Sesal yang Tertinggal

Sesal yang Tertinggal

Wajah cantik itu berselimut kabut. Kerudung panjang yang ia kenakan tak bisa menutupi kegundahan hatinya. Penyesalan yang setiap kali diucapkan hanya tinggal luka yang tersimpan di ruang hampa.

Linangan air mata yang tak henti mengalir setiap kali bercerita, ia basuh dengan sapu tangan yang sejak tadi ia genggam. Sesekali bahu itu terguncang kala menceritakan tentang perbuatan buruk terhadap kedua orang tuanya.

Rinda, nama perempuan itu. Berasal dari keluarga kurang mampu, ia bersama adik laki-lakinya terpaksa harus putus sekolah. Saat itu usianya baru empat belas tahun. Keterbatasan biaya, membuatnya harus meredam cita-cita melanjutkan ke SMA.

Padahal prestasi yang diraih cukup gemilang di sekolah. Ia pun aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Ia juga anak yang supel dan disukai teman-temannya. Namun sayang, takdir tak berpihak padanya. Ia harus mengikis harapan mencapai cita-cita menjadi wanita karier.

Marah dan kesal saat itu. Di saat teman-temannya bersukacita masuk ke sekolah favorit mereka, ia justru dipaksa menerima nasib. Diharapkan membantu orang tua, menambah penghasilan untuk biaya kehidupan.

Jelas Rinda menolak mentah-mentah. Ambisi yang tak tersampaikan membuatnya berubah perangai. Ia jadi sering marah-marah bila keinginanya tak terlaksana. Bergaul dengan anak-anak berandal dari kampung tetangga.

Hingga suatu ketika, sepasang suami istri menawarkan diri untuk menjadi orang tua asuh Rinda. Mereka mengetahui Rinda dari orang tua salah satu temannya di sekolah dulu. Mereka akan membiayai sekolah Rinda hingga ke perguruan tinggi. Bahkan mereka siap membantu biaya sekolah adik Rinda.

Rinda jelas sangat bahagia. Harapan tentang masa depan serasa di pelupuk mata. Ia yang memiliki dasar kecerdasan tak sulit meraih prestasi di sekolah barunya. Pergaulannya pun membuat ia disukai teman-teman dan para guru.

Namun satu hal yang tak berubah dari perempuan berlesung pipi itu, sikap kasar pada kedua orang tuanya. Penyesalan karena dilahirkan dari keluarga miskin ayah dan ibunya membuat ia terpaksa harus tinggal dengan mereka.

Bahkan tak jarang ia malu memperkenalkan kedua orang tuanya pada teman-teman di sekolah. Rinda telah lupa memaknai takdir yang sebenar-benarnya. Ia lupa jika rida Allah terletak pada rida orang tuanya.

Rinda tak peduli dengan semua itu. Hatinya telah tertutup selimut tebal kemarahan dan keangkuhan yang selama ini diperlihatkannya. Ia mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bantuan orang tuanya.

Rinda tumbuh dewasa dengan sikap arogansi yang kian menjadi. Ia mengambil kuliah di jurusan ekonomi, bidang yang disukainya. Sekolahnya mulus dengan prestasi yang memuaskan. Hingga dalam berkarir pun, semua terasa mudah dilalui.

Sepertinya Allah tengah memberi kemudahan-kemudahan pada Rinda, tanpa ia sadari, Allah tengah menguji keimanannya.

Rinda keluar dari rumah setelah mendapat pekerjaan pertamanya. Ia mulai meniti karir dari bawah sebagai karyawan biasa. Ia melalui jenjang karir yang mulus di perusahaan tempatnya bekerja. Hingga ia bisa menjadi seorang manajer dan memiliki banyak uang.

Perempuan itu tak pernah menganggap keberadaan orang tuanya. Bagi Rinda, mereka tak lebih sebagai ayah dan ibu yang telah melahirkannya. Ia tak punya kewajiban membalas budi baik mereka. Sungguh miris memiliki anak sepertinya.

Sampai suatu hari, sang adik harus ditugaskan ke luar pulau Jawa. Ia menitipkan orang tua mereka pada Rinda. Awalnya jelas saja menolak. Namun atas desakan sang adik dan janjinya akan memberikan uang bulanan untuk ayah dan ibu, akhirnya ia menerima dengan terpaksa.

Rinda memperlakukan kedua orang tuanya dengan semena-mena. Sikap arogan dan kasar kerap kali ditujukan terhadap mereka. Ia seperti mendapat kepuasan melakukan itu. Berkuasa dengan uang yang kini dimilikinya.

Orang tua yang begitu menyayangi Rinda, hanya bisa berdoa agar putrinya bisa bertaubat dan menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Mereka percaya, Rinda hanya sedang marah, tak menyadari kekeliruannya.

