RASULULLAH PUN MENANGIS

RASULULLAH PUN MENANGIS

Perperangan telah usai. Jazirah Arab kini sudah ada dalam genggaman Islam. Cahaya Ilahi menaungi. Mereka datang dari segala penjuru. Menisbatkan diri hanya pada satu keyakinan. Kegelapan sirna berganti dengan wajah penuh rasa cinta.

Seorang raja di Iskandariah sekaligus penguasa Qibthi telah menerima surat dari seorang manusia agung, Muhammad bin Abdullah. Beliau mengajak Raja Muqouqis kepada jalan kebenaran. Walaupun raja tersebut keberatan merubah keyakinan yang dianutnya, dia tetap santun dan menghormati Muhammad bin Abdullah. Sebagai rasa rasa syukur serta terima kasih, sang raja pun memberikan dua budak perempuan bersaudara bernama Mariah Al Qibtiyah dan Sirin beserta budak laki-laki. Selain itu dikirim pula sejumlah harta kekayaan seperti emas dan binatang ternak. Semua itu dilakukan dengan penuh hormat tanpa amarah apalagi kebencian.

Hingga akhirnya Mariah Al Qibtiyah dan Sirin pun mengembara menuju Jazirah Arab yang belum pernah didatangi. Kedua gadis Mesir itu tidak menyangka sama sekali bahwa mereka akan pergi jauh meninggalkan tanah air dan keluarga yang dicintainya. Mereka mengikuti Hateb ibn Abi Balta’ah, duta Islam yang diutus Baginda Nabi.

Dalam perjalanan yang panjang, kedua gadis itu mencari tahu tentang siapakah Baginda Nabi yang sangat dihormati oleh rajanya. Mariah dan adiknya sangat terkesan dengan Hateb si utusan Islam itu karena sangat sopan dan menjaganya. Hateb pun menjelaskan semua tentang pribadi, perangai, dan budi pekerti manusia agung tersebut. Kedua gadis bersaudara merasa tenang. Hingga akhirnya mereka pun yakin untuk masuk Islam dan mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasulullah.

Setelah menempuh perjalanan panjang yang sangat melelahkan sampailah Mariah dan Sirin Al Qibtiyah di Madinah Al Munawwaroh. Di kota suci ini kedua gadis dari Lembah Sungai Nil bertemu Baginda Nabi. Mariah menyaksikan bahwa bukan hanya menarik, tapi Baginda Nabi sangat agung dan penuh wibawa.

Keduanya pun mempelajari Islam langsung dari utusan Allah. Segala macam pertanyaan dalam benak Mariah tentang kehidupan dan penciptanya akhirnya terpecahkan oleh penjelasan Muhammad Rasulullah.

Setelah sekian waktu, Baginda Muhammad berkenan menikahi Mariah Al Qibtyah sedangkan Sirin menikah dengan Hasan bin Tsabit. Sejak saat itu, kehidupan dua gadis dari Desa Hefna, Mesir, itu berubah. Terbiasa hidup di lingkungan istana Muqouqis tidak membuat mereka kesulitan untuk hidup sederhana.

Akan tetapi, di kala berjuang untuk mengikuti sunah nabi dalam kehidupan, Mariah Al Qibtyah tetap menjadi sorotan wanita-wanita yang ada di lingkungannya. Mereka cemburu melihat kelebihan yang dimiliki Mariah. Wanita cantik bermata indah ini bukan hanya jelita dan rupawan tetapi memiliki budi pekerti tinggi, lemah lembut tutur katanya, serta cerdas.

Dalam kerisauan hatinya, Mariah Al Qibtiyah pun hamil. Angannya mendapatkan buah hati ternyata tidak sia-sia. Saat itu Baginda Nabi sudah memasuki usia enam puluh tahun.

Mariah Al Qibtyah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam hati Baginda Nabi karena hanya Mariah-lah yang bisa mengandung setelah Khadijah wafat. Hati Baginda Nabi berbunga-bunga dan merasakan getaran yang indah. Cinta dan perhatian beliau begitu besar. Kehamilan Mariah juga seperti sebuah hadiah dari Allah akan harapannya mendapatkan seorang putra setelah putra-putranya dari Khadijah meninggal pada usia belia.

Namun, saat Baginda Nabi tengah merasakan kebahagiaan yang teramat sangat, putrinya dari Khadijah, Zainab al Kubra, tiba meninggal dunia. Sebelum itu dua putrinya yang lain, Ruqaiyah dan Ummu Kulsum telah meninggal pula dalam usia muda. Hati Baginda begitu sedih dan terasa disayat-sayat. Perih membungkam rasa. Duka menyelimuti atmosfir kehidupan. Buliran air mata manusia agung itu jatuh membasahi pipi. Kesedihan yang sama pula dirasakan beliau saat Qasim dan Abdullah, kedua puteranya wafat saat masih kanak-kanak.

Kesedihan Baginda nabi terobati saat mendengar Mariah Al Qibtyah melahirkan anak laki-laki tampan. Hati Baginda Nabi diliputi kebahagiaan tiada terperi. Wajah beliau berseri-seri, memancarkan cahaya, dan senyumannya tak pernah berhenti. Begitu juga dengan Mariah. Rasa cinta dan hormatnya kepada manusia agung ini bertambah. Apalagi untuk masyarakat Arab, anak laki-laki adalah suatu kebanggaan.

