus deras laut hingga mereka tenggelam bersama perahunya. Saat itu cuaca sedang buruk hingga laut mengalami pasang. Para nelayan mencari ikan hanya dengan menggunakan jala.

Rivan pun memahami, hingga saat ini Rana tidak pernah mau lagi melihat pantai dan laut. Terlalu banyak kenangan indah sekaligus menyakitkan. Namun, Rana tidak pernah tahu, di saat yang sama Ayah Rivan pun meninggal dan dibuang ke laut oleh pemilik kapal asing yang mempekerjakan Ayah Rivan sebagai ABK.

“Rana, kita sama-sama tidak bisa memeluk orang yang kita cintai di akhir hidupnya.” Air mata Rivan meleleh.

Pict by Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.