Kupu-kupu Dan Ayi SI AYam Yang Dengki

Mentari pagi hangatnya membuat semua penghuni hutan belantara bergembira. Semuanya bersenang-senang menyambut pagi yang cerah. Kiki, si kupu-kupu terbang menari-nari diantara bunga-bunga yang bermekaran sambil  bernyanyi dan bersenandung lirih. Tampak Ayi si ayam mengais-ngais tanah untuk mencari makanan dan sesekali berjalan ke semak-semak mencari biji-bijian.

Saat mendengar suara nyanyian, Ayi mencari sumber suara tersebut. Ternyata di dahan bunga mawar hutan Kiki si kupu-kupu sedang menari dan bernyanyi dengan gembira.

“Hai, diam ! berisik ! Kau membuatku pusing. Jangan menari-nari dan bernyanyi di taman bunga mawarku, kau bisa merusaknya !” Teriak Ayi.

Seketika Kiki menghentikan nyanyiannya, dan berhenti mengepakkan sayapnya hinggap di atas bunga.

“Maafkan aku Ayi jika menganggumu. Aku terlalu bahagia karena pagi ini mentari begitu hangat. Bermain dan bernyanyilah denganku pasti hatimu juga akan bahagia,” terang Kiki.

Terlintas di benak Ayi, bahwa ia akan melukai Kiki sehingga ia tak dapat terbang lagi. Aku akan mengajaknya bermain, sudah lama Kiki membuatku iri. Ia bisa terbang kemanapun yang diinginkan, sedangkan aku begitu susahnya mencari makan harus melewati semak belukar yang berduri jadi tak jarang kakiku terluka karenanya. Batin Ayi merencanakan niat jahatnya.

“Baiklah aku mau bermain denganmu. Tapi aku yang menentukan permainannya,” ujar Ayi.

“Baiklah, memangnya kita akan bermain apa ?” tanya Kiki.

“Kita akan bermain lomba siapa yang paling cepat. Barang siapa yang sampai di tepi sungai duluan dialah pemenangnya. Namun dengan syarat kamu tak boleh terbang terlalu tinggi, cukup terbang setinggi kepalaku,”  terang Ayi.

“Wah, baiklah Ayi,” jawab Kiki senang.

“Pada hitungan ketiga lomba kecepatan akan dimulai. Satu, dua, tiga !” teriak Ayi.

Mereka memulai lomba tersebut, Ayi berusaha  berlari dan melompat untuk meraih tubuh Kiki. Namun selalu gagal. Saat berlari pandangan mata Ayi selalu ke atas tanpa memperhatikan jalanan. Tanpa disadarinya mereka hampir tiba di tepi sungai, namuntiba-tiba Ayi tercebur sungai dan terseret arus sungai.

“Tolong ! Kiki tolong Aku !” teriak Ayi.

Namun Kiki tak dapat berbuat apa-apa, ia terbang mengikuti Ayi yang terseret arus sungai. Setelah menyadarinya barulah Kiki mencari bantuan. Kiki terbang mencari Bibi angsa yang tinggal di hulu sungai. Segera Bibi berenang dengan cepat dan mengikuti Kiki yang terbang di atasnya.

Dengan paruhnya yang besar dan kuat Bibi angsa menyelamatkan Ayi dan membawanya ke tepi sungai. Bibi angsa dan Kiki dengan sabar menunggu Ayi yang kelelahan dan tak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian Ayi telah siuman.

“Maafkan aku Ki, tadi aku sebenarnya akan melukaimu karena aku iri padamu. Kamu bisa terbang kemana-mana dengan sayap indahmu, sementara aku tidak. Dan terima kasih kau telah menyelamatkanku,” ucap Ayi sambil tertunduk malu.

“Syukurilah dengan apa yang telah kita punya, rukun dengan teman lebih baik. Selama ini Kiki selalu mengagumimu,” ujar Bibi angsa menasehati Ayi.

Ayi diam dan menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia menyesali perbuatannya.

Sumber Gambar : Karya Pribadi

rumahmediagrup/ She’scafajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.