Gadis Kecil Pengubah Hidup Sang Bunda (2)

Gadis Kecil Pengubah Hidup Sang Bunda (2)

“Gugurkan saja kandunganmu. Aku belum siap menikah, apa lagi punya anak.”

Ucapan lelaki yang duduk di hadapannya bagai Sambaran petir di siang bolong. Luruh sudah harapan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang mereka lakukan.

Tanpa belas kasihan, lelaki yang selama ini dicinta dan dipuja ternyata tak lebih dari seorang yang tak punya perasaan.

“Aku tak sanggup menggugurkan bayi tak berdosa ini. Bagaimanapun ia adalah darah daging kita.”

Diana tak mau kalah. Hati dan logikanya mulai berontak. Ia tak bisa hanya pasrah dengan keinginan lelaki yang selama ini ia gantungakan mimpi indah, bisa bahagia bersamanya.

“Kalau kau bersikeras, aku tak akan bertanggung jawab. Hubungan kita selesai sampai di sini.”

“Sebatas itukah tanggung jawabmu, Mas?”

“Aku masih memiliki cita-cita yang belum tersampaikan. Aku tak ingin karena status dan hadirnya anak itu akan menghambat impianku.”

“Sebegitu rendahnya dirimu memandang kami? Sehingga tak ubahnya kami ini duri di hidupmu.”

“Terserah apa pendapatmu. Satu yang pasti, aku belum mau menikah. Silakan saja kau cari lelaki lain untuk menjadi bapak dari bayi yang kau kandung.”

“Kau tega bicara seperti itu. Aku menyesal sudah menyerahkan seluruh hidupku padamu.”

Sejak saat itu, Hendra, kekasih Diana, tak pernah kembali. Diana seperti hilang arah. Di satu sisi ia tak ingin menggugurkan bayi yang tak berdosa, tapi di sisi lain bagaimana caranya menghadapi orang tua dengan keadaan ia hamil tanpa suami.

Hancur sudah hidup Diana tatkala harapan satu-satunya ternyata tak peduali juga. Orang tua yang dipercaya mau menerima ia apa adanya, tak ada beda. Ia harus terusir dari rumah yang selama ini menjadi naungan hidupnya.

Kakak perempuan yang ia sayang pun hanya bisa menunduk pasrah. Menerima keputusan bapak. Diana tak bisa berbuat banyak. Harga mahal yang harus ditanggung untuk perbuatan yang telah ia lakukan.

Percuma mengemis belas kasih, tak akan pernah didengarkan. Ia ibarat kotoran yang menghalangi pemandangan. Harus diasingkan, bahkan dibuang. Ia layaknya aib pencoreng nama baik keluarga.

Diana tergugu di sudut hati yang penuh sesak. Luka yang tertoreh membuat rasa trauma akan yang namanya laki-laki. Akibat perbuatan tak bertanggung jawab sang kekasih, ia harus rela terbuang dari keluarga.

Mengasingkan diri dari keramaian kota. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena fitnah yang ditujukan padanya. Melahirkan anak perempuan di tengah orang tak dikenal.

Penderitaannya tak cukup sampai di situ. Rasa trauma yang mendalam justru membuatnya menjatuhkan prasangka pada bayi tak berdosa. Jika bukan karena bayi perempuan itu, mungkin hidupnya tak akan sengsara.

Harus mendapat belas kasihan orang hanya untuk mendaptkan makan. Diana yang periang kini menjadi manusia gelandangan. Bayi yang tak diinginkan ayahnya itu terlahir dengan kecacatan. Sebelah kaki kirinya ada kelainan.

Bidan desa yang membantunya lahir menyarankan untuk melakukan pengobatan terhadap kaki sang bayi. Namun Diana bukan tak mau, jangankan untuk pengobatan, makan saja ia harus pontang-panting tak karuan.

Diana frustasi. Harus melahirkan anak yang cacat sebelah kaki bukanlah hal yang mudah. Ia merasa hidupnya penuh kesialan. Semua itu disebabkan bayi yang dilahirkannya.

