Gula dan Kehidupan

Gula dan Kehidupan

Dua hari yang lalu saya lihat sebuah tayangan di TV tentang cara mana yang benar mengaduk gula dalam teh atau kopi panas. Apakah sendoknya diputar mengelilingi gelas atau bergerak maju mundur ala Syahrini?

“Lho, memang berpengaruh ya?” pikir saya.

Ternyata, cara mengaduk bisa mempengaruhi keberadaan gula sebagai si pemanis. Jawabannya begini.
Jika diaduk dengan cara diputar gula tidak akan bercampur dengan sempurna dan meninggalkan sisa di di dasar gelas.
Sedangkan jika mengaduk dengan cara sendok bergerak maju mundur justru si gula akan mudah larut dengan air.

Hmmm … saya belum mempraktikkannya untuk yang gerakan maju mundur. Kebetulan gula di rumah lagi habis dan belum beli lagi.

Semenjak lihat tayangan itu, saya jadi penasaran. Akhirnya jadi buka-buka google tentang si gula. Akhirnya dapet ini.

Filosofi gula.
Gula mampu untuk hancur, lebur, dan menyatu. Tidak akan lagi tampak wujud aslinya, namun memberikan makna dan perubahan siginifikan, dan menjadi penanda yang esensial.(wikipedia)

Dari gula, kita bisa belajar banyak tentang makna ikhlas yang sebenarnya. Tak terlihat tapi terasa dan ada. Setiap yang bernilai positif gula tidak pernah disebut-sebut.

Coba perhatikan, setiap makanan yang mengandung gula selalu ada kata manis yang mengikutinya. Namun, pernahkah gula protes?
Contoh, kopi manis, teh manis, atau roti manis, sirup marjan dll. Bukan kopi gula, teh gula, roti gula, sirup gula. Padahal gula yang paling dominan dalam minuman itu.

Namun, jika menyangkut negatif atau penyakit, gula selalu dikaitkan. Ada saja yang menyalahkan. Contohnya, penyakit gula.

Itu tentang gula ya!

Bagaimana dengan cara mengaduknya yang berbeda? Buat saya Ini jadi catatan pribadi dan mengajarkan sesuatu dalam kehidupan, entah untuk yang lain.

Mengaduk gula dan kopi atau teh artinya memadukan yang manis dan pahit. Jika kita mengerti caranya dan pas takarannya tentu akan terasa nikmat walaupun ada kepahitan yang menyertai.

Menyeduh gula dan kopi atau teh secara bersamaan lalu mengaduknya ibarat melarutkan semua masalah dalam satu wadah. Kadang takarannya pas kadang ada yang terlalu berlebihan. Entah itu terlalu manis atau terlalu pahit.

Seperti halnya hidup sering kali kita mencampuradukkan semua masalah yang datang. Seandainya bisa meramu dengan bijak tentu saja akan terasa mudah menjalaninya. Sebaliknya, jika tidak pandai meracik justru akan menjadi beban. Sulit untuk bernapas.

Ada lagi yang bilang, mencampur gula dengan teh atau kopi disarankan untuk tidak mengaduknya terlebih dahulu. Biarkan saja sampai sedikit larut secara alami. Mungkin saat sesapan pertama kali akan terasa pahit atau hambar. Baru setelah itu sendok digerakkan maju mundur secara perlahan.

Ini mengajarkan bahwa hidup memang terkadang pahit awalnya namun manis kemudian. Kepahitan atau hambarnya hidup enggak perlu dihindari, bukan?
Namun dihayati dan dijalankan sesuai dengan garis kehidupan yang Allah tentukan.

Pict by instagram

rumahmediagroup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.