Perjodohan (6)

PERJODOHAN (6)

Naura merasa dalam hati Arfa belum ada cinta untuknya. Berjuang sendiri demi cinta ternyata tidaklah mudah bila pasangan kita tak melakukan hal yang sama. Akan percuma jika memperjuangkan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan.

Indah
Terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki

Namun bila Itu semua dapat terwujud
Dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan

Tetaplah menjadi bintang dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita Berdua
Berdua

Sudah
Terlambat sudah
Kini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini

Lagu dari grup band Padi dengan judul “Kasih Tak Sampai” mengalun syahdu mengisi seantero ruangan butik. Mewakili isi hati Naura yang kini tengah dilanda rasa kecewa.

Arfa sengaja mengambil cuti dengan menyerahkan urusan hotel pada sahabatnya, Bara, sebagai wakil direktur. Menyusul Naura ke butik dengan membawa harapan ia bisa memeperbaiki kesalah pahaman yang terjadi.

Arfa terkesiap mendengar lantunan lagu dari grup band Padi. Apakah itu mewakili suara hati ataukah hanya kebetulan saja? Ia bergegas menuju ruangan Naura, ia tak di sana. Kembali mencari sang istri, dan ia mendapati perempuan dengan gaun merah jambu itu tengah duduk di depan taman yang berhiaskan bunga-bunga kesukaannya.

“Naura,” panggil Arfa pelan.

Perempuan yang dipanggil tak menoleh. Masih bergeming memandang bunga yang mulai tumbuh di depannya. Ia sudah merasakan kehadiran Arfa sesaat lalu, tapi ia tak tertarik untuk menyambut. Masih memendam rasa kecewa yang mendalam.

“Kau benar-benar marah padaku rupanya. Kalau kau begini terus mungkin aku akan bilang pada ayahmu ….”

Kalimat Arfa menggantung. Mau tak mau Naura menoleh ke arah lelaki di sampingnya.

“Kau akan mengatakan apa pada Ayah, Mas? Sudah tak ingin lagi aku menjadi istrimu, karena kau tidak pernah mencintaiku?”

Naura menahan emosi yang siap meledak dari dalam dada. Tak menyangka Arfa akan melibatkan sang ayah dalam masalah rumah tangganya. Ia mencoba menguatkan hati agar tangis tak tumpah saat ini.

“Ayahmu harus tahu, karena aku tak ingin melihatmu terus-terusan terluka.”

“Ayah tak perlu tahu masalah kita, Mas. Biar hanya aku dan kamu saja yang menyelesaikan masalah ini.”

“Baiklah, kita selesaikan masalah kita hanya berdua. Aku harap kau siap menghadapinya.”

Naura tak bisa menahan luka yang mendera. Rasa kecewa telah meluluh lantakkan cinta yang telah tumbuh di hati untuk Arfa, lelaki yang dijodohkan dan kini menjadi suaminya.

Bagaimana bisa cinta tumbuh begitu cepat di saat waktu yang tidak tepat. Mencintai seseorang yang tidak mencintai kita sungguh menyakitkan, apalagi berharap ia akan memiliki perasaan yang sama, harapan yang entah kapan akan berakhir.

Naura berusaha ikhlas menerima keadaan, jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Jika lelaki yang dicintai tak bisa diperjuangkan. Jika bahagia bukan semata mengharap balasan. Ia akan belajar merelakan.

Memiliki Arfa dalam hidupnya merupakan anugerah. Tapi menjalani rumah tangga tak bisa hanya dengan satu sayap saja. Tak akan bisa terbang dengan sempurna bila sayap itu patah. Naura akan mencoba berjalan meski tertatih, mengeja kembali bahagia yang tak bisa ia raih.

“Aku akan membawamu ke suatu tempat.”

Arfa tersenyum melihat tingkah Naura yang masih teguh pada pendiriannya.

“Ke mana? Dan untuk apa?”

“Nanti kau akan tahu sendiri jawabannya.”

“Aku tidak mau.”

“Kau tak mau mengakhiri kesalah pahaman yang terjadi di antara kita?”

“Tak ada kesalah pahaman di antara kita, Mas. Kurasa semuanya sudah jelas.”

“Tapi kau harus tahu satu hal.”

“Tentang apa?”

“Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Kau harus ikut denganku jika ingin tahu jawabannya.”

Naura terdiam. Ia tak punya pilihan selain mengikuti ajakan Arfa untuk ikut dengannya. Ia pun penasaran, kemana dan untuk apa Arfa membawanya pergi?

**

“Kenapa kau membawaku ke sini, Mas?” tanya Naura heran. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memerhatikan dekorasi yang dirancang sedemikian indah.

Sebuah kamar dengan fasilitas lengkap di kawasan wisata Lombok, Nusa Tenggara Barat menjadi tujuan Arfa membawa Naura.

“Aku memilih tempat ini, karena ada sejarah yang ingin aku tunjukkan padamu nanti. Selain dari itu, yang utama aku membawamu ke sini, ingin melaksanakan bulan madu kita yang belum sempat kita lakukan sejak awal menikah.”

“Apa itu perlu, Mas?”

“Tentu saja, kita sudah hampir setahun menikah, tapi aku belum membawamu berbulan madu.”

“Apa maksudmu melakukan ini?”

“Aku ingin kita bisa menikmati waktu berdua tanpa ada gangguan pekerjaan dan hal yang lainnya.”

“Lalu?”

“Lalu kita melewati kebersamaan kita selama seminggu di sini.”

“Bukankah kau tak mencintaiku, Mas? Kenapa kau mengajakku bulan madu?”

Arfa terdiam. Menatap istrinya dengan penuh cinta, kemudian mengulum senyum seraya menjentikkan jari telunjuknya tepat di hidung Naura.

