Mempersiapkan Masa Depan

Mempersiapkan Masa Depan

Setiap kita pasti mengidamkan masa depan penuh kebahagiaan. Bukan hanya kebahagiaan di dunia yang bersifat sementara, tetapi juga kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.  

Beda dengan dunia yang fana, akhirat akan kekal abadi. Karena itu tujuan hidup kita haruslah akhirat. Saat tujuan kita akhirat, maka kita akan mendapatkan kedua-duanya, yaitu dunia dan akhiratnya. Akan tetapi, jika tujuan akhir kita dunia, maka kita hanya akan mendapatkan yang kita inginkan itu saja. Itu pun belum tentu akan kita dapatkan sesuai keinginan, sementara urusan akhiratnya tidak akan diperolehnya.  

Dalam setiap doa, kita selalu membawa keduanya, baik dunia maupun akhirat. Hal itu menggambarkan bahwa yang kita kejar bukan semata dunia tetapi juga akhirat. Jika akhirat yang kita kejar maka kita akan berusaha sebaik mungkin dalam urusan dunia. Setiap usaha yang dilakukan haruslah selalu Lillahita’ala. Semua yang kita lakukan harus bernilai ibadah. Karena itulah tugas kita setelah diciptakan-Nya.

Setiap amal yang dilakukan pun harus kita niatkan Lillah. Jika setiap yang kita lakukan didasasarkan pada niat tulus untuk mengabdi kepada-Nya, maka tidaklah sulit bagi Allah SWT memudahkan semua urusan duniawi kita. Jika Allah telah memudahkan, maka tidak ada satupun yang bisa menyulitkannya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa dunia ada dalam genggaman kita. Hati kita pun akan merasa tenang karena tidak disibukkan mencari cara untuk mendapatkan simpati makhluk. Setidaknya, hati kita akan terasa sangat lapang karena dipenuhi juga oleh rasa syukur. Hati yang lapang itulah yang akan menerbitkan kebahagiaan hakiki dalam hidup kita.

Dalam hal mengumpulkan bekal untuk masa depan, Allah SWT dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10, ”Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyak supaya kamu beruntung.” Dari ayat tersebut saja, kita bisa melihat betapa Islam memperhatikan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Mengenai kehidupan dunia, kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi bekerja mencari rezeki. Kita harus bersemangat dalam memenuhi kebutuhan hidup tetapi harus disertai dengan tetap mengingat Allah. Dunia itu alat untuk senantiasa mencapai rida Allah.

Jika kita bersemangat mengumpulkan benda dunia, tetapi lupa akan Allah. Alangkah ruginya jika hal itu menimpa kita. Jika kita terus mengejar urusan keduniawian, maka kita akan diperbudak oleh urasan itu. Padahal, dunia itu diibaratkan air laut, semakin kita minum, semakin hauslah kita. Begitulah dunia. Semakin ada di hati kita, maka semakin gila-gilaan kita mengejarnya. Apalagi jika kita sampai lupa untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Niscaya,  kita akan  dibuat lelah dan tersiksa dengan urusan duniawi ini. Akibatnya, kita pun akan menjadi sangat kikir. Tidak suka berbagi dengan fakir miskin.

Dunia ini fana, sementara. Jika ajal kita tiba, kita akan tinggalkan dunia ini selamanya untuk menuju akhirat. Maka, jadikanlah Allah sebagai tujuan kita. Karena dengan itu, dunia akan datang sendiri pada kita. Dunia akan melayani kita. Kita tentu tidak akan dilelahkan untuk mengejar dan mengurusnya. Justru, kita bisa menjadikan dunia itu sebagai ladang amal dan pahala untuk  bekal kita menghadap-Nya. Wallahu a’lam bishawab.***

WCR_segar_opinisinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.