Menjadi Orang Tua Siap Lahir Batin

Menjadi Orang Tua Siap Lahir Batin

Bagi yang masing single, judul di atas bukan berarti harus menunggu siap lahir batin dulu baru menikah. Menikahlah dan pernikahan itu dengan sendirinya mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang siap selama ada dalam diri tekad ditimpali usaha untuk menjadi lebih baik.

Lazimnya setelah menikah, kehidupan rumah tangga akan diramaikan dengan hadirnya bocah-bocah permata hati. Tentu, beragam watak dan perilaku dari bocah-bocah tersebut sedikit banyaknya akan “merepotkan” orang tua. Nah, di sinilah permasalahnnya. Beragam sikap akan timbul dari orang tua sebagai respon atas tindak-tanduk anak-anak mereka. Bagi para orang tua yang memahami tabiat perkembangan dan pertumbuhan anak-anak per fasenya serta memahami cara atau strategi pengasuhannya, maka hal tersebut sudah menjadi keasyikan tersendiri. Bagaimana dengan yang ilmu pengasuhannya masih minim dan juga minim dalam penguasaan emosi saat berhadapan dengan perilaku anak-anak yang “hiperaktif”?   

Di sinilah pentingnya kesiapan lahir batin menjadi orang tua, terlebih kesiapan batin. Kesiapan batin memberi kekuatan bagi orang tua untuk bertindak arif dan bijak atas segala tindak tanduk yang muncul dari anak-anaknya. Pun, akibatnya sangat fatal bila kesiapan batin ini diabaikan serta tidak mau belajar untuk menanamkannya dalam diri.  

Alkisah ada seorang ibu yang saking marahnya atas perbuatan anaknya memecahkan perabot rumah yang disayanginya sampai melontarkan kata-kata kebinasaan kepada anaknya tersebut. Selang beberapa tahun kemudian si ibu ini melihat hasil dari ucapannya, si anak mati mengenaskan dengan kondisi seperti yang diucapkannya waktu itu. Nau’dzubillahi min dzalik.

Sebaliknya ada seorang ibu yang di saat marah tetap bisa mengontrol ucapannya, sehingga meskipun marah, namun tetap mengucapkan kata-kata kebaikan kepada anaknya. Sebagaimana kisah yang sudah mashur yang terjadi pada Imam Masjidl Haram, Imam Sudais hafizahullah.

Jadi, betapa pentingnya kesiapan batin menjadi orang tua agar bisa bersabar menerima segala macam tingkah polah anak-anak serta dapat menyikapinya yang tepat.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.