Mukena Penjemput Hidayah (1)

Mukena Penjemput Hidayah (1)

Kerudung panjang menutupi sebagian gamisnya yang lebar. Riasan polos tanpa make up tampak alami di pandang. Seulas senyum tak pernah lepas sepanjang ia berjalan.

“Lihat itu si pelakor, sudah insaf rupanya dia sekarang,” ujar seorang ibu yang baru pulang dari warung kepada teman di sampingnya.

Perempuan tadi mendengar jelas ucapan itu, tapi ia menanggapi bagai angin lalu.

“Syukurlah kalau dia sudah insaf. Itu semua berkat si Arman yang mau menerima dia apa adanya. Coba kalau tak ada Arman, mungkin sudah kena azab ia sekarang.”

Astagfirullah.

Perempuan berkerudung coklat muda itu menghela napas. Mengucap istighfar tanpa henti. Ia ingin agar hatinya bisa kuat mendengar ocehan orang tentang sikapnya yang lalu.

Dulu.

Dunianya begitu semu. Semua yang ia mau begitu mudah didapatkan. Kecantikan wajahnya bak bidadari tanpa cela. Rambut panjang tergerai indah, hidung mancung sempurna, mata bulat mengerling liar, bibir tipis menggoda, kulit putih mulus dan tubuh semampai dibalut pakaian minim menampakkan kemolekannya.

Namun sayang, semua yang ia miliki tak sepenuhnya hasil jerih payah siang malam dari jalan kebaikan. Lelaki berstatus suami orang datang tanpa diminta. Hanya dengan senyumnya yang menggoda, siapa pun akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan.

Amira, nama perempuan itu. Terlahir dari keluarga broken home. Sang ayah yang tukang main perempuan lebih memilih meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Sementara ibu yang diharapkan bisa menjadi tumpuan harap segala lara, tak ada beda. Meninggalkan anak satu-satunya yang masih berusia tujuh tahun di jalanan dan pergi dengan lelaki hidung belang.

Sungguh miris memang. Di saat sepasang suami istri susah payah untuk bisa mendapatkan keturunan, lain soal dengan orang tua yang dengan tega menelantarkan anak kandungnya demi obsesi semata.

Amira salah satunya. Korban orang tua tak bertanggung jawab. Membuangnya seperti sampah tak berharga. Seolah ia bukanlah manusia yang kelak akan berguna.

Mengetuk pintu hati saudara pun percuma. Mereka lebih memilih menutup mata dan telinga. Membiarkan gadis kecil itu mengembara di luar sana seorang diri. Mengarungi kejamnya dunia yang telah memporak-porandakkan seluruh hidupnya.

Jika sudah begitu, siapa yang akan dipersalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab atas hari-hari suram yang dilalui gadis kecil tanpa dosa. Menjalani potongan kisah yang ia sendiri pun tak tahu kemana arah yang harus ia tuju.

Seorang lelaki yang diharapkan akan menggantikan posisi ayah dalam hidupnya, ternyata monster berselimut malaikat. Ia datang menawarkan kasih sayang dan kehidupan yang layak untuk Amira, ternyata hanyalah alasan di balik sikap egoisnya demi mendapatkan keuntungan.

Perjalanan panjang bagai sebenar-benarnya neraka bagi Amira. Ia harus dirajam duka lara sedari belia. Pergulatan jalanan yang kejam menjadi makanan sehari-hari. Bergaul dengan orang bermoral rendah sudah bukan hal asing baginya. Itu kehidupannya. Kehidupan yang sejak ia ditelantarkan dan diubuang percuma.

Sejak saat itu, Amira tumbuh menjadi gadis yang arogan. Materi menjadi dewa bagi kekuasaannya. Turun dari satu mobil ke mobil yang lain sudah menjadi mata pencahariannya. Demi sebuah ambisi. Balas dendam.

Ia benci akan dunia yang sudah meluluh lantakkan keidupannya. Ia benci pada orang tua yang sudah dengan tega membuangnya. Ia benci pada orang-orang yang tak peduli dengan keadaanya. Ia benci takdir yang menimpa sejak kecil.

Karena itulah ia iangin menunjukkan taring sebenarnya hidup. Dipuja banyak orang, dihadiahi kemewahan, dikelilingi kekuasaan telah membuat Amira polos nan sederhana menjelma menjadi perempuan angkuh tak berperasaan.

Cita-citanya sewaktu kecil yang begitu mendamba menjadi seorang dokter, bisa menyelamatkan nyawa banyak orang, kini berbanding terbalik. Ia bahkan membuat orang banyak mengalami kerugian. Mati pelan-pelan dalam kenestapaan.

Hingga suatu hari.

Seorang lelaki pengantar jasa ojek online mengubah kehidupan Amira. Hanya dari sebuah mukena yang tak sengaja datang ke pemiliknya yang salah, telah berhasil membuat matanya basah dan berlinang air mata.

Mukena yang seharusnya diberikan bagi ibunda tercinta untuk melaksanakan salat Idul Adha, berada di tangan Amira yang sama sekali belum pernah memakai dan menggunakan mukena seumur hidupnya.

Tidak. Dulu ia seringkali menggunakannya ketika berangkat salat berjamaah di musala dekat rumah. Sebelum kejadian pahit itu menimpanya. Sejak saat itu, tak pernah sekali pun ia mengenakannya lagi.

Lelaki berparas manis dan sopan itu meminta kembali kepunyaannya yang tertukar saat mereka berpapasan di sebuah mal. Rupa paper bag yang sama membuat keduanya tak menyadari jika barang bawaan mereka sudah bukan di tangan pemiliknya.

Amira yang sempat mencoba mengenakan mukena itu berdesir hebat. Ada sesuatu yang menyeruak dari dalam hatinya. Seperti mendapatkan sebuah ketenangan memakai mukena itu.

Jiwanya terasa lapang. Bukan karena bahannya yang nyaman, tapi lebih kepada aura yang menyatu dengan hati dan pikirannya, yang tak pernah ia dapatkan selama ini.

Sejak saat itu, Amira dekat dengan Arman, lelaki pengantar jasa ojek online itu. Hari-hari ia lewati bersamanya. Lebih tepatnya belajar salat dan mengaji. Ya, hidayah itu menjemput pemiliknya sendiri.

Ketaatan Arman pada agama dan pemahamannya tentang kaidah Islam, membuat Amira jatuh hati. Jatuh hati pada agama yang selama ini telah ditinggalkannya. Ia kembali pada Rabb yang masih merindukannya.

Amira menjemput hidayahnya sendiri.

Sejak saat itu, ia menikah dengan Arman. Lelaki saleh itu menerima Amira apa adanya. Membimbing dan menuntun perempuan yang telah sah menjadi istrinya dengan pemahaman agama dan keislaman yang mengantarkan pada kesalehan hati.

Amira telah berubah, menjelma laksana perempuan yang merindukan surga. Kehidupannya kini dipenuhi derai tawa bahagia. Berikrar sehidup sesurga bersama sang kekasih hati tercinta. Menggapai Rida Ilahi menju Jannah yang akan menyambutnya dengan sukacita.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.