Perjodohan (7)

PERJODOHAN (7)

Arfa membawa Naura ke satu tempat di daerah Sukarara, Lombok Tengah, yang terkenal sebagai penghasil kain songket.

Naura yang belum memahami maksud Arfa membawanya ke tempat itu, hanya mengikuti langkah suaminya yang tak pernah melepaskan genggaman sejak turun dari mobil. Beberapa pasang mata melihat mereka dengan pandangan bahagia.

Arfa dan Naura berhenti di sebuah rumah yang arsitekturnya masih asli khas rumah adat tradisional suku Sasak, Lombok. Tampak asri dan terawat. Mereka disambut hangat seorang perempuan berusia senja.

“Ngumbe kabar epe, Nak?” tanya perempuan itu sembari memeluk Arfa, rindu.

“Kabar tyang bagus, Inek. Ngumbe endah kabarde, Inek?” tanya Arfa seraya mencium kedua pipi perempuan itu.

“Alhamdulillah, bagus.”

“Inek, ini tyang kenalang seninek tyang, Naura.”

Perempuan itu menghampiri Naura, lalu memeluknya hangat.

“Sayang, beliau ini adalah Ibu angkatku. Aku dilahirkan di sini saat Papa ada tugas di Mataram. Sampai usia lima tahun aku dibesarkan di rumah ini,” ujar Arfa sambil memeluk ibu angkatnya.

Selama di rumah ibu angkat Arfa, Naura mencoba menggunakan alat tenun pembuat kain songket yang terbuat dari kayu. Meski susah payah mencoba, akhirnya ia mulai terbiasa.

Sementara Arfa tak pernah lepas pandangannya dari Naura. Lelaki itu seperti ingin menegaskan, jika ia begitu mengagumi dan mencintai istrinya sepenuh hati. Senyum di bibir itu pun tak pernah terlepas. Membuat Naura semakin tersipu malu.

Naura menatap ibu dan anak itu haru. Arfa adalah lelaki penyayang yang tak pernah lupa akan orang-orang di masa lalu. Ia percaya, suaminya adalah lelaki yang Allah pilihkan untuk menjadi imam yang baik untuk dirinya.

**

Arfa memakaikan selembar kain songket di punggung Naura, melingkarkannya hingga menutup dada.

“Ini cantik sekali, Mas,” ucap Naura, mengagumi kain songket yang dibuatkan ibu angkat Arfa untuknya.

Tertulis nama Naura dengan sulaman berwarna keemasan di sudut kain. Menambah kesan kecantikannya.

Naura melabuhkan diri dalam pelukan Arfa. Berdua memandang bintang gemintang di langit hitam. Merasakan semilir angin malam, dalam derai tawa bahagia.

SELESAI

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.