Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 16 (Setiap yang Berjiwa akan Mati)

Aki dan Ambu – Bagian 16 (Setiap yang Berjiwa akan Mati)

Sekitar dua minggu terakhir ini, warga Desa Sukarapih disibukkan dengan kegiatan takjiyah dan tahlilan. Bagaimana tidak, di desa tempat tinggal Aki Rahmat dan Ambu Rahmi ini, nyaris tiap hari ada saja warga yang meninggal. Meskipun masih masa pandemi covid-19, tetapi masyarakat masih bersyukur karena warga yang meninggal bukan karena terinveksi virus corona. Kebanyakan dari yang meninggal itu berusia tua dan telah lama sakit.  Ada juga yang meninggal karena kecelakaan.

Karena bukan kasus covid, maka pengurusan jenazah pun dilakukan keluarga dan masyarakat dengan tidak menggunakan protokol pemakaman seperti pada korban covid. Pengurusan jenazah dilakukan seperti biasanya. Masyarakat tidak ragu untuk berpartisifasi dalam pemulasaraan jenazah. Mereka, terutama bapak-bapak, turut menyalati dan berbondong-bondong turut mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya.

Kebiasaan yang berlaku di desa itu, jika yang meninggal telah dikuburkan siang, maka malamnya akan digelar salat gaib dan tahlilan di rumah keluarga yang ditinggalkan. Biasanya, yang mengikuti kegiatan ini adalah kaum pria dewasa. Keesokan harinya, mulai juga digelar tahlilan hingga hari ketujuh setelah meninggalnya. Biasanya, tahlilan itu digelar pukul 16.00 dengan harapan warga desa sudah pulang dari pekerjaannya masing-masing. Dengan demikian, mereka bisa mengikuti kegiatan tahlilan tersebut.

“Tahlilan di mana sekarang, Ki?” tanya Ambu saat melihat Aki bersiap untuk pergi tahlilan.

“Masih di Pak Imran, Ambu. Ini hari kelima meninggalnya almarhumah ibunya Pak Imran. Setelah itu, dilanjutkan dengan tahlilan di rumah Bu Hajjah Ikoh,” jawab Aki Rahmat.

“Semoga tidak ada yang meninggal lagi dalam waktu dekat ini ya, Aki. Ambu mah asa ketir kalau mendengar pengumuman dari toa masjid teh,” kata Ambu mengungkapkan kegetirannya.

“Aamiin. Semoga saja Ambu,” kata Aki sambil membenahi peci hitamnya.

“Kadang Ambu merasa khawatir, Ki,” kata Ambu.

“Khawatir kenapa, Ambu,” Aki Rahmat nampak penasaran.

“Usia kita kan tidak muda lagi, Ki. Ambu khawatir kita akan segera menyusul mereka,” wajah Ambu tiba-tiba redup. Matanya menunjukkan betapa khawatirnya dia.

Semua orang juga akan mengalami kematian atuh Ambu. Setiap yang berjiwa itu, pasti akan mengalami mati. Jangankan kita yang sudah tua begini. Yang masih muda belia, bahkan bayi sekalipun, ada juga kan yang meninggal. Yang harus kita khawatirkan, jika kita meninggal suul khotimah. Makanya, ayo kita bersama-sama mengumpulkan bekal untuk kembali menghadap-Nya. Kita harus tingkatkan iman dan amalan kita. Jangan sampai kita mati tanpa membawa iman dan dalam keadaan bergelimang dosa. Apalagi jika meninggal dalam keadaan kafir.” Aki menjelaskan. “Kita harus banyak beristighfar,” lanjutnya.

“Iya, Ki,” jawab Ambu singkat. Banyaknya warga desa yang meninggal dalam waktu berdekatan telah membuatnya khawatir. Ambu merasa belum cukup mengumpulkan bekal untuk menghadap-Nya. Ambu juga khawatir jika tiba-tiba ia meninggal karena serangan jantung seperti Bu Edah warga dusun dua. “Kalau muncul perasaan khawatir ini, ingin sekali rasanya Ambu menyuruh Surya dan keluarganya datang ke sini,” kata Ambu setelah cukup lama termenung.

“Untuk apa Ambu? Mereka kan sedang tidak libur. Nanti malah mengganggu,” sergah Aki.

“Ambu takut jika mati mendadak dan tak sempat melihat wajah mereka dulu,” Ambu terlihat betul-betul khawatir.

“Jangan berpikir begitu atuh Ambu. Mending perbanyak doa, mohon diberi keberkahan dengan kesehatan dan umur panjang,” saran Aki.

“Iya Aki. Ambu sih berharap, jika Ambu tiada lebih dulu, Aki harus rida ya, Ki,” wajah Ambu nampak makin redup.

“Hus! Jangan ngomong begitu, ah!”tukas Aki. Dia kini mulai terlihat khawatir juga.

“Kata Pak Ustadz Halimi, ‘ketika seorang istri meninggal, lalu suaminya rida, maka untuk wanita tersebut surga bagiannya’. Begitu, Ki. Makanya Ambu minta maaf atas semua dosa dan kesalahan Ambu pada Aki. Lalu, Aki selalu rida pada Ambu ya, Ki,” pinta Ambu.

“Pasti Aki maafkan semua kesalahan Ambu pada Aki. Aki pun akan selalu rida pada Ambu. Sebaliknya, Ambu juga harus memafkan Aki. Ambu harus ikhlas mengurus dan meladeni Aki,”  suara Aki seperti tercekat. “Sudah. Ah! Jangan membicarakan itu lagi. Aki jadi sedih,” lanjutnya.

“Iya, Ki,” jawab Ambu singkat.

“Aki pamit dulu Ambu, kelamaan mengobrol, nanti malah terlambat tahlilannya,” kata Aki sambil beranjak meninggalkan Ambu yang terus menatap Aki hingga menghilang dari pandangannya. ***

#WCR_tetap_cerbungsinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.