Sekeping Hatikubawa Pergi


Sekeping Hati Kubawa Pergi

Endah Sulistiowati

“Dasar anak durhaka, tak tau diuntung, kamu seharusnya bersyukur Mama mau ngelahirin kamu”.

“Tau kamu gak bisa diurus kayak gini, digugurin aja waktu itu, bikin susah aja.”

Sumpah serapah mama nggak ada hentinya. Aku hanya bisa menangis di kamar, segera aku lepas baju serba merah nan mini, dandanan menor ala tante-tante.

Astagfirrullah, entah bagaimana marahnya Mami Moy ke Mama jika besok tahu aku melarikan diri dari laki-laki hidung belang yang ngeboking aku lewat dia.


Aku tahu, Mama tidak pernah menginginkan kehadiranku di dunia ini. Hamil dan melahirkan bagi seorang wanita tanpa suami adalah aib terburuk bagi Mama. Yaaa, Mama kebobolan, sebagai pekerja di dunia malam.

Mama pun tiga kali mencoba menggugurkan janinnya dengan meminum obat-obatan. Namun Allah berkehendak lain, janin itu terlalu kuat, dia masih melekat erat di rahim nya. Akhirnya terlahir bayi perempuan bernama Arin, dan itu… adalah aku.


Besok Mami Moy mencoba “menjual”ku lagi. Semua centengnya akan menjaga di depan pintu kamar dan jendela agar aku tidak melarikan diri lagi.

Ya Allah, Mama terlalu banyak tergantung sama Mami Moy. Sehingga apa yang dimintanya akan dipenuhi. Termasuk “menjual”ku.

“Ya Allah, hamba mu ini tidak ingin disebut anak durhaka. Tapi hamba tidak ingin terjerumus dosa. Hamba sangat menyayangi Mama, lindungilah Mama yaa Rob, sudilah Engkau mengeluarkan Mama dari dunia gelap ini. Berilah hamba jalan terbaik, agar hamba juga tidak masuk kedalam kesesatan.

“Sesungguhnya didalam kesusahan itu ada kemudahan.”

“Allah tidak akan membebani masalah diluar kemampuan hambanya.”

Bismillah, aku yakin Allah pasti menolongku.

Aku akhiri sujud panjang malam ini. Mantap. Aku pecah celengan hasil menabung dari jualan pernak-pernik sekolah. Beberapa potong baju, seragam, mukena, alat mandi kumasukkan tas sekolah.

Kubungkus rapat tubuhku, celana panjang, jaket, kerudung. Setelah selesai menulis surat untuk Mama, meloncat dari jendela adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari dosa.

“Maafkan Arin, Ma. Arin tidak mau jadi anak durhaka, tapi Arin lebih takut jika Allah murka. Arin akan menjemput Mama, jika Arin telah Allah mampukan untuk bertemu Mama lagi.”
Bisikku pelan.

***

Email enliseksus@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.