Mbah Juminten

Sudah dua kali aku melihat nenek paruh baya itu duduk sendiri di teras rumah. Ia menatap kosong keluar, sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat jalanan kecil di depan rumah. Seolah-olah ada yang sedang ditunggunya.

Esok harinya, aku masih melihat ia duduk kembali di teras. Tubuh yang mulai membungkuk dan kurus semakin memperlihatkan jika ia sedang dalam penderitaan. Wajah yang kering, keriput menambahkan ia semakin tua dari usianya.

Aku tak begitu mengenalnya, secara kebetulan ia tinggal di rumah yang berdekatan dengan rumah nenek. Aku pun baru tahu, kalau ia tinggal sendiri. Selama ini aku melihat jika saat lebaran dan pulang ke rumah nenek.

Sudah dua kali lebaran aku pulang kampung menemui nenek. Namun tak ada perubahan, rumah itu tetap sepi. Malah aku melihat rumah itu semakin tidak terurus. Seperti biasa nenek itu duduk di teras dan sendiri. Sempat aku berpikir dari mana ia makan untuk sehari-harinya.

“Nek, itu siap?” tanyaku sambil menunjuk ke arah rumah yang selalu sepi dengan pekarangan yang luas.

“Oh, itu Mbah Juminten,” jawab nenek.

“Mbah Juminten enggak punya cucu, Nek?” Tanyaku kembali. Aku masih penasaran dengan kisah si Mbah.

“Punya, banyak lagi. Kayak nenek nih cucunya banyak,” sambil menarik tangan lalu memelukku.

“Banyak Nek? Kok saat lebaran begini tidak ada yang datang ya, Nek? Rumah nenek saja penuh.” cetusku dengan manja.

“Anak dan cucu jauh-jauh rumahnya. Jadi tidak bisa pulang,” jawab nenek menjelaskan sambil berlalu. Mungkin khawatir aku akan bertanya lagi. Sepertinya nenek tahu aku belum puas dengan jawabannya. Untuk itu, nenek bergegas ke dapur dengan alasan mau memasak.

***

Sebelum lebaran, saat lebaran bahkan selepas lebaran rumah itu masih sama, sunyi. Tidak ada seorang pun yang berkunjung, hanya kami saja yang bersebelahan sempat berkunjung saat hari lebaran.

Beberapa hari kemudian selepas lebaran, aku sudah tak melihat Mbah Jumintan. Kangen juga tak melihat mbah Juminten di terasnya. Rumahnya sangat sepi, penasaran ingin tahu keadaannya sekarang.

Suasana kampung memang lain dengan perkotaan. Sepi, tidak ada hiruk pikuk kegiatan, suara motor saja lewat hanya sesekali saat sudah berjam-jam baru lewat kendaraan. Selanjutnya kembali hening, pemandangan pun yang terlihat hanya pohon-pohon tinggi.

Nah, menjadi rutinitas baru melihat dan memerhatikan mbah Juminten kala pagi hari. Aku perhatikan setiap gerak geriknya. Mbah Juminten tak banyak bicara, seketika berpapasan wajah, ia dan aku hanya saling melempar senyum.

Aku tak berani mendekati, ada sedikit rasa takut menghampirinya. Pernah mendengar kisah nenek gayung? Itu mungkin yang membuatku takut dengan mbah Juminten. Namun, aku penasaran dengannya.

“Ayah, mbah Juminten kok enggak kelihatan ya? Tanyaku kepada ayah. Belum puas dengan jawaban nenek, aku berusaha mengetahui lewat ayah.

“Mbah Jum sedang sakit, Nak,” balas ayah.

“Oh, Mbah Jum sakit? Ayah sudah nengok belum, Yah? Sambarku penasaran.

“Ayah sudah lihat, kemarin sore,” jawab ayah.

“Kok ayah, enggak ajak Rayya?” Ujarku sedikit kecewa.

“Rayya, ingin melihat mbah Jum, ayo bareng ayah ke sana,” ajak ayah. Aku langsung mengiyakan.

Selepas menengok mbah Jum, ada rasa sedih yang mendalam. Kasihan, nenek sesepuh itu hidup sendiri. Masih belum terjawab, Mengapa anak dan cucunya tidak ada yang datang? Padahal keadaan nenek itu sedang sakit.

“Ayah, kenapa anak dan cucu mbah Jum tidak ada yang menengok?” tanyaku

“Rumah anak dan cucu Mbah Jum jauh Rayya. Jadi belum ada yang tahu kalau Mbah Jum sedang sakit,” jelas ayah.

