Durhaka turunan

::Durhaka Turunan::

Siapa yang tak sayang anak?

Tentu semua orangtua sayang dengan anak. Apalagi yang terlahir dari rahimnya. Bagaimanapun rupa dan keadaan fisiknya, orangtua pasti tetap memberikan kasih sayang untuk anak-anaknya. Karena di dalam tubuh anak, mengalir darah orangtua.

Betapa sukacita orangtua telah terlihat sejak benih calon anak tersemai dalam diri sang ibu. Segala bentuk perhatian tercurahkan kepada calon buah hati. Pun ketika anak lahir, bentuk perhatian orangtua semakin besar.

Ketika anak mulai tumbuh dengan berbagai tingkah polahnya, yang kadang membuat gemas atau meringis. Namun saat anak tumbuh besar, ada saja perilakunya yang luar biasa membuat orangtua tercengang.

Ada kata-kata yang telah menjadi guyonan turun-temurun. Tak kala melihat seorang anak berperilaku yang kurang baik, orang akan menisbatkan kepada orangtuanya. “Oh pantas saja anaknya begitu, dulu ayahnya atau ibunya mungkin seperti itu”. Semestinya kata-kata itu tak layak terucap.

Apakah anak yang berlaku tak baik hingga menjadi sebuah kedurhakaan adalah keturunan sebab ayah atau ibunya?

Sungguh kedurhakaan bukanlah sebab turunan. Tidak baiknya sikap dan tingkah laku anak, bergantung bagaimana orangtua mendidiknya.

Ada anak yang terlahir dalam keluarga berpendidikan, terhormat, namun tidak membawa pengaruh yang baik kepada anak. Ada pula anak yang terlahir dari orangtua yang tidak berpendidikan atau penjahat, namun anaknya berperilaku santun.

Sesungguhnya kedurhakaan anak di dalam alquran digambarkan dengan peringatan, “Jangan berkata ‘ah’ kepada orangtua”. Berkata ‘ah’ saja sudah tidak dibolehkan apalagi lebih dari itu.

Sebagai orangtua selayaknya berhati-hati pula, bahwa dalih kasih sayang bisa menyebabkan seorang anak menjadi durhaka. Dan bukan karena keturunan orangtuanya.

Tak ada durhaka turunan. Oleh karena itu, tanamkan nilai-nilai agama sejak di dalam rahim ibu. Didik dan bekali anak dengan pemahaman agama yang baik hingga pondasi akhlaknya kuat sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat.

Semoga tak ada lagi anak-anak yang durhaka atau dicap sebagai durhaka sebab keturunan.

Wallahu a’lam.

rumahmediagroup//afafaulia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.