Hari berganti, kehidupan Diana tak berubah. Penuh perjuangan ia lakukan demi menghidupi dirinya dan sang bayi. Bayi mungil itu dengan terpaksa di bawah pengasuhannya. Penuh kebencian ibunya, penuh sumpah serapah setiap kali sikap tak sejalan harapan.

Rena, nama bayi itu. Ia tumbuh menjadi anak yang tak diinginkan. Gadis kecil itu hidup dalam keterpaksaan. Tanpa cinta dan kasih sayang. Kehadirannya tak ubah sebuah pemanfaatan dengan harapan bisa menghasilkan uang.

Diana tak peduli. Ia tak pernah benar-benar peduli dengan keadaan Rena. Ia membiarkan gadis kecil delapan tahun itu tumbuh begitu saja. Mencapai hidup dengan mengais rezeki sendiri untuk memenuhi kehidupannya.

Sungguh miris memang, lagi-lagi di saat orang sangat menginginkan kehadiran anak dalam hidupnya, Diana justru menyesali keputusan untuk mempertahankan anak dalam kandungannya. Hidup tak ubahnya sebuah permainan bagi perempuan itu.

Hingga suatu hari. Kenyataan telah menyadarkan sikap kukuh yang membenci putri kandungnya sendiri. Dalam keadaan itu, ia justru menyesali dirinya yang tak memiliki keimanan terhadap Sang Maha Agung.

Rena, gadis kecilnya yang malang, dengan rela mempertaruhkan nyawa demi menolong sang ibu yang selalu dicintainya. Menjadi perisai hanya untuk membuat ibunya selamat dari sebuah kecelakaan. Maut tak dapat ditolak, umur tak bisa diukur.

Rena mengembuskan napas terakhirnya tepat di pangkuan sang ibu. Satu kata terakhir yang diucapkan gadis kecil itu, yang justru telah mengubah hidup Diana, dan tak akan pernah ia lupa.

“Rena ingin Ibu bahagia.”

Sungguh luluh lantak pertahanan yang selama ini ia bangun sedemikian rupa agar tak tersentuh sikap peduli anak perempuannya. Ia menyesali sikap yang telah sengaja menelantarkan anak kandungnya sendiri. Hanya karena kebencian terhadap takdir yang tak sesuai harapan.

Diana menangis meraung di dalam mobil yang mengantarkan sang putri ke rumah sakit. Dalam perjalanan itu, Rena tak bisa bertahan. Ia tertidur dan tak pernah bisa bangun lagi.

Sejak saat itu, Diana mulai berubah. Ia mengadukan semua dosa-dosanya pada Sang Maha Kuasa. Menyesali semua perbuatannya selama ini, dan ingin bertaubat. Menjadi manusia yang lebih baik.

Hidayah itu telah menjemput pemiliknya. Melalui putrinya sendiri, Diana menyadari akan kesempatan hidup yang harus segera dibenahi. Memohon ampunan Sang Ilahi, dan bertaubat nasuha, taubat yang sebenar-benarnya.

Dengan tuntunan seorang ustaz dan istrinya, Diana memulai hijrah dengan mengubah seluruh penampilannya. Menjadi seorang muslimah sejati. Menutup aurat hingga tak seorang pun bisa mengenalinya.

Diana belajar tentang agama. Memperdalam setiap ilmu keislaman yang dipelajarinya dengan sungguh-sungguh. Setiap kali ia memulai salat, air mata selalu saja merembes dari kedua netranya.

Menyesali semua dosa yang telah ia lakukan selama ini. Terutama menyesali perbuatan yang telah menelantarkan anak kandungnya sendiri.

Dalam perjalanan hijrahnya, Diana menemukan sosok yang bisa menerima ia apa adanya. Seorang murid dari ustaz yang telah mengajarinya tentang agama. Mereka dipersatukan dalam rumah tangga yang hanya mengharap rida dari-Nya.

Hidayah selalu datang pada orang yang tepat. Allah selalu menuntun jalan manusia untuk kembali pada fitrahnya sebagai seorang hamba yang sudah seharusnya memiliki iman dan takwa. Dan Diana adalah salah satu di antaranya.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.