Emosi Sesaat Menjadikannya Anak Durhaka

Kepalanya tertunduk , berjalan menyusuri gang sempit dengan sorak-sorai serta cibiran dan teriakan marah para tetangga. Bahkan lemparan gelas minuman air mineral berhasil mengenai wajahnya dan tampak memerah. Kedua tangannya diborgol dengan kawalan ketat petugas kepolisian.

Arman diamankan warga setempat sebelum polisi datang, sebenarnya apa yang telah dilakukan Arman sangat mengejutkan warga. Ia yang dikenal pendiam tega membunuh ayahnya, hanya karena ia merasa terganggu saat tidur.

Seketika warga menjadi heboh saat mendengar bahwa telah terjadi pembunuhan. Keluarga Arman tinggal di salah satu sudut kota di sebuah gang yang padat. Sebagian warganya bekerja sebagai pedagang, pengamen seperti layaknya kota besar lainnya.

Arman bekerja sebagai tukang parkir liar di pasar tak jauh dari rumahnya. Saat siang ia bergantian dengan temannya menjaga tempat parkir. Hari ini gilirannya istirahat siang karena letak pasar tak jauh dari rumah ia pulang ke rumahnya untuk makan dan tidur, lumayan ada waktu 1 jam untuk waktu istirahat.

Setelah makan, ia merebahkan tubuhnya di karpet lusuh yang terhampar di ruang tamu rumahnya. Tak lama kemudian datanglah bapak Arman, Rusdi yang juga hendak menghabiskan waktu istirahat kerjanya dengan pulang ke rumah. Melihat Arman tertidur di lantai, seketika Pak Rusdi menendang kaki Arman hendak membangunkannya.

Namun ternyata Arman merasa terusik dan terganggu, ia merasa baru sekejap terlelap. Seketika kemarahan memuncak, ia segera terbangun dari tidurnya dan menuju ke dapur mengambil pisau. Kejadiannya begitu cepat, Arman dengan kalapnya menusukkan pisau ke tubuh bapaknya berkali-kali.

Tanpa sempat membela dan berteriak, seketika Pak Rusdi jatuh tersungkur bersimbah darah dan meninggal di tempat. Arman diam tertegun, matanya nanar menatap tubuh bapaknya yang terkapar bersimbah darah. Ibu yang saat itu ada di dapur segera berlari ke depan, betapa terkejutnya saat ia melihat bahwa suaminya bersimbah darah dan anaknya Arman memegang pisau yang berlumuran darah. Jeritan Ibu Arman segera mengundang warga.

Arman segera diamankan, ia terduduk lemas di pojok rumahnya. Beberapa saat kemudian ia baru menyadari perbuatannya, nasi telah menjadi bubur. Emosi sesaat telah menyebabkan ia tak dapat mengendalikan kemarahannya, bapaknya meninggal karena perbuatannya. Penyesalan tak ada artinya. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.