Kehilangan Surga

Keilangan Surga

Namanya Rahima. Di kampungnya, dia lebih dikenal dengan panggilan Ambu Ima. Orang  mengenalnya sebagai sosok perempuan tangguh. Figur seorang ibu yang rela berkorban demi anaknya.

Sejak muda dia telah menjadi orang tua tunggal. Dia diceraikan karena lebih menuruti kehendak orang tua daripada ikut suami. Orang tua menahannya untuk  tetap tinggal bersama mereka daripada membiarkan Ambu Imat mengikuti suaminya merantau ke luar Jawa.

Sejak menjanda, tidak sedikit lelaki yang mendekatinya. Namun tidak satu pun yang Ambu Ima beri hati. Dia tetap memilih menjanda. “Takut tidak bisa menyayangi Ayat,” begitulah dalihnya setiap menolak laki-laki yang berniat menikahinya. Orang tuanya pun tidak bisa memaksanya untuk kembali berumah tangga.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, Ambu Ima terus berjuang untuk menghidupi dirin dan anak kesayangannya itu. Ayat, itulah panggilan kesanyangan bagi Hidayat, anak lelaki semata wayangnya. Sayang, dia hanya mampu menyekolahkan Ayat hingga lulus SMP. Keterbatasan ekonomi telah membuat kandas harapan besarnya untuk menyekolahkan Ayat setinggi mungkin. Dia tidak terlalu mengharapkan bantuan mantan suaminya. Apalagi dia tahu jika mantan suaminya itu telah beristri lagi dan telah dikaruniai anak.

Selepas SMP, Ayat membantu ibunya mengurusi sawah warisan yang tidak seberapa luas. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama. Tanah garapannya diambil alih oleh kakak Ambu Ima yang merasa lebih berhak mewarisi sawah itu. Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, Ambu Ima pun kerja serabutan. Dia mulai ikut bekerja pada pemilik sawah yang sedang panen atau pekerjaan di sawah lainnya. Beruntung, Ada kerabat jauh Ambu Ima yang peduli. Ayat diberinya kesempatan untuk bekerja sebagai satpam di perusahaannya.

Semenjak Ayat bekerja, kehidupan mereka sedikit terangkat. Ambu Ima sudah jarang menerima pekerjaan sebagai buruh di sawah orang. Jika kerabatnya yang meminta bantuan saja, dia mau turun ke sawah. Itu pun diniatkan untuk sekadar membantu. Kalaupun pemilik sawah memberinya upah, maka dia akan menolaknya secara halus.

Waktu terus berganti. Ayat tumbuh menjadi pemuda tampan. Perawakannya tegap. Pantaslah banyak gadis yang terpaut hatinya. Pernah ada bidan desa yang mengontrak rumah di seberang rumah Ambu Ima yang terang-terangan mengharapkan Ayat menjadi suaminya. Tetapi Ayat menolaknya. Dia beralasan telah punya kekasih.

Ayat memang berkata jujur. Dia sudah memiliki kekasih yang masih duduk di bangku SMA. Aida namanya. Kekasihnya itu termasuk anak orang berada. Makanya, Ambu Ima sempat ragu akan kesungguhan Aida. Ambu Ima merasa kurang percaya diri untuk bermenantukan anak orang kaya.

Setelah Aida lulus, Ayat pun bersikeras melamarnya. Karena Aida juga bersikeras ingin menikah dengan Ayat, maka lamaran pun diterima. Tak lama kemudian, pernikahan mereka pun digelar. Pesta meriah digelar hingga dua kali. Selang beberapa hari setelah di tempat mempelai perempuan, pesta pun digelar di kediaman Ayat. Pengantin terlihat sangat bahagia. Akan tetapi, Ambu Ima terlihat murung. Desas-desus kurang baik mengenai perangai menantunya mulai memenuhi pikirannya.

Berdasarkan hasil rembugan pengantin dengan pihak orang tua, maka kedua pengantin tinggal di rumah orang tua mereka secara bergiliran. Misalnya, sebulan ini di rumah orang tua Ayat, maka bulan berikutnya di rumah orang tua Aida.

