Dipenghabisan Usia

Siapapun tidak akan pernah bisa mengira-ngira. Sampai kapan usia kita akan berakhir masa pinjamnya dari sang Penguasa Hidup.

Tak terkecuali saya yang bisa saja tiba-tiba dipanggil untuk kembali kepada-Nya. Itupun dengan catatan harus mematuhi segala aturan serta banyak melakukan amal baik, yang semoga bisa menjadi bekal untuk kembali.

Terkadang memang, kebanyakan kita tetap berpikir, bahwa usia kita akan tetap panjang tiada akhir. Namun keyakinan itu salah. Karena usia kita pasti ada masa pengahabisan.

Ketika sakit, kitapun merasa ada sedikit terbersit tentang kematian. Betapa kita akan merasakan sesuatu yang pasti dirasa sedih.

Padahal, bagi orang-orang yang telah paham dan ahli dalam ilmu agama, hal ini sangatlah lumrah. Bahkan sangat menantikan pertemuan dengan sang Maha Pengasih dan Penyayang.

Ketika kita tak bisa lagi bertemu dengan kata esok, maka telah berakhir segala kenikmatan hidup yang hanya sedikit orang merasakannya.

Karena bagi mereka yang terus diuji di dalam kehidupan menjadi sebuah tameng perisai, sebagai kunci menuju keabadian yang hakiki.

Berpisahnya raga dengan jiwa. Terpisahnya ikatan lahir dengan keluarga yang kita tinggalkan.

Tertutupnya semua pintu-pintu keampunan yang Pencipta telah anugerahkan. Tak dapat lagi kita menggapai asa untuk bisa bersama bercengkerama di alam nyata.

Apa yang sudah kita pupuk maka itulah yang kelak kita akan menuainya. Amal Kebaikanlah yang akan selalu menemani kita di dalam alam kubur.

Bisa merasakan betapa banyak akan penyesalan, belum sempurna melakukan ketaatan. Tertimbun dosa yang sempat dan pernah dilakukan. Tanpa ingat kata sengaja atau bahkan bisa saja sengaja kita tersesat.

Hati yang kini terlindungi, terus dijadikan teman dan tetaplah menghiasnya dengan takwa.

Disaat esok tak akan lagi kita temui, maka terputus sudah ikatan apapun yang pernah terjalin mesra di bumi ini. Berpisah dengan orang-orang tersayang.

Menutupkan mata tanpa kita paksa. Melepas nafas tanpa kita punya haknya. Merelakan segala yang diamanahkan ketika kita ada. Melukiskan sesungging senyuman, yang bermaknakan sebuah perpisahan abadi.

Semoga kelak bisa berkumpul kembali di surga firdaus-Nya, yang tiada bandingan indah dan gemerlapnya Al-mulk, yang sering kita cumbui dikala malam tiba.

Untukmu yang telah jauh terpisahkan kematian, do’akanlah aku sebagai seorang sahabat sejati. Do’a sejatinya tak pernah hilang dimakan waktu.

Itupun yang aku harapkan kelak. Dimana aku mungkin telah terbujur kaku menghadap-Nya. Bersedialah menyempatkan untuk membagikan do’a bagi jiwaku yang telah ada dipenghabisan usia.

Rumah Media Grup / Allys Setia Mulyati
Sumber Foto : dokumen pribadi

Tema : Bila Esok Tak Ada
Subtema : Kematian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.