Berita bahagia ini langsung dikabarkan Baginda Nabi kepada sahabat-sahabatnya. Kepada Abu Rafi yang mengabarkan kelahiran Ibrahim pertama kali, Baginda Nabi menghadiahkannya seorang budak.

Baginda Nabi kemudian mendatangi Mariah Al Qibtiyah dan memberi nama bayi tampan itu, Ibrahim. Sejarah menuliskan kelahiran Ibrahim bin Muhammad bulan Dzulhijah tahun 8 Hijriyah. Bayi itu penawar hati Rasulullah.

Mariah dan Ibrahim tinggal di rumah yang dihadiahkan beliau sewaktu menikah dulu. Hatinya dipenuhi cinta dan rasa syukur kepada Allah. Ibrahim tumbuh sehat di antara cinta Ayahanda dan Ibunda yang teramat mencintainya. Mariah pun merasakan cinta Nabi yang mengalir deras.

Sayang, kecintaan Baginda Nabi kepada Mariah dan Ibrahim menimbulkan kecemburuan kepada istri-istri lainnya. Padahal Baginda Nabi sudah berbuat adil kepada mereka. Beliau kemudian memindahkan Mariah dan Ibrahim ke daerah Al Aliya, agak jauh dari Madinah.

Di tempat yang baru ini, Mariah mencurahkan segala kasih sayangnya kepada anaknya. Ibrahim semakin besar. Wajahnya tampan dan menggemaskan perpaduan Baginda Nabi dari Jazirah Arab dan Mariyah Al Qibtyah putri Mesir. Ibrahim pula menjadi teman dan pelipur lara bagi Ibundanya kala sepi melanda dan sang Ayah sedang tidak ada di dekat mereka.

Suatu saat, Ibrahim si jantung hati Mariah Al Qibtyah tiba-tiba sakit keras. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tentu saja Baginda Nabi dan Mariah Al Qibtyah teramat sedih. Saat itu usianya sekitar 16-18 bulan. Tak hanya Mariah, Sirin sang bibi pun ikut merawat bayi montok yang belum genap berusia dua tahun.

Sayang, takdir Allah berkata lain. Ibrahim putra satu-satunya Baginda Nabi harus menyerah kepada ketentuan Allah. Bayi mungil itu akhirnya meninggal dunia. Awan kelabu menaungi mayapada.

Kepedihan kembali melanda jiwa manusia agung pilihan Allah. Gejolak kalbu penuh dengan pilu. Palung hati terdalamnya merana. Kematian orang-orang tercintanya seolah-olah menjadi teman dan ujian dalam perjalanan hidup menuju cinta abadi Sang Pemilik Kehidupan.

Tidak dapat dilukiskan kesedihan Baginda Nabi. Beliau menitikkan air mata tatkala melihat buah hatinya berjuang menghadapi sakaratul maut. Napas Ibrahim terlepas satu persatu, wajahnya kelu, dan sinar mata indah itu memudar.

Teringat dalam benak sang Ayah, Ibrahim yang biasanya tertawa, merangkak, menangis, dan tersenyum dalam buaiannya tiba-tiba sakit yang teramat sangat.

Saat itu, Mariah dan Sirin pun menangis tersedu-sedu. Semua mata yang hadir pun ikut menangis larut dalam duka.

“Ibrahim, anakku. Tersenyumlah untuk Ibumu ini, Nak! Engkau sangat kusayang. Jangan tinggalkan kami!” suara Mariah terbata-bata sambil memeluk putranya.

Kesedihan ini pula yang membuat Baginda Nabi harus berjalan dengan cara dipapah oleh Abdurahman bin Auf menuju rumah tempat tinggal Ibrahim. Dengan hati yang remuk redam, cucuran air mata yang menganak sungai, dan kepala tertunduk beliau bersabda,” Duhai Ibrahim anak tersayang, kami tidak bisa menolongmu dari kehendak Allah.”

****

Jasad mungil itu terbujur dengan kaku. Baginda Nabi dan Mariah Al Qibtiyah mencium untuk yang terakhir kalinya.
Saat itu Baginda Nabi berkata :
Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)

Di rumah itu, Mariah sangat kehilangan Ibrahim. Raut wajahnya sendu. Perlahan Baginda Nabi mendekatinya seraya menghibur. “Sesungguhnya buat Ibrahim telah disediakan seseorang untuk menyusuinya di surga.”

*****

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Rasa cinta orang tua kepada anak merupakan hal yang manusiawi. Rasulullah pun menyayangi anak-anaknya seperti orang tua lainnya. Sungguh suatu kebesaran jiwa yang tiada taranya. Rasulullah tidak melupakan risalahnya dalam suatu situasi yang demikian gawat. Kondisi jiwa yang dilanda keharuan dan kesedihan nan amat dalam.

Pict by Pinterest

Sumber tambahan :
https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam
– Seri Wanita Pejuang Islam, Maria Al Qibthyah, CV Remadja Karya
– Buku Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad SAW, Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.