Waktu terus bergulir. Ayat dan Aida telah dikaruniai dua orang anak, yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Kondisi tubuh Ayat mulai ringkih. Dia mulai sakit-sakitan. Tubuhnya pun semakin kurus. Akhirnya, setelah berembug dengan istri dan orang tua dari kedua belah pihak, Ayat pun memilih berhenti bekerja sebagai satpam yang sering mendapat giliran jaga malam. Selanjutnya, Ayat memboyong keluarga kecilnya ke Bogor. Di situ mereka berniat memulai usaha kuliner di dekat tempat usaha orang tua Aida.

Usahanya di Bogor berkembang cukup pesat. Pelanggan mereka terus bertambah. Akan tetapi, ujian datang. Aida terkena serangan jantung. Beberapa hari dia di rawat di rumah sakit. Setelah kondisi Aida membaik, dengan persetujuan orang tua kedua belah pihak, Ayat memboyong keluarganya itu kembali ke kampung. Ayat memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya.

Sejak kembali ke kampung, Ayat terus berusaha mengobati istrinya. Sebagai jalan nafkah, dia pun menyewa kios untuk berjualan pakaian di pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampungnya.

Usaha yang dijalaninya lumayan mengalami kemajuan. Sayangnya, hasil penjualan pakaian banyak tersita untuk biaya pengobatan Aida. Sementara itu anak-anak mereka mulai memerlukan banyak biaya. Riri, si sulung sudah mulai kuliah. Tentu saja akan memerlukan banyak biaya. Untunglah, adik-adik Aida yang kini telah mapan membantu membiayai kuliah Riri.

Sejak mereka kembali ke rumah Ambu Ima, mulailah tersiar desas-desus bahwa Ambu Ima tak ubahnya pembantu bagi keluarga anaknya itu. Kabar itu pun yang menjadi obrolan dari kerabatnya yang tinggal tidak jauh dari rumah Ambu Ima.

“Kasian pisan si Ambu,” kata Bi Ameh suatu ketika.

“Memangnya kenapa, Bi?” tanya Rika, ponakan Bi Ameh yang sedang berkunjung. Rika tinggal di kabupaten lain. Jadi, dia tidak begitu mengetahui kabar mengenai Ambu Ima dan keluarganya.

“Nih ya, tiap pagi selalu saja menjerang air untuk mandi menantu dan cucu-cucunya. Selain itu, si Ambu juga yang menyiapkan sarapan bagi mereka. Pokoknya … si Ambulah yang meladeni mereka, “ kata Bi Ameh dengan wajah serius.

“Oh, gitu, Bi? Kayak pembantu ya?” tukas Rika. “Memang Kak Aidanya ke mana, Bi?” tanyanya lagi.

“Aida?” Bi Ameh mencibir. “Apa lagi sekarang ada alasan sedang sakit,” lanjutnya.

“Sakit apa, Bi?” Rika terlihat penasaran.

“Jantung,” jawab  Bi Ameh singkat.

“Ooh, jantung. Kalau jantung memang tidak boleh kecapean,” kata Rika.

“Jeeh, jantung tuh akhir-akhir ini. Sejak awal menikah juga terbiasa diladeni mertua,” Bi Ameh menjelaskan.

“Saya juga pernah dengar selentingan sih. Dulu … waktu mereka baru menikah. Aida itu manja, biasa diladeni. Untungnya si Ambu sabar.”

Hening sejenak.

Rika menyeruput teh untuk ke sekian kalinya. “Tapi, masa iya sih sampe sekarang masih manja? Apalagi sudah punya dua anak,” ujarnya.

“Sudah karakternya kayak gitu, kali?” gumam Bi Ameh. “Pernah sampai kabur lho si Ambu,” kata Bi Ameh setengah berbisik.

“Ah, masa iya!” Rika terperanjat. “Gimana ceritanya?” Rika mendekatkan wajahnya ke Bi Ameh.

“Si Ambu kan suka ke sini, curhat. Nah, pulangnya tuh suka dimarahi si Ayat. Dianggapnya si Ambu buang-buang waktu saja. Pernah juga si Ambu cerita. Si Ayat tuh melarang Ambu datang ke sini. Nambahi dosa katanya,” papar Bi Ameh.

“Oh sampe segitunya?” Rika geleng-geleng kepala.

