Lebaran Haji Tanpa Kaka

Lebaran Haji Tanpa Kaka

Kembali air merembes dari kedua netraku ketika melihat kegiatan Kaka di pondok pada malam takbir Idul Adha. Dari foto yang di share di grup whatsaap kegiatan santri, mampu membuat haru hatiku.

Aku begitu merindukannya.

Dia telah tumbuh dewasa. Gadis kecil pertamaku itu sudah menjelma menjadi perempuan cantik jelita.

Dia duduk di antara santriwati dengan pakaian seragam putih hitamnya. Mereka tengah mempersiapkan untuk acara pawai obor keliling pondok. Kegiatan rutin yang biasa dilakukan santri dan santriwati setiap Idul Adha.

Hari Minggu kemarin, aku dan suami beserta putri kecil kami sempat menyambangi pondok untuk mengantarkan perbekalan Kaka. Aturan pondok yang melarang wali santri bertemu dengan anaknya, membuat kami hanya bisa memandang dari kejauhan.

Saat itu, Kaka dan temannya hendak menuju masjid untuk persiapan salat Magrib. Ia sempat melambaikan tangan, meski sesaat aku belum mengenalinya. Baru saat ia sudah duduk di dalam masjid, aku bisa mengenali kalau itu adalah Kaka.

Aku sempat melambaikan tangan padanya melalui celah pagar pondok, dan ia membalas seraya tersenyum. Namun ketika lambaian tangan kecil si bungsu muncul di antara celah pagar, Kaka terlihat mengalihkan wajah, menangis.

Akh, ia pasti begitu merindukan adiknya. Begitu merindukan kebersamaan kami di rumah. Sabar ya, Sayang, kita akan segera bertemu sebentar lagi.

Waktu kunjungan wali santri kelas 1 putri sudah dijadwalkan hari Minggu pagi. Tentu saja aku telah bersiap untuk membawa perbekalan, termasuk membawakan ayam goreng dan sambal kesukaan Kaka dan camilan untuknya. Di sana nanti kami bisa menghabiskan waktu bersama.

Tentunya dengan protokol kesehatan yang ditentukan pondok, baru kami bisa masuk menemui anak. Itu pun dengan jumlah terbatas.

Sementara di sini, berbeda dari tahun yang lalu, lebaran haji tahun ini tanpa kehadiran Kaka di rumah. Rasanya begitu sepi. Biasanya kami melakukan salat Ied bersama di masjid dekat rumah, tapi sekarang, selain Kaka sudah di pondok, Qadarullah, si bungsu pun mengalami musibah.

Paha kakinya terkena siraman air baso panas tiga hari yang lalu, jadi aku tak bisa melaksanakan salat Ied di masjid. Kelalaianku membiarkannya bermain sendiri bersama teman-temannya di luar rumah, hingga ia membeli baso dengan dibungkus plastik dan saat dibuka bungkusnya, semua isinya tertumpah tepat di atas paha si kecil.

Jika kakanya tahu hal ini, pasti ia akan ikut sedih. Melihat luka di atas paha adik kesayangannya, itu bisa membuat ia khawatir.

Pelajaran yang berharga juga bagiku untuk lebih waspada dan memberikan pengertian pada si kecil untuk tidak membeli baso sendiri.

Lebaran haji tanpa Kaka tahun ini telah menciptakan berbagai hal. Suasana yang sepi dan kejadian yang menimpa si bungsu. Namun tak berarti membuat makna Idul Adha menjadi berbeda. Masih tetap sama.

Dalam kesempatan ini juga, kami seluruh keluarga mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Sumber Foto : Koleksi pribadi

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.