Ratapan tak Berkesudahan

Ratapan tak Berkesudahan

“Maafkan aku, Ayah …. Maafkan aku …,” pinta Rozak berkali-kali. Air matanya membasahi pipi hingga ke baju hitamnya.

Sudah lebih dari setengah jam, Rozak meratap di hadapan pusara ayahnya. Sebenarnya ia sudah berjanji dalam hati untuk tidak meratap. Namun kesedihan dan rasa penyesalan yang begitu dalam membuatnya melakukan itu. Ia tidak meratapi kepergian ayahnya yang sudah berjalan tiga tahun. Namun ia meratapi atas segala perilaku dirinya terhadap ayahnya.

Masih membekas kedurhakaan demi kedurhakaan ia lakukan terhadap ayahnya. Perilakunya berubah drastis sejak SMA. Memorinya membuka peristiwa pertama kali ia menghardik ayahnya.

“Ayah! Jangan masuk-masuk ke kamarku,” hardik Rozak kepada ayahnya.

“Kenapa kamu membentak ayah, Rozak,” balas ayahnya. Ia kaget terhadap perilaku anaknya.

“Pokoknya, jangan ikut campur urusan saya,” jawabnya dengan nada tinggi kepada ayahnya.

Saat itu, ayahnya curiga terhadap apa yang dilakukan Rozak di kamar. Tidak seperti biasanya, Rozak mengunci pintu kamarnya ketika berada di dalam. Hingga, ayahnya menyelidiki dalam kamar anaknya itu saat ia pergi.

Perilaku buruk terus berlanjut dan makin menjadi. Tidak ada komunikasi yang baik antara Rozak dan ayahnya. Ia selalu merongrong ayahnya.

“Jangan pelit, Ayah,” ucapnya dengan nada tinggi, “Siapkan uang untuk acara ke Puncak malam ini bersama teman-teman,” pintanya dengan memaksa.

“Ini tanggal tua, Rozak. Ayah enggak punya uang,” jawabnya memelas.

“Jangan bohong! Mana kartu ATMnya?” Rozak memaksa. Kemudian ia menggasak dompet ayahnya.

“Rozak … jangan …,” pinta ayahnya dengan memohon.

“Kasih atau enggak!” ancam Rozak sambil menodongkan pisau ke ayahnya.

Setelah kejadian itu, ayahnya tidak peduli dengan kelakuan Rozak. Namun, hati orangtua tak dapat dibohongi bahwa ia masih sayang kepada anaknya. Ia berdoa ada keajaiban yang merubah perilaku anaknya.

Apa yang diharapkan ayahnya, belum terwujud. Rozak berperilaku makin buruk hingga ia berkeluarga. Ayahnya meninggal di saat Rozak masuk bui tiga tahun lalu. Rozak selalu ingin memiliki banyak uang hingga tergiur melakukan korupsi di tempat kerjanya.

Bersyukur kepahitan hidup menyadarkan dirinya. Ia selalu meratapi apa yang telah diperbuatnya. Rasa penyesalan yang tinggi adalah perilaku durhaka kepada ayahnya.

Sesaat ke luar dari penjara, ia pulang dan mengajak isterinya berziarah ke makam ayahnya. Hanya ratapan yang dapat ia lakukan. Ia belum sempat meminta maaf atas segala perilakunya.

“Mas …,” lirih isterinya, “Yakinlah bahwa ayah sudah memaafkan, Mas. Dia pasti mengharap kesalehan anaknya agar tenang dalam kuburnya.” Isterinya bingung menyaksikan suaminya yang tak henti meratapi segala kedurhakaannya di area pemakaman umum sore itu.***

Rumahmediagrup/saifulamri

One comment

  1. Ceritanya mengharukan sangat bagus
    bisa mengimpirasi bagi seorang anak, anak harus selau menghormati menyayangi dan berbakti kepada kedua orang tuanya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.