“Nah, suatu ketika, entah pulang dari mana, si Ambu diomeli lagi. Si Ambu sepertinya tidak terima. Bertengkarlah mereka,” Bi Amehenyelang menyeruput dulu tehnya. ”Mungkin si Ambu sudah tidak tahan. Makanya dia mengadu ke si Tante. Tahu si Tante?” bertanya pada Rika. Rika hanya menjawab dengan gelengan kepala. “Si Tante tuh kerabat kita juga.” Bi Ameh menjelaskan.

“Lalu, gimana kelanjutannya?” tanya Rika.

“Hemmm… penasaran ya? Ga sabar mau tahu kelanjutannya ya, ha … ha … ha…,” Bi Amah sengaja mengulur-ulur ceritanya. Dia senang melihat wajah penasaran Rika.

“Ayo dong lanjutkan ceritanya, Bi. Bikin penasaran aja,” Rika memasang wajah cemberut.

“Si Tante marah saat tahu perlakuan Ayat pada si Ambu. Akhirnya dia membawa si Ambu ke rumah bibinya yang ada di kota. Bibinya kan orang kaya, perhatian juga pada saudaranya yang kesusahan. Sejak itulah si Ambu tinggal di kota,” Bi Ameh menjelaskan panjang lebar.

“Si Ayat tidak menyusul Ambu?” Rika masih terlihat penasaran.

“Tidak. Padahal sudah banyak yang menasihatinya agar menjemput si Ambu, lalu minta maaf. Tapi si Ayat bersikukuh bahwa ibunyalah yang salah. Ibunya dituding suka menjelek-jelekkan Aida dan keluarganya pada kerabat dan para tetangga. Makanya si Ayat selalu marah jika Ambu terlihat berkunjung ke rumah Bibi,” papar Bi Ameh lagi.

“Tahu dari mana dia kalau si Ambu ke sini untuk menjelekkan Aida dan keluarganya?” tanya Rika.

“Tuh, si Romlah tetangga kita suka kasak-kusuk menghasut Aida dan Ayat.”

Hening lagi.

“Apa ga merasa kangen gitu si Ayat ke ibunya?” tanya Rika tiba-tiba.

“Entahlah. Yang jelas si Ayat tuh pernah mengatakan bahwa dia kesal pada ibunya. Dia beranggapan, dengan pergi dari rumah lalu tinggal bersama kerabat di kota,  ibunya telah mempermalukannya. Makanya, dia sama sekali enggan menemui apalagi mengajak ibunya itu pulang,” jawab Bi Ameh.

“Sampe segitunya ya si Ayat. Kurang apa coba ibunya. Demi anaknya, dia tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Tapi apa balasannya sekarang?” Rika nampak geram. “Jangan-jangan, istrinya sakit-sakitan kayak gitu tuh akibat kualat. Durhaka pada mertua,” tambahnya.

“Yah … begitulah kasih anak, hanya sepanjang penggalah,” kata Bi Ameh dengan nada kesal. “Beda sekali dengan kasih ibu. Meskipun telah diperlakukan tidak selayaknya oleh keluarga anaknya, tetap saja dia kembali karena tidak bisa menahan kerinduannya. Padahal, kewajiban anak laki-laki pada orang tuanya tuh seumur hidup. ” tambahnya.

“Sekarang si Ambu ada di rumahnya?” Rika bertanya dengan nada heran.

“Iya. Kemarin dia pulang untuk melepas kerinduan katanya sih. Tapi, jika anak menantunya masih bersikap tidak ramah padanya, dia pun berniat kembali lagi ke kota.”  Bi Ameh menghentikan obrolannya. Dia menatap ke luar jendela.

Rika mengikuti arah tatapan Bi Ameh. Dilihatnya seorang perempuan paruh baya berjalan gontai menuju rumah Bi Ameh. Dialah Ambu Ima.

Meski usia Ambu Ima terbilang tidak muda lagi, namun kulitnya yang mulai keriput itu tidak bisa menyembunyikan gurat-gurat cantik yang masih tersisa. Sayangnya, gurat cantik itu tidak begitu terlihat karena tertutupi mendung yang selalu menyelimutinya. Aura bahagia sepertinya telah menghilang dari rona wajahnya. Kepiluan dan beban hidup tergambar pada sorot matanya yang tak lagi bening dan seindah dulu. Tubuhnya terlihat semakin kurus. Layaklah orang berpikiran bahwa hidupnya menderita. Dan itulah faktanya. ***

#WCR_ditentukan_cerpensinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.