Hingga di tahun kedua mereka tinggal di rumah Rinda, sang ayah yang menderita sakit sejak lama harus mengembuskan napas terakhirnya. Penderitaan selama di dunia harus berakhir dengan menghadap Sang Pencipta.

Rinda biasa saja. Ia tak menyesali apa yang terjadi. Toh itu sudah takdir ayahnya untuk pergi. Walaupun secara tidak langsung, ia turut andil karena tak pernah mau membiayai pengobatan sang ayah yang memerlukan perawatan yang intensif.

Dengan uang yang diberikan adik Rinda, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka selama sebulan. Itu pun terkadang harus meminta uang tambahan dari putrinya.

Sementara untuk biaya pengobatan yang tak sedikit, Rinda tak mau peduli. Hanya satu dua kali ia memberi, itu pun setelah diminta paksa. Hingga jalan yang terbaik itu menjadi penyelesaian dari segala lara.

Tinggal sang ibu yang meratapi hidup tanpa suami di sampingnya. Rinda masih angkuh dengan pendiriannya. Tak sedikit pun belas kasih yang ia tunjukkan untuk ibu yang kini tinggal tersisa.

Hanya sebuah kewajiban menampung sang ibu dengan biaya yang masih rutin dikirimkan tiap bulan oleh adiknya di luar pulau.

Sampai suatu ketika, kecelakaan itu menyadarkan Rinda.

Mobil yang dikendarainya mengalami tabrakan di sebuah jalan raya sepulang dari kantor. Kondisinya mengkhawatirkan saat itu. Hampir saja kehilangan nyawa, jika saja sang ibu tidak menolong dengan mendonorkan darahnya.

Selama berapa hari Rinda dirawat di rumah sakit. Hanya ibunya yang setia menunggu dan mengurus semua keperluannya. Kondisi kakinya yang cacat saat itu mengharuskan terapi untuk membuatnya bisa berjalan kembali.

Sang ibu dengan setia menemani masa-masa perawatan Rinda. Doa ibunyalah yang bisa mempercepat kesembuhan putri tercinta. Dari sanalah Rinda mulai menyadari arti kasih sayang orang tua.

Keegoisan, keangkuan dan kemarahannya selama ini sungguh tidak manusiawi hingga harus memperlakukan orang tuanya dengan buruk. Rinda memahami arti cinta sang ibu saat kondisinya tengah benar-benar terpuruk.

Semangat dan kegigihan ibunya yang sudah membuat Rinda kembali bangkit untuk segera melewati proses kesembuhannya. Selalu setia mendampingi dan mengurus tanpa canggung.

Hingga tak jarang Rinda melihat ibunya kelelahan, tapi ia tak pernah mengeluh. Rinda menyesali semua perbuatan buruk yang telah dilakuakan selama ini terhadap kedua orang tuanya.

Rinda bersimpuh di kedua kaki sang ibu. Untuk pertama kalinya meminta maaf atas semua perbuatan buruk yang ia lakukan. Memohon ampunan pada Sang Maha Kuasa atas segala dosa, dan bertaubat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Hidayah itu telah menjemput pemiliknya.

Dari kejadian kecelakaan maut itu, Rinda menyadari akan cinta dan pengorbanan ibu yang tak pernah menghitung apa yang telah didapatnya. Ia dengan tukus ikhlas memperlakukan sang anak dengan kasih sayang.

Tak peduli seberapa terlukanya akibat perbuatan buruk yang diterima, ia tetap memeluk anaknya dengan cinta. Selalu tersedia maaf untuk anak tanpa diminta.

Sejak saat itu, Rinda mulai hijrah dan mendalami agama. Pekerjaan yang sempat terhenti karena kondisinya pasca kecelakaan, mulai kembali meski tidak lagi di perusahaan yang sama. Karirnya kembali melesat.

Seiring kesuksesannya, ia menemukan jodoh yang mau menerima ia apa adanya. Di usia yang sudah lebih dari tiga puluh tahun, ia bisa merasakan arti sebuah rumah tangga. Meski lelaki itu seorang duda dengan satu anak, tapi Rinda pun mau menerima.

Lelaki baik dan pengertian serta mapan secara materi, membuat dunia Rinda penuh bahagia. Terlebih lagi kini sang ibu yang menjadi tumpuan hidupnya, selalu menemani dalam segala situasi.

Ia memperlakukan ibunya dengan penuh hormat dan kasih sayang. Seakan ingin menebus semua perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Hanya satu penyesalan dalam hidupnya, tak sempat meminta maaf pada sang ayah.

Setiap kali mengingat perlakuan buruk terhadap kedua orang tuanya, Rinda selalu tak bisa menahan air mata. Ia benar-benar menyesali perbuatannya. Sungguh menjadi anak durhaka itu adalah perbuatan yang keji.

Rinda mengambil hikmah dari kejadian di masa lalu. Lebih mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hati. Mengabdikan hidup hanya untuk suami, anak-anak dan juga ibunya.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.