Bacalah!

Bacalah!

Pandangan orang-orang tertuju pada seorang bapak yang mengistruksikan agar jamaah yang berdekatan dengan kotak infak sholat Jumat segera menjalankan kotak tersebut. Tak terkecuali aku, aku juga memperhatikan “kelakuan” si bapak.

Beberapa jamaah yang diinstruksikannya terlihat celingukan, selang-seling antara menatap si bapak dan melihat kotak infak. Keraguan tertangkap dari ekspresi mereka, antara menuruti kemauan si bapak atau tidak. Itu terjadi beberapa saat sebelum khatib naik ke atas mimbar.

Aku paham kenapa para jamaah tampak ragu menjalankan perintah si bapak untuk menjalankan kotan infak,  karena mungkin melihat bacaan yang tertera di atas kotak infak tersebut yang bertolak belakang dengan kemauan dan perintah si bapak. Lantaran si bapak bersikeras meminta kotak infak  segera dijalankan, mereka pun terpaksa mengikuti perintah si bapak.

Ya, seingatku sebelum atau pada saat khatib berkhutbah, kotak infak tersebut belum waktunya untuk dijalankan sebagaimana bunyi bacaan yang di tempel di atasnya. Guna menguatkan prediksiku, aku pun tak berapa lama kemudian melongok ke atas sebuah kotak infak yang teronggok tak jauh dari sampingku. Benar saja, di sana terpampang dengan jelas dengan tulisan yang cukup besar, berbunyi: “ PERHATIAN, KOTAK INFAK DIJALANKAN SETELAH SELESAI SHALAT JUMAT.” Berarti benar perkiraanku, bahwa kotak infak baru dijalankan setelah shalat Jumat usai  atau setelah salam.

Lalu kenapa bapak tadi ngotot memerintahkan agar bersegera menjalankan kotak infak? Aku berasumsi bahwa bapak tadi tidak bisa membaca. Ya, tidak bisa membaca. Seharusnya orang yang bisa membaca akan paham bagaiamana ia bersikap sesuai isi bacaan. Apabila ia tetap nekad melakukan yang bertentangan dengan yang dibaca, artinya ia melanggar norma-norma yang berlaku yang akan membuat cacat citra dirinya di mata khalayak. Berakal sehatkah orang yang malah bangga mendapat klaim negatif sebab perlakuan negatifnya?

Islam sudah dari jauh-jauh hari mengajarkan umatnya untuk giat membaca, hal itu ditegaskan dari ayat perintah membaca yang pertama kali diturunkan. “Bacalah!” begitu bunyi ayat pertama surah Al-‘Alaq.

Membaca adalah pondasi awal agar kita bisa mengenali segala sesuatu, membaca dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan membaca, kebenaran tampak terang dan kebatilan tampak jelas, pilihan pun bisa tepat dan akurat. Masihkah mengabaikan membaca!?

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.