Aroma Kematian

Single lit candle with quite flame on black background

Aroma Kematian

Ini renungan atas pemisah kehidupan yang begitu dekat denganku, serasa nyaris aku direnggutnya. Pembatas antara alam kehidupan dunia dengan alam kehidupan setelahnya. Pernahkah engkau merasakan sudah berada di ambang kematian? Apa yang terlintas dalam benakmu saat itu? Takut, cemas, ngeri….! Inilah kisah tentang aroma kematian yang menghampiriku untuk menjadi renungan demi mempersiapkan amal yang terbaik.

Kejadian pertama saat aku ditabrak sepeda motor sewaktu masih duduk di bangku kuliah. Di dini hari yang dingin dan cahaya lampu yang temaram. Sepeda motor melaju dengan kencang dan serta merta menabrakku saat aku menyeberang jalan usai bersantap sahur di sebuah warung. Suasananya yang remang-remang membuat tak jelas segala sesuatunya untuk dilihat dan terjadilah tabrakan itu. Aku terpental di aspal.

Saat itulah aku serasa mencium aroma kematian yang begitu dekat. Di dalam klinik di mana aku dirawat, rasa nyeri di kaki serta kesulitan bernafas yang menghebat menderaku. Ya Allah, jangan cabut nyawaku saat ini, jeritku dalam hati. Teringat segala dosa-dosaku. Aku belum siap mati. Air mataku berlinang. Bukan karena aku tengah di negeri rantau, sehingga tidak mau mati sekarang, bukan! Tetapi karena gelimang dosa ini. Terbayang siksa-Mu. Ya Allah, panjangkan umurku. Ronta hatiku kala itu.

Peristiw kedua, tatkala aku naik gunung Kelud bersama teman-temanku. Ini memang pertama kalinya aku mendaki gunung. Alhasil, jelang beberapa kilo meter lagi mencapai puncak, aku mengalami kram, kakiku sulit sekali digerakkan dan rasanya sakit sekali. Nyerinya menjalar naik ke paha. Aku tak kuat melanjutkan pendakian. Nyeri hebat menusuk-nusuk kakiku. Di tambah dengan suasana dingin dini hari yang menusuk kulit. Terlebih di tengah alam terbuka dan di atas ketinggian yang menjadikan rasa kematian itu semakin dekat.

Apakah ini pertanda ruhku segera dijemput oleh malaikat maut? Bayang kematian itu terpampang di pelupuk mataku. Begitu dekat. Ya Allah, panjangkan umurku. Air mataku meleleh. Bukan bila mati karena di tengah gunung, mati di mana pun sama saja. Akan tetapi karena teringat perilaku diri. Ya, perilaku yang masih kerap menerjang larangan-Mu. Panjangkan umurku ya Allah…, tak henti aku berharap!

Kini, alhamdulillah Allah masih panjangkan umurku. Di sisa-sisa umur ini, ya Allah pinta hamba semoga Engkau berikan hamba umur yang berkah, selalu taat mengabdi kepada-Mu, memberikan manfaat kepada sesaama, senantiasa berada dalan ridha dan bimibngan-Mu. Sampai akhir hayat menjumpai-Mu dalam wafat yang husnul khootimah. Aamiin

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.