Angka Dispensasi Nikah Naik, Yakin Generasi Kita Baik-Baik Saja?

Angka Dispensasi Nikah Naik, Yakin Generasi Kita Baik-Baik Saja?

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Beberapa hari ini dunia sosial media dihebohkan dengan pemberitaan portal berita online bahwa Pengadilan Agama Jepara, Jawa Tengah, mencatat ada 240 permohonan dispensasi nikah lantaran belum genap 19 tahun sesuai aturan baru.

Mengutip pernyataan Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara, Taskiyaturobihah, Ahad (26/7/2020)”Dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen. Sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, namun sudah berkeinginan menikah,”. Taskiya menjelaskan sesuai Undang-undang nomor 16/2019 tentang Perkawinan dijelaskan bahwa batas minimal calon pengantin perempuan berusia 19 tahun. Warga yang berencana menikah namun usianya belum genap 19 tahun harus mengajukan dispensasi nikah.

Bayangkan saja 50% dari 240 berarti ada sekitar 120 anak yang hamil diluar nikah. Ini baru di kota Jepara saja. Bagaimana dengan kota-kota yang lain?

Dilansir dari liputan6.com, Seks bebas masih menjadi masalah remaja di Indonesia. Sebuah studi terbaru bahkan menemukan masih ada anak muda yang melakukan hubungan seks penetrasi tanpa menggunakan kondom.

Penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia lewat mereka alat kontrasepsi Durex terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan, 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seks penetrasi.

Dari hasil tersebut, 58 persennya melakukan penetrasi di usia 18 sampai 20 tahun. Selain itu, para peserta survei ini adalah mereka yang belum menikah.

“Ini mencengangkan. Jadi kalau mengatakan bahwa edukasi seksual itu masih tabu, saya kira ini perlu menjadi suatu data yang perlu dipertimbangkan,” kata dr. Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser Indonesia dalam pemaparannya di Jakarta, ditulis Jumat (19/7/2019).

/Seks Bebas Ancaman Generasi/

Penulis sebut seks bebas ini adalah ancaman. Kenapa? Karena kerusakan yang diakibatkan oleh seks bebas bukan hanya masa depan pelaku yang suram, tapi lebih dari itu, yaitu rusaknya moral dan akhlak generasi muda.

Jika hal ini terus dibiarkan, tanpa ada hukum dan undang-undang yang jelas tentang per-zina-han, maka generasi kita kebanyakan akan tumbuh menjadi generasi bermental mesum. Hidup hanya digunakan untuk memperturutkan hawa nafsu semata.

Meskipun dengan dalih suka sama suka, atau tidak ada paksaan dalam melakukan hubungan terlarang itu, namun bagaimanapun per-zina-han dalam agama manapun adalah perbuatan haram yang menjijikkan. Naudzubillah.

Maka dari itu, seharusnya negara bekerjasama dengan masyarakat dan individu-individu terkait untuk menyelesaikan masalah ini. Setidaknya ada beberapa langkah yang harus dilakukan:
(1) Negara harus mampu menindak tegas pelaku per-zina-han dengan hukuman yang setimpal. Sehingga pelaku benar-benar jera. Mengontrol semua informasi yang masuk di mesin-mesin pencari berita.

(2) Masyarakat melakukan kontrol terhadap lingkungan sekitar. Sekiranya ada perilaku yang menjurus pada per-zina-han harus segera diingatkan dan dilaporkan.

(3) Negara, masyarakat, dan individu-individu bekerjasama untuk meningkatkan ketakwaan para individu-individu. Sehingga mereka tidak mudah terprovokasi untuk melakukan per-zina-han ataupun kemaksiatan lainnya. Karena aqidah telah menjadi landasan dalam melakukan setiap amal perbuatan.

Wallahu’alambisshowab

Email enliseksus0@gmail.com

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.