“Terus ia makannya bagaimana ayah?” tanyaku kembali.

“Begini Rayya, biar tidak penasaran. Ayah akan ceritakan,” ucap ayah.

“Beneran ayah? Asyik, ayo dong ayah ceritakan,” tukasku.

“Begini Nak, Mbah Jum mempunyai 4 anak, semua anaknya sudah menikah dan mempunyai anak pula. Konon ayah mendengar, bahwa Mbah Jum pernah melakukan suatu kesalahan terhadap anak-anaknya,” cerita ayah.

“Memang apa kesalahan Mbah Jum, ayah? sambarku.

“Sebentar, sabar Nak. Ayah belum selesai bercerita. Jadi, Mbah Jum dulu, ketika mendidik anak-anaknya sangat keras dan disiplin. Ia sedikit kasar terhadap anak-anaknya, jika tak belajar atau banyak main. Mbah Jum akan menghukum anak-anaknya,” jelas ayah.

“Terus,” potongku.

“Karena terlalu kerasnya mendidik, jadi ada salah satu anaknya merasa dendam. Padahal, Mbah Jum sudah mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga mereka menjadi sukses.”

“Setelah sukses mereka menyebar di mana-mana. Namun masih ada satu cucu Mbah Jum yang setiap bulan membayar orang untuk mengurus makan dan rumah Mbah Jum,” jelas ayah.

“Terus, terus, terus ayah? Sambarku.

“Cucu Mbah Jum secara diam-diam memberikan stok makanan lewat tetangga. Namun ia enggak boleh menemui oleh orang tuanya, sehingga secara diam-diam ia memberikan bantuan untuk Mbah Jum.”

“Jika ketahuan anak Mbah Jum, cucu mbah Jum itu tidak akan diakui juga layaknya si Mbah. Untuk itu, cucu Mbah Jum diam-diam saat membantunya.”

“Malang sekali, nasib Mbah Jum. Dengan susah payah membesarkan anak-anaknya eh ketika telah sukses mereka tidak mempedulikan sama sekali.”

“Jadi Nak pelajaran yang perlu diambil, jadilah anak yang berbakti dan patuh terhadap orang tua. Janganlah sesekali kita menyakiti hati orang tua. Apalagi terhadap ibu mu,” pinta ayah.

“Iya ayah, Rayya akan sayang, patuh dan taat terhadap ayah dan ibu. Rayya tidak mau jadi anak yang durhaka. Rayya takut ayah,” bisikku sambil memeluk ayah.

***

Sepekan setelah lebaran telah berlalu, kami kembali ke kota. Selamat tinggal mbah Jum, aku akan melihatnya kembali setelah setahun ke depan. Aku akan kangen melihat mbah Jum saat di teras memandang kosong ke jalan.

Dua hari setelah di kota, aku mendapatkan kabar bahwa mbah Jum telah dipanggil Yang Mahakuasa. Ia telah tiada untuk selama-lamanya. Aku pun tak bisa melihatnya lagi, akan ada rasa kangen yang mendalam.

Aku juga mendapat kabar, tidak ada seorang pun keluarga atau saudara yang datang ketika mbah Jum meninggal. Hanya yang merawat dan para tetangga yang mengurus ketika meninggal hingga proses pemakaman.

Sungguh anak-anak mbah Jum tak punya hati, berkata keras dan kasar saja terhadap orang tua itu tidak boleh. Bagaimana dengan perlakuan mereka terhadap mbah Jum. Hanya Allah yang tahu.

Mbah Jum orang baik, semoga ia ditempatkan yang paling indah di sisi-Nya, semoga Allah masukkan ke dalam surga-Nya.

Empat anak dilahirkan, dirawat dan dibesarkan hingga sukses oleh mbah Jum. Namun, empat anak itu belum tentu mampu merawat satu orang tua saja.

Aku berjanji akan patuh dan taat terhadap kedua orang tua, aku tak mau menjadi anak yang durhaka, aku tak tahu persis kejadiannya seperti apa. Bahkan orang tuaku pun tahu cerita mbah Jum dari tetangga dekat saja.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

Jelas sekali dalam Alquran, mengatakan ‘ah’ saja dilarang. Bagaimana dengan tidak merawat dan tidak mengunjungi ketika meninggal?

Wallahu A’lam Bishowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.