“Apakah kau tak bisa melihat binar bahagia dari wajahku saat aku berada di dekatmu?”

Naura menggeleng.

“Apa kau tak merasakan perhatianku selama ini?”

“Merasakan, tapi aku pikir itu hanya sebatas kewajiban seorang suami terhadap istrinya, dan itu wajar dilakukan suami mana pun.”

Arfa kembali menyunggingkan senyum mendengar penuturan Naura.

“Kau juga tak bisa melihat cinta dari mataku?”

Kembali Naura menggeleng pelan.

“Aku jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu, Naura.”

Naura terkejut mendengar ucapan Arfa, yang baginya mungkin hanya halusinasi.

“Mungkin kau tak pernah merasakan itu, tapi bagiku, memilikimu adalah anugerah terindah dalam hidupku.”

Naura tak bisa berkata apa-apa. Ia serasa tengah bermimpi mendengar semua kejujuran Arfa.

“Tak akan pernah ada perempuan lain yang aku izinkan masuk ke dalam hatiku, karena hati ini sudah ada yang memiliki, yaitu dirimu.”

“Lalu Viera?”

“Dia sahabatku sejak masih di sekolah menengah dulu, kami tak memiliki perasaan apa pun selain rasa sayang sebagai sahabat.”

Naura menitikkan air mata. Ia tak menyangka jika Arfa mencintainya. Bahkan sejak pertama mereka bertemu.

“Maaf jika aku membuatmu selama ini berpikir, kalau aku tak pernah memiliki perasaan cinta padamu. Aku pikir kau bisa memahami rasaku padamu,” lanjut Arfa meraih pundak Naura mesra.

“Bagaimana aku tahu jika kau tak mengatakannya, Mas,” ucap Naura tersipu.

“Kau juga tak mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi aku tahu perasaanmu padaku.”

Naura terdiam. Kenapa ia tak bisa melihat cinta di mata Arfa untuknya? Apakah karena lelaki itu begitu pandai menyimpan perasaan di balik sikap dinginnya itu?

“Bagiku, pernikahan kita adalah yang pertama dan terakhir, begitu pun cintaku padamu, satu dan untuk selamanya. Karena aku tak ingin hanya menjalani hidup denganmu di dunia, tapi juga di surga-Nya kelak.”

Naura tak bisa membendung rasa haru dari dalam hatinya. Bulir bening telah jatuh luruh bersama cinta yang selalu tumbuh. Arfa menghapus air mata itu dengan tangannya.

“Mulai saat ini, aku tak ingin air mata kesedihan jatuh di pipimu. Izinkan aku membahagiakanmu, Naura.”

Naura hanya bisa bergeming dalam tangisnya yang tak bersuara.

“Perlu kau tahu satu hal, aku sudah jatuh cinta padamu bahkan sebelum kita dijodohkan.”

Naura menatap manik mata Arfa. Mencari kejujuran di sana.

“Kau pasti penasaran, kapan aku mulai jatuh cinta padamu.”

Naura mengangguk pelan.

Arfa menuntun Naura duduk di kursi sofa yang terletak di sudat ruangan. Mereka duduk berdampingan, berhadapan, begitu dekat. Lelaki itu mulai bercerita seraya menggenggam tangan Naura.

“Usiaku 17 tahun kala itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melihat seorang gadis menangis menahan luka karena ditinggalkan sang ibu untuk selamanya karena kanker rahim. Masih ingat dengan jelas, ketika gadis itu bergumam ketakutan dan aku di sana pada saat itu, memeluk hangat hingga ia tertidur di pelukan.”

Naura seakan tersadar akan kejadian masa lalu yang pernah dialaminya. Ketika bunda meninggal di rumah sakit karena kanker rahim. Saat itu, seorang lelaki yang ia panggil kakak menemani hingga ia tertidur. Setelah hari itu, lelaki yang ia harapkan bukan sekadar mimpi, akan datang menemani. Namun lelaki itu tak pernah kembali.

“Kaulah lelaki itu?” tanya Naura meminta kepastian.

Arfa mengulum senyum seraya menatap Naura tajam.

“Maaf, karena aku tak kembali lagi untukmu. Saat itu pertama kalinya aku melihatmu ketika Papa dan Mama mengajakku melihat sahabatnya yang tengah sakit.”

“Lalu, kenapa kau tak kembali?”

“Keberangkatanku ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah sudah ditentukan. Saat itu adalah hari terakhir aku tinggal, tapi justru untuk pertama kalinya aku berjanji pada diriku sendiri, ingin menjagamu seumur hidup jika aku kembali nanti.”

“Perjodohan itu?”

“Jauh sebelum aku berjanji akan menjagamu, orang tua kita sudah lebih dulu menyepakati perjodohan. Di hari keberangkatanku ke luar negri, aku meminta Papa dan Mama untuk menjagamu.”

“Kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal?”

“Aku tak yakin dengan perasaanmu. Saat pekerjaanku mulai mapan, aku baru berani untuk melangkah lebih jauh, menikahimu.”

“Selama itukah kau harus menunggu, Mas?”

“Maaf karena aku sangat terlambat mengakui semua ini.”

“Saat perjodohan itu sudah ditentukan, aku hanya berharap, kaulah lelaki yang sama yang dikirimkan Allah untukku.”

“Terima kasih kau mau menerima dan mencintaiku, Nawa.”

“Bahkan kau ingat nama kecilku, Mas?”

Arfa tersenyum. “Tentu, aku ingat semua tentangmu.”

Naura menghambur pasrah dalam pelukan Arfa. Mereka siap merajut mimpi indah berdua. Mengeja bahagia bersama. Merangkai cinta menjadi harmoni nada membahana, dalam jiwa.

**

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.