Dokter Gigi Kuning

Dokter Gigi Kuning

Puskesmas Kecamatan Sukaseuri terlihat sangat sibuk. Terlebih bu dokter Andini. Ia sedang melakukan brieffing. Hari itu ada jadwal penyuluhan di Desa Seuriwae.

Petugas Puskesmas dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas melayani pasien yang datang ke Puskesmas tersebut. Kelompok kedua melayani penyuluhan di Desa Seuriwae. Kepala Puskesmas, dr. Andini akan memimpin kelompok kedua. Sedangkan kelompok kesatu diserahkan kepada dr. Bimo. Ia seorang dokter umum dan dokter Andini seorang dokter gigi.

Perjalanan ke Desa Seuriwae dimulai. Mereka hanya terdiri dari 4 orang. Mereka mengendarai sepeda motor. Mereka saling berboncengan sehingga ada dua sepeda motor saja yang dugunakan.

Setelah empat puluh menit, tibalah rombongan di Desa Seuriwae. Sebenarnya lokasinya tidak terlalu jauh dari Puskesmas Kecamatan Sukaseuri. Namun medan jalan menanjak dan bebatuan aspal yang mulai mengelupas. Hal ini membuat perjalanan tidak lancar.

Sampai di Desa Seuriwae, mereka disambut Kepala Desa, pak Didon dan staf desa yang terdiri 5 orang. “Selamat datang, Bu Andini dan rombongan,” sambut pak Didon, sambil senyum diikuti senyum para staf.

“Terima kasih, Pak Kades,” jawab bu Andini, sambil senyum diikuti senyum para rombongan.

Mereka disuguhi minuman khas desa, bandrek jahe. Sungguh nikmat dan segar. Minuman tersebut sangat cocok sebagai pelepas lelah perjalanan yang menantang. Di samping pula menghangatkan tubuh dari udara dingin di puncak bukit. Desa Seuriwae berada di atas bukit yang cukup tinggi dengan udara yang dingin.

“Bu Andini, kegiatan penyuluhannya siang hari. Para ibu sedang ke sawah,” kata pak Didon.

“Oh, begitu. Iyalah nggak apa-apa,” jawab bu Andini.

“Kami ajak Ibu Andini dan rombongan makan dulu. Kami sudah siapkan,” lanjut pak Didon.

“Wah, merepotkan Pak,” kata bu Andini.

Kemudian mereka makan dengan sajian khas desa. Sajian tersedia di meja makan yang berhadapan dengan balong, kolam ikan. Mereka sudah menyipakan nasi beras merah, sayur kelor, ikan pepes, lalap kunyit, dan sambal terasi. Terlihat, mereka makan dengan lahap.

“Pak Didon, saya baru pertamam kali makan lalab kunyit dan sambal terasi. Sangat nikmat,” kata bu Andini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Acara penyuluhan pun dimulai. Para ibu sudah siap di balai pertemuan. Penyuluhan ini sangat penting dilakukan menyusul banyaknya pasien sakit gigi di desa itu.

“Ibu-ibu, ada yang mau bertanya?” tanya ibu Andini, setelah memaparkan penyuluhannya.

Di antara peserta penyuluhan, adalah Ibu Yoyoh. Ia sering latah jika melihat sesuatu dan mulutnya selalu saja menyampaikan apa yang dilihatnya. “Bu Dokter Andini, kok giginya kuning?” tanyanya. Rupanya ibu Andini tidak menyadari setelah banyak makan lalab kunyit.***

Sumber foto: https://images.app.goo.gl/TH2cMP3BVr6Zpxsv7

Rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.