Balada Guling, Guru Keliling

BALADA GULING, GURU KELILING

Pagi itu baru saja aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah dan bersiap –siap untuk berangkat. Kubuka pesan yang ada di  ponsel, ternyata sudah banyak pesan yang belum terbaca. Salah satunya ada daftar tugas monitoring ke tempat siswa. Aku bersyukur karena namaku tak terdaftar. Pikirku, aku akan santai saja berangkat ke sekolah. Kuseret layar ponselku ke bawah, ternyata ada pesan dari sahabatku.

    “Bu Im, hari ini gantiin Mbak dulu yah ke lokasi. Mbak harus membagikan buku paket dulu untuk siswa kls 7”. Tulisan di ponsel dari sahabatku Bu Betti. Semua orang suka memanggilnya Mbak walaupun dia bukan orang Jawa.

    “Aduh Mbak, ini sudah setengah delapan aku belum siap”. Aku membalas chatnya. Aku memang mau berangkat ke sekolah, tapi mau berangkat siang. Karena saat itu pembelajaran belum bisa dilaksanakan di sekolah. Sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh secara daring tapi siswa dipusatkan dia suatu tempat di daerah masing-masing di lokasi yang dekat dari rumah mereka. Dan beberapa orang guru ditugaskan untuk melaksanakan monitoring kegiatan itu.

    “ Mbak udah di sekolah belum, aku paling bisa nyampe jam 08.30?” aku bertanya lagi

    “Ini mau siap berangkat, jangan terlalu siang”. Jawabnya

    “ Udah gini aja Mbak, mbak berangkat dulu ke lokasi sambil bawa daftar presensi siswa, nanti aku nyusul. Kalau aku udah datang Mbak balik lagi ke sekolah”. Aku memberi solusi

    “OK, siap!” jawabnya lagi

    Aku segera bersiap-siap ganti baju dan berangkat ke lokasi. Butuh waktu 30 menit perjalananku dari rumah ke sekolah. Itu yang setiap hari aku lakukan. Karena jarak rumahku memang cukup jauh sekitar 15 km. Itu pun dengan mengendarai sepeda motor. Kalau harus naik angkutan umum akan memakan waktu lebih lama. Aku bekerja di kecamatan yang berbeda. Begitu pula temanku Bu Beti, berbeda kecamatan dengan tempat kerja kami. Hanya kalau sahabatku meski beda kecamatan lokasi rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah. 

Lokasi monitoring yang kami tuju letaknya ke arah selatan jika dari sekolah. Kalau arah dari rumahku memang sebelum sekolah, jadi aku langsung menuju ke lokasi tanpa harus ke sekolah dulu. Letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah namun dari pinggir jalan raya masuk lagi dan jalanan mendaki. Tak ada angkutan umum ke sana kalau kami tak punya kendaraan sendiri harus naek ojeg. Kupelankan laju sepeda motorku. Sambil tengok kanan kiri, aku mencari lokasi tempat para siswa berkumpul. Tiba – tiba kubaca tulisan Annur. Kuhentikan sepeda motorku dan bertanya kepada salah seorang pedagang keliling yang ada di sana.

“ Pak, ini madrasah Annur ? Tanyaku pada si pedagang makanan keliling

“Iya Bu”. Jawabnya.

Kuparkir sepeda motorku di sana. Aku turun dari motorku. Kulihat ada ibu-ibu di sana sedang ngobrol. Salah seorang diantara ibu-ibu itu memakai seragam yang sama denganku. Dan aku bisa menebak tentunya dia juga seorang guru. Wajahnya masih muda beda jauh denganku. Tapi aku merasa sudah kenal dengannya. Ketika aku turun dari motor ia menyambutku.

“ Ibuuu…” Katanya sambil mencium tanganku

“Tunggu…perasaan ibu kenal ya, ini murid ibu kan?” tanyaku

“Iya Bu…”. Jawabnya sambil mengenalkan kedua anaknya yang kira-kira berumur 5 dan 6 tahun.

“Namamu siapa ya? Ibu lupa lagi, tapi kalau wajahmu Ibu gak lupa”. Tanyaku lagi.

“Nursita Bu”. Jawabnya.

“Oh iya, ibu inget kan dulu ibu walikelas kamu, anakmu udah dua?”. 

“Iyaaa Bu”. Jawabnya

“Kalau anak-anak SMP kumpulnya di mana?” tanyaku lagi

“Itu di bawah Bu, di mesjid, kalau madrasah ini dipakai oleh anak-anak SD. Bu Betti juga udah ada, kalau motor disimpen aja di sini takutnya ibu ga bisa”. Katanya

Waduh, mendengar kata bawah langsung pikiranku berangan pasti jalanan yang menurun dan jauh. Apalagi aku tak diperkenanan bawa motor ke sana. Aku pun pamit. Kususuri gang kecil yang menuju ke tempat yang tadi disebutkan. Setelah kutemukan masjid aku masuk saja, dan di sana kudapati temenku sedang ngobrol dengan anak-anak. Setelah ngobrol sebentar kusuruh saja temanku balik lagi ke sekolah. Dan aku yang menggantikan tugasnya menunggui anak-anak hingga pembelajaran selesai. 

“Ini masih ada yang belum datang ya”. Aku bertanya

“Iya Bu”, jawab mereka

“Bu, aku mau nyusul mereka dulu ya”. Kata si Adam, anak kelas 9 yang terkenal susah diatur anaknya. Jika di sekolah kerjanya hanya jalan-jalan di luar saat anak-anak lain belajar di dalam kelas.

“ Nyusul siapa?” jawabku

“ Nana Bu, dan yang lainnya”. Katanya

“ Ya udah cepet, jangan terus keluyuran nanti keburu ada tugas dari guru yang jadwal hari ini”. Kataku menyuruh Adam agar segera menyusul kawan-kawannya.

Satu persatu anak-anak yang lain berdatangan walau tak sebanyak yang diperkirakan. Kubaca daftar siswa yang ada di daerah itu. Kuhubungi mereka yang belum datang  melalui chat WA  yang kebetulan anak tersebut aku tau nomornya. Kebanyakan mereka yang tidak hadir memberikan alasan tidak tahu kalau harus ke madrasah hari itu.

Adam, Nana, dan teman-temannya datang, lalu aku suruh mereka masuk dan berkelompok. Setelah itu ada tugas dari guru yang memberikan pelajaran saat itu melalui WA grup tiap kelas. Kusuruh mereka agar membuka ponselnya dan mempelajari materi. Lalu kusuruh untuk mengerjakan tugasnya sesuai insruksi yang ada pada tugas tiap kelas. Sesekali kubimbing mereka bila ada yang tidak dipahaminya.  

Setelah beberapa waktu lama datanglah salah seorang siswi bernama Rahma, ia memberikan alasan kenapa datangnya siang karena ia mengerjakannya di rumah. Kemudian ia kusuruh masuk dan gabung bersama teman-temannya. Lalu ia membuka laptopnya tapi ia menggerutu terus katanya di sini sinyalnya jelek kalau di rumah ia bisa menggunakan wifi. Padahal teman-teman yang lain bisa membuka ponselnya. Meski aku belum pernah mengajar di kelasnya tapi kebanyakan guru-guru selalu membicarakan karakternya. Anak ini sifatnya manja dan mungkin merasa diri punya kemampuan dan kelebihan dia tak pernah menurut sama guru. Benar saja beberapa lama kemudian ia pamit pulang dengan alasan ada temannya menunggu di depan. Ah, aku tak mau berdebat dengan anak seperti itu. Percuma saja aku melarangnya toh dia tak akan patuh pada perintahku. Kubiarkan saja dia menemui temannya itu. Hingga pembelajaran berakhir Rahma tak datang lagi ke lokasi.

Setelah pembelajaran pertama selesai kusuruh anak-anak istirahat sambil menunggu tugas pelajaran kedua. Perutku agak sedikit lapar, kusuruh salah seorang diantara anak-anak perempuan untuk membelikan sesuatu untukku. Setelah anak itu memberikan pesananku eh, dia balik lagi dan dia membawa suguhan dari salah satu orang tua siswa. Alhamdulillah meski sebenarnya aku tak mengharapkannya karena aku pun membawa bekal minuman dari rumah. Itulah salah satu bentuk pengakuan dan penghormatan warga masyarakat di desa yang masih mempertahankan keramah tamahannya.

Setelah mereka istirahat, anak-anak kembali melanjutkan tugas untuk mapel yang kedua. Ada beberapa siswa yang protes karena sinyal atau mungkin karena kuotanya, dia tidak bisa membuka posnselnya. Ada juga yang tidak punya ponsel, terpaksa aku berikan ponselku untuk dikerubuti mereka yang tidak bisa membuka materi. Kusuruh mereka mencatat materi. Jika ada tugas kusuuruh mereka mengerjakannya di kertas dan dikumpulkan untuk nanti aku sampai kepada guru mapel yang bersangkutan.

Pembelajaran pun berakhir, anak-anak kusuruh pulang ke rumah masing-masing. Namun sebelumnya mereka harus mengumpulkan tugasnya. Ada saja anak yang tidak mengumpulkannya. Padahal ditungguin oleh guru. Aku tahu siapa yang tidak mengumpulkannya. Ya, antara pembelajaran di kelas da luar kelas sama saja. Tergantung anaknya.

Aku tidak langsung pulang ke rumah. Namun aku harus ke sekolah dulu untuk memberikan laporan hasil kerja anak-anak pada hari itu. Itulah pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan di sekolah kami. Antara daring dan luring. Pemberian materi secara daring tapi pelaksanaannya harus dipantau oleh guru. Karena tidak mungkin guru harus door to door maka anak-anak dikumpulkan  di satu tempat biar mudah bagi guru yang memantaunya. Namun karena masih ada beberapa kendala yang dihadapi dan berbagai factor kemungkinan. Kegiatan seperti ini perlu ditinjau ulang. Apalagi jika guru yang ditugaskan untuk memantau tak memiliki atau tak bisa berkendara sendiri sungguh sangat merepotkan. Karena medan yang harus kami lalui banyak yang di daerah pegunungan. Inilah balada guling, guru keliling bagi guru di daerah banyak suka dukanya.

Foto : koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.